PROBOLINGGO – Dugaan insiden kekerasan terhadap seorang siswa kelas 5 SDN Tulupari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, menjadi perhatian publik.
Siswa berinisial HK disebut mengalami cedera setelah diduga mendapat pukulan dari arah belakang hingga kepalanya mengenai bangku. Insiden tersebut juga disebut mengakibatkan salah satu gigi korban patah.
Berdasarkan informasi yang diterima media ini, pihak keluarga mendapat keterangan bahwa kondisi gigi korban mengalami kerusakan dan disebut tidak dapat tumbuh kembali.
Dalam informasi yang beredar, dugaan tindakan tersebut melibatkan seorang guru berinisial DK. Namun, informasi tersebut masih dalam tahap konfirmasi dan pendalaman. Media ini tidak bermaksud menyimpulkan bahwa pihak yang disebut telah melakukan pelanggaran sebelum adanya klarifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut.
Pihak sekolah sebelumnya disebut telah mengetahui kejadian tersebut. Kepala SDN Tulupari juga dikabarkan telah mendatangi rumah siswa sebagai bentuk tanggung jawab dan upaya penyelesaian secara kekeluargaan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, Hari C, menjadi pihak yang memberikan respons atas konfirmasi media ini.
Hari menyampaikan bahwa pihaknya sejauh ini baru mendapatkan informasi mengenai kejadian tersebut beberapa waktu lalu.
Menurutnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan koordinasi dengan Korwil. Pihak sekolah juga disebut telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait dan mendatangi rumah siswa.
“Sampai saat ini kami sebatas mendapat informasi beberapa waktu yang lalu. Kami telah koordinasi dengan Korwil dan menyampaikan telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait ke rumah korban,” ujar Hari saat dikonfirmasi, Minggu (4/10/26)
Hari mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan klarifikasi terhadap guru yang bersangkutan bersama pihak-pihak terkait.
“Rencana dalam minggu ini kami akan melakukan klarifikasi kepada guru tersebut dengan pihak-pihak terkait,” katanya.
Setelah proses klarifikasi, lanjut Hari, pihak dinas akan melakukan evaluasi untuk menentukan langkah dan solusi selanjutnya.
“Evaluasi akan kami lakukan setelah klarifikasi untuk pelaksanaan langkah dan solusi lebih lanjut,” jelasnya.
Sementara itu, untuk memenuhi prinsip keberimbangan dan memberikan hak jawab, Media ini telah menghubungi Kepala SDN Tulupari dan guru yang disebut berinisial DK/Didik melalui pesan WhatsApp pada Minggu (4/10/2026).
Hingga berita ini diterbitkan pada Senin (5/10/2026), pesan konfirmasi tersebut telah menunjukkan tanda centang dua, namun belum mendapatkan respons dari kedua pihak.
Konfirmasi yang disampaikan kepada pihak sekolah dan guru tersebut antara lain berkaitan dengan kronologi kejadian, kondisi siswa, dugaan keterlibatan guru, serta langkah yang telah dilakukan setelah insiden.
Media ini tetap membuka ruang bagi Kepala SDN Tulupari maupun guru yang bersangkutan untuk memberikan klarifikasi, bantahan, ataupun penjelasan mengenai kejadian tersebut.
Pemberitaan ini juga tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. Penyebutan dugaan keterlibatan guru berinisial DK/Didik bukan merupakan kesimpulan bahwa yang bersangkutan terbukti melakukan tindakan kekerasan.
Dengan adanya rencana klarifikasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, publik kini menunggu hasil pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait.
Persoalan tersebut menjadi perhatian karena menyangkut lingkungan pendidikan dan kondisi seorang siswa. Penanganan yang transparan, objektif, serta mengutamakan kepentingan dan perlindungan anak diharapkan dapat dilakukan oleh pihak terkait.
Media ini akan terus mengikuti perkembangan persoalan tersebut, termasuk hasil klarifikasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo serta tanggapan dari pihak sekolah dan guru yang bersangkutan. (Redaksi/**)
Bersambung.

