Kabupaten Lombok Tengah | Kepala Dinas Kebudayaan Nusa Tenggara Barat, Muhamad Ihwan, menyebut gotong royong masyarakat adat sebagai kunci yang mempercepat pemulihan Kampung Adat Sade. Kawasan yang berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, dibangun kembali melalui keterlibatan warga setempat. Mereka bekerja bersama untuk memulihkan lingkungan kampung, termasuk rumah-rumah adat yang menjadi bagian penting dari kehidupan dan identitas masyarakat Sade. Menurut Ihwan, semangat kebersamaan tersebut membuat proses pembangunan dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan apabila pekerjaan hanya mengandalkan tenaga dari luar komunitas.
Keterlibatan warga tidak terbatas pada kalangan dewasa. Anak-anak muda juga ikut turun bekerja dalam pembangunan kembali kawasan tersebut. Partisipasi lintas generasi ini menunjukkan bahwa pemulihan kampung merupakan usaha bersama, sekaligus memberi ruang bagi generasi penerus untuk terlibat langsung dalam merawat lingkungan adat mereka. Dalam pandangan Ihwan, kehadiran warga di lokasi pekerjaan memperkuat kerja sama dan membantu memastikan pembangunan berjalan dengan pengetahuan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Gotong royong pun bukan sekadar cara untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi warga terhadap keberlanjutan kampung.
Ihwan menilai kecepatan pembangunan juga memperlihatkan bahwa keterampilan tradisional untuk membuat rumah adat masih dikuasai oleh masyarakat. Pengetahuan mengenai cara membangun rumah tidak hilang, melainkan terus digunakan dan diwariskan antargenerasi. Ketika warga dan anak-anak muda bekerja bersama, keterampilan tersebut dapat dipraktikkan secara langsung, bukan hanya disampaikan sebagai pengetahuan lisan. Proses ini memberi kesempatan kepada generasi muda untuk belajar dari pengalaman dan kemampuan warga yang lebih dahulu menguasai teknik pembangunan rumah adat. Dengan demikian, pemulihan Kampung Adat Sade berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan pengetahuan budaya setempat.
Selain kerja bersama warga yang tinggal di Kampung Adat Sade, dukungan bagi pemulihan juga datang dari kerabat yang menetap di luar dusun. Mereka menyumbangkan kayu-kayu tua berusia ratusan tahun untuk digunakan sebagai penopang bangunan. Bantuan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi masyarakat dalam proses rekonstruksi, sekaligus menunjukkan bahwa upaya memulihkan kampung dapat melibatkan keluarga dan kerabat yang berada di tempat lain.
Kayu yang disumbangkan memiliki peran praktis dalam pembangunan kembali. Sebagai bahan penopang, kayu tersebut membantu memenuhi kebutuhan bangunan yang sedang dipulihkan. Nilai dukungan itu tidak hanya terletak pada material yang diberikan, tetapi juga pada keterlibatan kerabat dalam merespons kebutuhan kampung. Sumbangan tersebut memperlihatkan hubungan yang tetap terjalin warga Sade dan keluarga mereka di luar dusun, terutama ketika kampung menghadapi kebutuhan untuk membangun kembali.
Dalam rekonstruksi, ketersediaan bahan merupakan bagian penting dari pekerjaan yang harus dilakukan. Sumbangan kayu tua memberi dukungan nyata bagi tahapan tersebut, tanpa menggantikan peran warga yang bekerja di lokasi. Kontribusi kerabat dapat dipahami sebagai pelengkap bagi upaya gotong royong: sebagian membantu melalui tenaga dan keterlibatan langsung, sementara yang lain memberikan bahan yang dapat dimanfaatkan untuk bangunan. Bentuk partisipasi yang beragam ini mendukung pemulihan dengan cara yang sesuai dengan kemampuan masing-masing pihak.
Kisah sumbangan tersebut juga menegaskan bahwa pemulihan Kampung Adat Sade bukan hanya urusan pembangunan fisik. Ada kepedulian dan rasa terhubung yang tampak melalui kesediaan kerabat untuk membantu, meskipun mereka tinggal di luar dusun. Kayu-kayu tua yang diserahkan kemudian menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menopang bangunan adat. Dengan demikian, dukungan keluarga memperluas lingkup gotong royong dan menambah sumber daya bagi rekonstruksi. Kontribusi ini merupakan salah satu contoh bagaimana solidaritas masyarakat dapat membantu kampung menjalani proses pemulihan secara bersama-sama.
