Pengalaman Radja Nainggolan Menjalani Kehidupan di Indonesia hingga Ramadan

Pengalaman Radja Nainggolan Menjalani Kehidupan di Indonesia hingga Ramadan

Jakarta | Radja Nainggolan mengenang masa ketika menjalani kehidupan sekaligus berkarier di Indonesia pada 2023 hingga 2024. Mantan pemain Bhayangkara FC tersebut mengungkapkan bahwa kesehariannya di Jakarta menghadirkan pengalaman yang berbeda dari perjalanan profesionalnya di Eropa. Setelah lama berkiprah di kompetisi elite, termasuk Liga Italia, ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, kebiasaan, dan ritme hidup yang baru.

Dalam wawancara yang dikutip dari Nieuwsblad, Radja menjelaskan bahwa proses adaptasi tidak berlangsung seketika. Perbedaan Indonesia dan Eropa terlihat dalam berbagai hal sederhana, mulai dari cara masyarakat menjalani aktivitas sehari-hari hingga suasana kota yang ia temui. Jakarta, dengan kepadatan dan dinamika warganya, memberikan kesan tersendiri bagi pemain berdarah Batak tersebut selama tinggal di ibu kota.

Pengalaman itu tidak hanya berkaitan dengan lapangan sepak bola. Radja juga mengenang interaksinya dengan masyarakat, kegiatan di luar pertandingan, serta upayanya memahami budaya setempat. Ia menemukan bahwa kehidupan di Indonesia memiliki karakter yang lebih beragam dibandingkan lingkungan yang sebelumnya akrab baginya di Eropa. Perbedaan tersebut menjadi bagian penting dari cerita selama membela Bhayangkara FC dan menetap di Jakarta.

Pengalaman menjalani Ramadan di Indonesia turut memperkaya pemahamannya terhadap kehidupan lokal. Momen tersebut memperlihatkan tradisi dan kebiasaan masyarakat yang mungkin tidak ia jumpai dalam kesehariannya di Eropa. Bagi Radja, masa tinggal di Jakarta menjadi fase yang penuh penyesuaian, tetapi sekaligus membuka kesempatan untuk mengenal Indonesia secara lebih dekat. Kisahnya menggambarkan bagaimana seorang pesepak bola internasional menghadapi perubahan besar di luar rutinitas olahraga.

Radja Nainggolan menceritakan bahwa kehidupan di Jakarta menghadirkan rutinitas yang berbeda dari kebiasaannya ketika tinggal di Eropa. Ia menetap di lantai 28 sebuah gedung di ibu kota, sehingga sebagian besar aktivitas hariannya berlangsung dalam suasana perkotaan yang dinamis. Salah satu kebiasaan yang masih ia pertahankan adalah berkomunikasi dan bermain PlayStation secara daring bersama teman-temannya di Belgia. Aktivitas tersebut menjadi cara baginya untuk tetap terhubung dengan lingkungan pertemanan yang telah dikenalnya sejak lama.

Namun, perbedaan waktu Indonesia dan Belgia membuat jadwal komunikasi itu berlangsung pada waktu yang tidak biasa bagi Radja. Ketika di Eropa sudah menunjukkan pukul 22.00, waktu di Indonesia telah memasuki pukul 05.00. Dengan selisih waktu tersebut, teman-temannya baru memiliki waktu luang pada saat Radja berada di penghujung malam dan menjelang pagi. Karena itu, ia sering kali baru dapat berbincang atau bermain bersama mereka ketika sebagian besar orang di Jakarta sudah beristirahat.

Situasi tersebut membuat Radja terbiasa berada di depan layar hingga dini hari. Dari tempat tinggalnya di lantai 28, ia menjalani pertandingan daring sambil mengikuti percakapan bersama teman-temannya yang berada jauh di Eropa. Pengalaman itu sekaligus memperlihatkan bagaimana perbedaan zona waktu memengaruhi kegiatan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk waktu bermain dan bersosialisasi secara virtual. Pada suatu dini hari, ketika masih bermain PlayStation, Radja mulai mendengar suara azan subuh dari lingkungan sekitar. Suara itu menjadi penanda bahwa malam telah berakhir dan pagi di Jakarta segera dimulai, meskipun aktivitas daringnya bersama teman-teman di Belgia belum lama selesai.

