Kabupaten Kotabaru | BNPB mencatat sekitar 3.392 hektare lahan dan hutan di Kalimantan masih dalam proses pemadaman ketika laporan disampaikan. Angka tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di sejumlah wilayah, dengan luas terdampak yang berbeda-beda. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan cakupan terbesar, yakni sekitar 2.458 hektare. Sementara itu, kebakaran di Kalimantan Barat tercatat meliputi sekitar 884 hektare, dan di Kalimantan Selatan sekitar 52 hektare. Rincian ini menggambarkan sebaran area yang masih membutuhkan upaya pemadaman, bukan jumlah total kebakaran sepanjang periode tertentu.
Menurut keterangan BNPB, api di area-area tersebut belum padam sepenuhnya pada saat data disampaikan. Karena itu, luas yang dilaporkan perlu dipahami sebagai lahan yang masih berada dalam proses penanganan. Informasi yang tersedia menyebut lokasi dan besaran area terdampak, tetapi tidak menjelaskan penyebab kebakaran. Dengan demikian, tidak tepat untuk menyimpulkan apakah api bermula dari faktor alam, aktivitas manusia, atau sebab lain hanya berdasarkan angka sebaran tersebut. Data mengenai penyebab memerlukan keterangan tersendiri dari pihak berwenang atau hasil penyelidikan yang relevan.
Berton SP Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyampaikan bahwa upaya penanganan melibatkan pemerintah pusat dan daerah bersama para relawan. Kerja bersama itu diarahkan untuk menangani titik-titik api yang masih aktif di wilayah terdampak. Selain pemadaman di lapangan, pemerintah juga melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menggunakan dry ice sebagai bagian dari langkah penanganan. Keterangan tersebut menegaskan bahwa respons dilakukan melalui beberapa unsur, meski laporan tidak merinci hasil setiap tindakan maupun perubahan luas kebakaran setelah operasi berlangsung. Selama api belum padam, perkembangan kondisi dan upaya pemadaman di tiap provinsi tetap menjadi perhatian dalam penanganan karhutla Kalimantan.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung mengandalkan operasi terpadu melalui jalur darat dan udara. Kedua pendekatan tersebut digunakan untuk menjangkau titik api, mendukung upaya pemadaman, serta memperkuat pengawasan di wilayah terdampak. Di darat, pengerahan personel mencakup enam provinsi, dengan jumlah keseluruhan mencapai 57.050 orang. Besarnya dukungan ini mencerminkan kebutuhan kerja lapangan yang luas, sementara operasi udara turut dikerahkan sebagai bagian dari respons penanganan karhutla.
Rincian personel yang disampaikan menunjukkan Kalimantan Tengah mengerahkan 16.387 orang, disusul Kalimantan Barat sebanyak 14.458 personel. Di Sumatera Selatan, jumlah yang dikerahkan tercatat 12.285 orang, sedangkan Kalimantan Selatan melibatkan 7.927 personel. Jambi menurunkan 5.984 orang dan Lampung sembilan orang. Angka-angka tersebut merupakan total personel darat dari enam provinsi dalam rincian yang disampaikan, bukan jumlah armada atau personel udara. Perbedaan jumlah antardaerah menggambarkan alokasi dukungan yang dilaporkan untuk operasi pemadaman di masing-masing wilayah.
Selain tenaga lapangan, perlengkapan pendukung menjadi bagian penting dari upaya pemadaman. Berton menyebut selang pemadam dan selang hisap, nozel, sepatu bot, pompa portabel, pompa punggung, pemukul api, serta radio komunikasi. Peralatan tersebut menunjang kebutuhan petugas ketika bekerja di lokasi, termasuk untuk mengalirkan air, memadamkan api, menjaga keselamatan, dan berkoordinasi. Dari udara, dukungan disediakan melalui 61 unit armada. Sebanyak 24 unit dialokasikan untuk patroli, CASA, dan OMC, sementara 37 unit lainnya merupakan helikopter water bombing. Komposisi ini menunjukkan operasi udara terdiri atas beragam dukungan, dengan helikopter water bombing sebagai bagian tersendiri dari total armada. Perpaduan personel, peralatan, dan armada udara menjadi unsur utama dalam kegiatan pemadaman yang terus berjalan di enam provinsi tersebut.
Operasi modifikasi cuaca (OMC) terus dilakukan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Hingga 23 Oktober 2026, pelaksanaan operasi tercatat mencapai 15 sortie dengan total 14.300 kilogram bahan semai. Kegiatan berlangsung di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, dengan upaya yang disesuaikan terhadap kondisi cuaca serta pemantauan di wilayah sasaran.