Dalam kurun dua bulan, hampir 55 bangunan di Kampung Adat Sade berhasil dibangun kembali melalui kerja bersama masyarakat dan pihak yang terlibat dalam pemulihan. Capaian tersebut disampaikan Ihwan sebagai perkembangan sementara yang menunjukkan proses pembangunan mulai berjalan. Jumlah itu mencakup bangunan yang telah berhasil dipulihkan hingga saat penyampaian informasi, bukan angka akhir dari keseluruhan rencana. Karena itu, capaian hampir 55 unit perlu dibedakan dari sasaran berikutnya yang masih hendak dicapai.
Dinas Kebudayaan Nusa Tenggara Barat menargetkan jumlah bangunan yang rampung bertambah hingga 75 unit. Target ini menjadi tahap lanjutan dalam upaya memulihkan kawasan kampung adat, sekaligus menjadi acuan bagi pekerjaan yang masih perlu diselesaikan. Angka 75 unit merupakan sasaran, bukan jumlah bangunan yang telah dipastikan selesai. Perkembangan menuju sasaran tersebut akan bergantung pada proses pembangunan dan penyesuaian yang dilakukan, sehingga pelaporan capaian perlu tetap merujuk pada kondisi aktual di lapangan.
Rencana penambahan bangunan yang rampung juga berkaitan dengan agenda kurasi atau penyesuaian bangunan terhadap ketentuan adat yang dijadwalkan pada Desember 2026. Tahap tersebut penting agar hasil pembangunan kembali tidak hanya menambah jumlah bangunan, tetapi juga selaras dengan aturan dan karakter Kampung Adat Sade. Kurasi dapat menjadi kesempatan untuk meninjau kesesuaian bangunan dengan ketentuan setempat sebelum proses pemulihan dinyatakan lebih lanjut. Dengan demikian, target 75 unit terkait dengan persiapan menuju agenda tersebut, sementara hampir 55 bangunan adalah capaian yang telah dilaporkan dalam dua bulan.
Pembedaan hasil sementara dan target akhir membantu masyarakat serta pemangku kepentingan memahami perkembangan secara proporsional. Angka yang telah dicapai menggambarkan kemajuan nyata, sedangkan sasaran 75 unit menunjukkan pekerjaan yang masih dituju. Informasi yang jelas mengenai kedua angka itu juga dapat mendukung koordinasi pemulihan dan penjadwalan kurasi. Hingga Desember 2026, perhatian tidak hanya tertuju pada jumlah bangunan yang selesai, tetapi juga pada pemenuhan ketentuan adat dalam proses penyesuaian. Langkah bertahap ini memberi ruang untuk menilai pembangunan secara cermat sembari menjaga agar pemulihan tetap sejalan dengan tata kehidupan kampung.Pemulihan Kampung Adat Sade dilakukan melalui kerja bersama pemerintah, organisasi swasta, dan masyarakat setempat. Kolaborasi ini penting karena kerusakan yang terjadi tidak hanya menyangkut bangunan, tetapi juga ruang hidup dan aktivitas budaya warga. Pemerintah membantu mengoordinasikan penanganan, sementara organisasi dan pihak swasta memberikan dukungan sesuai kapasitas masing-masing. Di sisi lain, masyarakat Sade terlibat langsung dalam proses pemulihan agar kebutuhan dan pengetahuan lokal menjadi bagian dari setiap keputusan.
Ihwan menegaskan bahwa tujuan pemulihan bukan sekadar mengembalikan kampung ke keadaan semula. Upaya tersebut juga diarahkan untuk menghadirkan kawasan yang lebih baik, aman, dan mendukung keberlangsungan kehidupan masyarakat. Namun, pembaruan perlu dilakukan dengan menghormati identitas budaya setempat. Bentuk rumah, tata ruang, tradisi, serta nilai yang diwariskan warga menjadi pertimbangan penting, sehingga peningkatan kualitas kawasan tidak mengubah ciri khas Kampung Adat Sade.
Dukungan dari berbagai pihak turut membantu memenuhi kebutuhan pemulihan. Berdasarkan data sementara, jumlah sumbangan disebut mencapai Rp4,7 miliar. Kontribusi yang tercatat lain Sapo Development Indonesia sebesar Rp2 miliar, Raffi Ahmad Rp1 miliar, Kementerian Pariwisata Rp800 juta, dan Sari Yuliati Rp200 juta. Dukungan lain disebut berasal dari Indah Dhamayanti Putri sebesar Rp60 juta, Bank BTN Rp75 juta, PT Otsuka Rp500 juta, serta Yayasan Chili Community House Rp410 juta. Angka-angka tersebut merupakan nominal kontribusi yang disebutkan dalam sumber, sedangkan total keseluruhan masih merujuk pada data sementara.
