Dari Serigala Purba hingga Mamut: Teknologi Rekayasa Genetika untuk Memulihkan Spesies dan Menjaga Masa Depan Manusia

Dari Serigala Purba hingga Mamut: Teknologi Rekayasa Genetika untuk Memulihkan Spesies dan Menjaga Masa Depan Manusia

Jakarta | Colossal Biosciences melaporkan kelahiran tiga anak serigala purba yang diberi nama Romulus, Remus, dan Khaleesi. Peristiwa ini menjadi bagian penting dari upaya rekayasa genetika untuk menghadirkan kembali ciri-ciri hewan yang telah lama menghilang dari bumi. Serigala purba tersebut dinyatakan telah punah lebih dari 12.500 tahun lalu, sehingga kelahirannya menandai pencapaian besar dalam pengembangan teknologi biologi modern.

Proses tersebut dilakukan melalui penyusunan kembali genom berdasarkan informasi DNA yang diperoleh dari fosil berusia ribuan tahun. Materi genetik purba itu kemudian dianalisis dan disesuaikan dengan genom serigala abu-abu, spesies yang masih hidup hingga kini dan memiliki kedekatan biologis yang diperlukan untuk proses rekayasa. Dengan pendekatan tersebut, para peneliti berupaya memulihkan rangkaian karakter genetik yang berkaitan dengan bentuk tubuh, suara, serta fungsi ekologis serigala purba.

Ketiga anak serigala tersebut dilahirkan oleh induk pengganti yang merupakan anjing peliharaan biasa. Artinya, hewan yang melahirkan Romulus, Remus, dan Khaleesi bukanlah serigala purba, melainkan anjing domestik yang digunakan dalam tahapan reproduksi dari proses rekayasa tersebut. Pemilihan induk ini menunjukkan bahwa teknologi yang dikembangkan tidak hanya bergantung pada rekonstruksi DNA, tetapi juga pada metode reproduksi yang memungkinkan embrio berkembang hingga lahir.

Ben Lamm, salah satu tokoh yang terkait dengan proyek tersebut, menjelaskan cara Colossal Biosciences memandang hasil rekayasa ini. Menurut pernyataannya, makhluk yang memiliki penampilan, suara, dan fungsi ekologis seperti spesies tertentu dapat dipandang sebagai spesies tersebut. Pandangan itu menjadi dasar untuk menyebut Romulus, Remus, dan Khaleesi sebagai serigala purba, meskipun proses kelahiran mereka melibatkan rekonstruksi genom dari DNA fosil serta penyesuaian dengan genom serigala abu-abu modern. Kelahiran ketiganya memperlihatkan bagaimana informasi genetik dari masa lampau dapat digunakan dalam upaya memulihkan karakter spesies yang telah punah.

Setelah mengembangkan proyek serigala purba, Colossal Biosciences menempatkan sejumlah spesies lain sebagai sasaran rekayasa genetika. Daftar tersebut mencakup mamut berbulu, burung dodo, harimau Tasmania, dan burung raksasa moa. Masing-masing proyek memiliki tantangan biologis berbeda, mulai dari keterbatasan DNA purba hingga kebutuhan untuk memahami perilaku, reproduksi, serta lingkungan hidup spesies yang telah lama punah.

Mamut berbulu menjadi salah satu target yang paling banyak mendapat perhatian. Perusahaan menyatakan bahwa mamut berbulu pertama hasil program tersebut ditargetkan dapat lahir pada dekade 2030-an, apabila penelitian, pengujian, dan rencana pengembangannya berjalan sesuai harapan. Prosesnya tidak sekadar menyalin genom mamut secara utuh. Para peneliti berupaya mengidentifikasi ciri-ciri penting, seperti ketahanan terhadap suhu rendah, lapisan lemak, dan rambut tebal, lalu menggabungkannya melalui penyuntingan gen pada kerabat modern yang memiliki hubungan evolusioner.

