Kota Tomohon | Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan bahwa aktivitas Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, pada 1–15 Oktober 2026 didominasi oleh gempa vulkanik dangkal. Temuan tersebut menggambarkan jenis kejadian yang paling menonjol selama rentang pemantauan tersebut, bukan hanya pengamatan pada satu hari tertentu. Periode dua pekan ini menjadi dasar laporan yang disampaikan kepada pihak terkait.
Informasi mengenai aktivitas Lokon itu disampaikan Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam laporan yang dibagikan melalui grup percakapan BMKG dan para pemangku kepentingan di Manado. Penyebaran melalui kanal tersebut membuat ringkasan pemantauan dapat diterima oleh instansi dan pihak yang berkepentingan terhadap perkembangan gunung api di wilayah Sulawesi Utara. Laporan itu secara khusus mencakup kondisi pada 1 hingga 15 Oktober 2026.
Gempa vulkanik dangkal merupakan bagian dari jenis kejadian seismik yang dicatat dalam pemantauan gunung api. Dalam laporan kali ini, dominasi kejadian tersebut menjadi temuan utama yang perlu dicermati ketika membaca gambaran aktivitas Lokon selama paruh pertama Oktober. Penyebutan rentang waktu secara jelas penting karena catatan kegempaan dapat berubah dari satu periode ke periode berikutnya, sehingga laporan ini tidak serta-merta mewakili kondisi di luar tanggal yang dicakup.
Dengan demikian, informasi yang tersedia merujuk pada hasil pemantauan selama 15 hari, mulai 1 Oktober dan berakhir 15 Oktober 2026. Badan Geologi menyampaikan bahwa gempa vulkanik dangkal menjadi kelompok kejadian yang mendominasi dalam periode tersebut. Keterangan itu menjadi pokok laporan yang dibagikan Lana Saria kepada BMKG dan pemangku kepentingan di Manado. Rincian mengenai perkembangan setelah 15 Oktober tidak termasuk dalam rentang data yang dibahas di sini, sehingga penilaian atas aktivitas pada waktu selanjutnya memerlukan pembaruan pemantauan tersendiri.
Selama periode pemantauan pada awal Oktober, aktivitas Gunung Lokon tercermin dalam beberapa jenis catatan kegempaan yang perlu dibedakan. Petugas merekam 189 gempa embusan, 12 gempa vulkanik dalam, tiga gempa yang dirasakan dengan intensitas I MMI, serta 52 gempa tektonik jauh. Angka-angka tersebut menunjukkan jumlah kejadian pada kategori masing-masing, bukan satu ukuran yang dapat dijumlahkan atau dipertukarkan maknanya. Gempa embusan berkaitan dengan pelepasan gas atau tekanan di sekitar kawah, sedangkan gempa vulkanik dalam mengindikasikan sumber getaran yang lebih jauh di bawah tubuh gunung. Gempa tektonik jauh berasal dari aktivitas tektonik di luar kawasan gunung.
Dalam keseluruhan gambaran kegempaan, gempa vulkanik dangkal menjadi jenis aktivitas yang paling dominan. Sebaliknya, gempa vulkanik dalam hanya jarang terekam, dengan jumlah 12 kejadian pada periode tersebut. Perbedaan ini penting untuk membaca kondisi gunung secara cermat: banyaknya catatan embusan tidak berarti jumlah gempa vulkanik dalam meningkat, dan tiga gempa yang terasa pada skala I MMI tetap merupakan kategori tersendiri. Demikian pula, 52 gempa tektonik jauh dicatat terpisah dari kejadian yang berkaitan langsung dengan aktivitas vulkanik Lokon. Pemisahan kategori membantu mencegah kesimpulan keliru mengenai intensitas atau sumber setiap getaran.
Pengamatan visual melengkapi data seismik. Dari kawah terlihat embusan asap putih tipis, dengan ketinggian maksimum sekitar 150 meter di atas kawah. Ciri asap yang tampak tipis tersebut merupakan hasil pemantauan visual, sedangkan angka ketinggian menunjukkan jangkauan tertingginya selama pengamatan; keduanya tidak mengubah klasifikasi maupun jumlah gempa yang tercatat. Dengan demikian, laporan periode ini memuat dua jenis informasi: rekaman kegempaan berdasarkan kategori kejadian dan kondisi permukaan yang terlihat dari kawah. Membaca keduanya secara bersamaan memberi gambaran yang lebih lengkap, tanpa menyamakan embusan asap dengan gempa embusan atau menganggap seluruh angka sebagai ukuran aktivitas yang sama.