Besarnya dukungan menunjukkan bahwa pemulihan kampung adat memerlukan kepedulian lintas sektor, bukan hanya tanggung jawab warga yang terdampak. Agar bantuan memberi manfaat berkelanjutan, penggunaannya perlu diselaraskan dengan prioritas masyarakat dan rencana pemulihan yang jelas.
Baca juga: Turnamen Voli Piala Panglima TNI di Samarinda Resmi Ditutup, PB Tesla Raih Juara Pertama SAMARINDA – Turnamen Bola Voli Putri Piala Panglima TNI dalam rangka memperingati HUT TNI ke-81 Tahun 2026 di wilayah Kodim 0901/Samarinda resmi ditutup, Minggu (27/9/2026) malam. Acara penutupan yang berlangsung di Lapangan Voli RT 17, Jl. Mulawarman Gang Tukang, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, tersebut berlangsung meriah dan dihadiri sekitar 500 orang yang terdiri dari tamu undangan, peserta turnamen, penonton, serta masyarakat sekitar. Hadir dalam kegiatan tersebut Dandim 0901/Samarinda Kolonel Inf Arif Hermad, S.I.P., M.M., Kasdim 0901/Samarinda Letkol Inf Y. Menri Sarungallo, S.E., M.Han., para Perwira Staf Kodim 0901/Samarinda, para Danramil jajaran Kodim 0901/Samarinda, Tokoh Masyarakat Kampung Bayur Hartoyo, perwakilan sponsorship PT BAS H. Padil, para peserta turnamen dan masyarakat. Dalam sambutannya, Tokoh Masyarakat Kampung Bayur, Hartoyo, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan turnamen tersebut. Ia juga mengapresiasi peran TNI yang selama ini turut membantu masyarakat Kampung Bayur, Ia berharap TNI semakin solid dan kuat dalam menjaga keamanan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu, Dandim 0901/Samarinda Kolonel Inf Arif Hermad menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak, khususnya masyarakat Kampung Bayur Kelurahan Sempaja Utara, yang telah mendukung dan menyukseskan turnamen tersebut. “Turnamen Voli Piala Panglima TNI ini sudah berlangsung selama kurang lebih 10 hari dan malam ini merupakan puncaknya,” kata Dandim. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi olahraga, tetapi juga menjadi sarana mempererat kerja sama dan silaturahmi antara TNI dengan masyarakat. Dandim berharap turnamen serupa dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun sehingga dapat menjadi wadah untuk mencari dan mengembangkan bibit-bibit atlet bola voli di Kota Samarinda. Rangkaian penutupan dilanjutkan dengan doa, pertandingan perebutan juara ketiga dan harapan satu antara PB Gajah Mungkur melawan PB Predator. Pertandingan tersebut dimenangkan oleh PB Gajah Mungkur. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembagian doorprize dan lomba busana dalam rangka HUT TNI ke-81 Tahun 2026, sebelum memasuki pertandingan final perebutan juara pertama dan kedua. Pada pertandingan final, PB Tesla berhadapan dengan PB RR. Pertandingan berlangsung kompetitif hingga akhirnya PB Tesla berhasil meraih kemenangan dan keluar sebagai juara pertama. Adapun hasil akhir Turnamen Bola Voli Putri Piala Panglima TNI di wilayah Kodim 0901/Samarinda yaitu Juara 1 PB Tesla, Juara 2 PB RR, Juara 3 PB Gajah Mungkur, dan Juara Harapan PB Predator. Seluruh rangkaian kegiatan penutupan Turnamen Voli Piala Panglima TNI selesai pada pukul 00.10 WITA. Kegiatan berlangsung dalam keadaan aman, tertib, dan lancar. Turnamen tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan dalam menyemarakkan peringatan HUT TNI ke-81 Tahun 2026, sekaligus mempererat kebersamaan antara TNI, masyarakat, dan insan olahraga di wilayah Kota Samarinda. | Koops TNI Habema Amankan Kampung Balamai atas, Pangkoops: Ketegasan untuk Melindungi Masyarakat dan Menjaga Ruang Damai