Radja Nainggolan menceritakan salah satu pengalaman yang ia rasakan selama tinggal di Jakarta, yaitu ketika azan subuh terdengar dari banyak masjid di sekitar tempat tinggalnya. Menurut pengalamannya, suara azan tersebut dapat berkumandang secara bersamaan dari sekitar 50 masjid. Masjid-masjid itu disebut berada di berbagai sudut kawasan, sehingga suara azan datang dari sejumlah arah dan terdengar hampir bersamaan. Bagi Radja, situasi tersebut menjadi bagian dari suasana kehidupan sehari-hari yang ia temui di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa suara azan subuh itu terkadang membuatnya sulit untuk kembali tidur. Hal tersebut terutama dirasakan setelah ia bermain atau menghabiskan waktu berkomunikasi dengan teman-temannya di Belgia hingga larut malam. Ketika suara azan mulai terdengar dari berbagai masjid, waktu istirahatnya pun dapat terganggu karena ia masih berada dalam kondisi lelah setelah menjalani aktivitas sebelumnya. Pengalaman itu ia sampaikan sebagai gambaran mengenai perbedaan suasana yang ia rasakan ketika berada di Jakarta dibandingkan dengan kebiasaannya di tempat lain.

Namun, cerita tersebut tidak disampaikan sebagai keluhan menyeluruh terhadap kehidupan di Indonesia. Radja hanya menggambarkan bagaimana banyaknya masjid di sekitar tempat tinggalnya membuat azan subuh terdengar dari berbagai arah secara bersamaan. Suara dari sekitar 50 masjid itu menjadi salah satu hal yang menarik perhatiannya selama menjalani kehidupan di Jakarta, khususnya ketika ia perlu beristirahat setelah pertandingan atau percakapan malam dengan teman-temannya di Belgia. Dengan demikian, pengalaman tersebut memperlihatkan sisi keseharian Radja dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang memiliki suasana religius dan karakter perkotaan yang berbeda.

Berbagai pengalaman yang dijalani Radja Nainggolan selama tinggal di Indonesia tidak membuatnya merasa tidak nyaman. Pemain berdarah Indonesia-Belgia itu justru mengaku menikmati kebiasaan masyarakat setempat, terutama selama berada di Jakarta. Menurutnya, kehidupan di ibu kota memberikan suasana yang berbeda dari negara-negara Eropa yang pernah menjadi tempatnya berkarier. Interaksi dengan masyarakat, budaya sehari-hari, serta kebiasaan lokal menjadi bagian menarik dari pengalamannya selama berada di Indonesia.

Salah satu momen yang paling berkesan bagi Radja terjadi ketika Ramadan. Ia ikut bangun pada pagi hari untuk makan bersama sebelum menjalani aktivitas, mengikuti kebiasaan umat Muslim selama bulan puasa. Bagi Radja, pengalaman tersebut terasa menyenangkan dan spesial karena memberinya kesempatan untuk lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat Indonesia. Meskipun tidak menjalankan seluruh rangkaian ibadah puasa, ia tetap menghargai suasana Ramadan dan kebersamaan yang muncul di tengah keluarga maupun lingkungan sekitar.

Pengalaman itu juga memperlihatkan bahwa kehadiran Radja di Indonesia tidak semata-mata berkaitan dengan sepak bola. Ia dapat beradaptasi dengan lingkungan baru dan menemukan hal-hal sederhana yang meninggalkan kesan mendalam. Kebiasaan makan bersama pada waktu sahur, misalnya, menjadi kenangan yang menunjukkan keterbukaannya terhadap budaya lokal. Sikap tersebut membuat masa tinggalnya di Jakarta terasa lebih berwarna, sekaligus memperkaya pandangannya mengenai kehidupan masyarakat Indonesia.

Radja datang ke Indonesia setelah sempat mempertimbangkan untuk pensiun dari sepak bola. Ia kemudian bergabung dengan Bhayangkara FC dan mendapat kesempatan melanjutkan kariernya di kompetisi nasional. Bersama klub tersebut, ia mencatatkan 10 penampilan, mencetak satu gol, serta menyumbangkan tiga assist. Kontraknya bersama Bhayangkara FC berakhir pada Juni 2024, tetapi pengalaman selama berada di Indonesia, termasuk momen-momen saat Ramadan, tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup dan kariernya.

Baca juga: Peluncuran Toko Pengalaman Robot Cerdas Pertama di Indonesia