Evaluasi aktivitas Gunung Lokon berdasarkan pengamatan visual dan rekaman seismik hingga 15 Oktober 2026 belum menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik. Dengan demikian, perubahan yang tampak pada salah satu parameter pemantauan perlu dibaca bersama data lainnya dan tidak serta-merta ditafsirkan sebagai tanda bahwa erupsi akan segera terjadi. Pemantauan berkelanjutan tetap diperlukan untuk mengenali perubahan kondisi gunung secara lebih menyeluruh.
Data RSAM memperlihatkan pola energi yang meningkat sejak 24 Agustus hingga 15 Oktober 2026. Berdasarkan evaluasi yang dilaporkan, kenaikan tersebut bersumber dari gempa-gempa permukaan. Informasi ini menggambarkan perubahan energi yang terekam selama periode pemantauan, tetapi tidak mengubah penilaian bahwa data visual dan seismik secara keseluruhan belum memperlihatkan peningkatan aktivitas vulkanik. Karena itu, perkembangan berikutnya perlu dinilai berdasarkan rangkaian pengamatan terbaru, bukan hanya satu indikator.
Meski belum teramati peningkatan aktivitas, potensi bahaya di sekitar gunung tetap perlu diperhatikan. Gas beracun dapat keluar dari kawah sewaktu-waktu, sehingga masyarakat dan pengunjung hendaknya tidak mendekati kawasan kawah atau memasuki area yang dibatasi. Laporan juga menyebut kemungkinan terjadinya erupsi freatik secara mendadak. Peristiwa semacam ini dapat berlangsung tanpa tanda yang cukup untuk memberi waktu persiapan panjang, sehingga kepatuhan terhadap arahan petugas dan informasi resmi menjadi penting.
Warga yang tinggal atau beraktivitas di sekitar alur sungai yang berhulu dari puncak juga perlu mewaspadai lahar. Risiko tersebut terutama perlu diperhatikan ketika memasuki musim hujan, serta saat hujan deras turun dalam durasi lama di kawasan puncak. Hindari berada di dasar sungai maupun di tepi aliran ketika kondisi cuaca memburuk, dan segera menjauh apabila air berubah keruh, aliran meningkat, atau terdengar suara gemuruh. Masyarakat disarankan mengikuti pembaruan informasi dari pihak berwenang, memperhatikan imbauan setempat, serta menyiapkan langkah keselamatan bagi keluarga tanpa mendekati kawah maupun alur sungai yang berpotensi dilalui lahar.
Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi terhadap aktivitas Gunung Lokon hingga 15 Oktober 2026, tingkat aktivitas gunung api tersebut berada pada Level II atau . Status ini menjadi dasar bagi rekomendasi yang disesuaikan dengan potensi ancaman terkini. Masyarakat dan pihak terkait diharapkan memperhatikan ketentuan yang berlaku selama tingkat aktivitas tersebut, khususnya pembatasan di sekitar Kawah Tompaluan. Rekomendasi ini ditujukan untuk mengurangi paparan terhadap potensi bahaya di area yang dinyatakan terbatas, bukan untuk menyatakan bahwa letusan pasti akan terjadi. Informasi mengenai status dan rekomendasi perlu dipahami secara cermat oleh warga maupun orang yang datang ke kawasan Gunung Lokon.
Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki dilarang melakukan aktivitas atau mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan. Batas tersebut berlaku bagi seluruh kelompok yang disebutkan, baik yang tinggal di sekitar gunung maupun yang datang untuk berkunjung atau mendaki. Karena itu, kegiatan apa pun yang mengharuskan seseorang memasuki atau menghampiri kawasan dalam radius tersebut tidak sesuai dengan rekomendasi yang berlaku. Pembatasan ini merupakan bagian dari langkah kewaspadaan berdasarkan potensi ancaman terkini dan tingkat aktivitas Gunung Lokon. Setiap orang perlu menghormati radius yang telah ditetapkan dan tidak menjadikan kunjungan, wisata, ataupun pendakian sebagai alasan untuk mendekati Kawah Tompaluan.
Apabila terjadi letusan dan hujan abu, warga diimbau tetap berada di dalam rumah. Jika sedang berada di luar rumah ketika abu turun, gunakan masker untuk melindungi hidung dan mulut, serta kacamata untuk melindungi mata. Panduan tersebut secara khusus mencakup perlindungan bagi saluran pernapasan dan mata saat menghadapi hujan abu. Warga yang berada di dalam rumah diminta tetap berada di dalam, sedangkan mereka yang berada di luar diimbau memakai kedua perlengkapan pelindung yang disebutkan.