Di Kalimantan Tengah, OMC telah dilaksanakan sebanyak delapan sortie dengan penggunaan 7.200 kilogram bahan semai. Jumlah tersebut terdiri atas 5.200 kilogram dry ice dan 2.000 kilogram natrium klorida. Meski operasi telah dilakukan, hingga laporan pada 23 Oktober belum ada laporan hujan di wilayah sasaran. Karena itu, perkembangan kondisi cuaca dan dampak operasi masih perlu dipantau, terutama untuk mengetahui apakah hujan dapat turun di area yang membutuhkan penanganan.
Sementara itu, di Sumatera Selatan tercatat tujuh sortie dengan total 7.100 kilogram bahan semai. Pemantauan di wilayah tersebut menunjukkan jarak pandang membaik menjelang siang. Perubahan jarak pandang menjadi salah satu kondisi yang diperhatikan dalam pemantauan lapangan, meskipun informasi tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab perubahan ataupun memastikan kebakaran telah padam. Pelaksanaan OMC juga merupakan bagian dari upaya penanganan, sehingga hasilnya perlu dibaca bersama laporan kondisi kebakaran dan cuaca setempat.
BNPB mencatat total 990 hektare lahan terdampak karhutla di Sumatera. Sebagian besar berada di Sumatera Selatan, yakni 889 hektare. Selain itu, 89 hektare tercatat di Jambi dan sekitar 12 hektare berada di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung. Angka tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran tersebar di beberapa wilayah dengan luasan yang berbeda. Adapun pemantauan BNPB tidak menunjukkan adanya pemadaman karhutla di Riau. Dengan demikian, perhatian dalam laporan ini tertuju pada pelaksanaan OMC di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, serta pendataan lahan terdampak di sejumlah provinsi Sumatera.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Barat diarahkan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan, dengan sasaran wilayah Sekadau, Ketapang, dan Sintang. Pada 23 Oktober, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dilaporkan turun di tujuh kabupaten di provinsi tersebut, termasuk ketiga wilayah sasaran OMC. Sementara itu, di Kalimantan Selatan, hujan pada tanggal yang sama tercatat di Kabupaten Kotabaru. Curah hujan tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki kondisi di lapangan, meskipun penanganan titik api tetap membutuhkan kegiatan pemadaman secara langsung.
Pelaksanaan OMC tidak dilakukan dengan pola yang seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan kebutuhan masing-masing wilayah. Pertimbangan itu diperlukan agar operasi dapat mendukung upaya pengendalian kebakaran secara tepat, baik melalui pemadaman darat maupun pemadaman udara. Perubahan cuaca dan sebaran api terus menjadi perhatian dalam menentukan langkah berikutnya. Karena itu, kegiatan modifikasi cuaca berjalan berdampingan dengan pemantauan serta pengerahan sumber daya di lokasi terdampak, sehingga dukungan terhadap penanganan kebakaran dapat mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.
Di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, tercatat 34 titik kebakaran, dengan area seluas 16 hektare yang masih belum padam. Pemantauan dilakukan menggunakan drone termal dan pos pantau darat untuk membantu mengenali kondisi titik api. Petugas juga memanfaatkan pompa jinjing serta instalasi selang air sepanjang hampir tiga kilometer guna menyalurkan air ke titik-titik kritis. Peralatan tersebut mendukung upaya pemadaman di kawasan yang membutuhkan penanganan langsung dan pemantauan berkelanjutan.
Penanganan kebakaran juga masih berlangsung di kawasan Arjuno-Welirang, Jawa Timur. Upaya dilakukan melalui koordinasi antarpihak serta penyisiran wilayah terdampak untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan penanganan. Pemantauan terus dilaksanakan, sementara prioritas pemadaman ditentukan dengan mempertimbangkan perkembangan kebakaran dan potensi penjalaran api. Langkah tersebut diperlukan agar perubahan situasi dapat diantisipasi dan pengerahan upaya penanganan dapat difokuskan pada area yang dinilai paling membutuhkan perhatian.
Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Dalam Waktu Sepekan, Kodim Bojonegoro Salurkan 800 Ribu Liter Air Bersih ke Warga di 34 Desa Terdampak Kekeringan | Inisiatif Baru untuk Pengelolaan Gambut dan Pencegahan Karhutla di Indonesia