Tujuan proyek ini juga dikaitkan dengan pemulihan keanekaragaman hayati yang terus menurun. Gagasan yang dikemukakan adalah bahwa hewan dengan karakteristik serupa spesies punah dapat membantu memulihkan fungsi ekologis tertentu, meskipun dampak jangka panjang dan kelayakan pelepasannya masih memerlukan penelitian mendalam. Karena itu, penghidupan kembali spesies tidak dapat dipisahkan dari perlindungan habitat, pengelolaan ekosistem, dan kesejahteraan hewan.

Ben Lamm, salah satu pendiri Colossal, menekankan bahwa proyek tersebut berbeda dari gambaran dalam film Jurassic Park. Menurutnya, fokusnya bukan menciptakan tontonan atau menghadirkan kembali predator berbahaya, melainkan mendukung pelestarian alam dan menghasilkan manfaat bagi manusia. Perusahaan memperkirakan sekitar setengah spesies dapat hilang dalam 25 tahun mendatang. Dalam konteks itu, teknologi dipandang sebagai salah satu alat untuk menyelamatkan spesies yang masih tersisa sekaligus memulihkan sebagian spesies yang telah hilang, dengan tetap mempertimbangkan batas ilmiah dan etika.

Riset yang dikembangkan untuk memulihkan spesies punah berpotensi menghasilkan manfaat yang melampaui tujuan konservasi. Salah satu contohnya adalah penelitian mengenai ketahanan gajah terhadap kanker. Meskipun memiliki tubuh besar dan jumlah sel yang banyak, gajah hampir tidak pernah terserang kanker dibandingkan perkiraan berdasarkan ukuran tubuhnya. Dengan mempelajari gen, mekanisme perbaikan DNA, dan respons kekebalan yang mungkin berperan, ilmuwan dapat memperoleh petunjuk bagi pencegahan, deteksi, atau pengobatan kanker pada manusia. Temuan tersebut tetap memerlukan pengujian panjang sebelum dapat diterapkan secara klinis.

Teknik penyuntingan DNA juga mungkin digunakan untuk menangani penyakit keturunan dan kelainan genetik. Perubahan pada bagian tertentu dari materi genetik berpotensi memperbaiki mutasi penyebab penyakit atau membantu sel menjalankan fungsi yang terganggu. Namun, penerapannya menghadapi tantangan berupa ketepatan sasaran, risiko perubahan yang tidak diinginkan, keamanan jangka panjang, serta pertimbangan etika. Karena itu, kemungkinan manfaatnya perlu dinilai melalui penelitian dan pengawasan yang ketat.

Di bidang lingkungan, keberhasilan menghidupkan kembali mamut berbulu secara hipotetis dapat memengaruhi ekosistem Arktik. Kehadiran hewan besar mungkin membantu memadatkan tanah, mempertahankan kondisi padang rumput, dan mengurangi pelepasan karbon dari tanah beku. Perubahan hutan yang menyerap panas menjadi padang rumput yang lebih terang juga berpotensi memantulkan lebih banyak sinar matahari. Dampak tersebut belum dapat dipastikan karena bergantung pada jumlah hewan, perilaku, habitat, dan perubahan iklim.

DNA sintetis selanjutnya mungkin dimanfaatkan untuk membangkitkan varietas tanaman pangan yang tumbuh lebih cepat dan lebih tahan terhadap kekeringan, suhu tinggi, banjir, atau kondisi ekstrem lain. Pengetahuan tentang genetika dan kekebalan alami berbagai spesies pun dapat membantu manusia mengenali mekanisme perlindungan biologis, sehingga respons terhadap pandemi berpotensi dirancang lebih cepat dan terarah.

Dukungan terhadap Colossal Biosciences menunjukkan bahwa proyek rekayasa genetika untuk memulihkan spesies telah menarik perhatian jauh melampaui lingkungan akademik. Perusahaan ini dilaporkan telah mengumpulkan dana lebih dari US$435 juta, atau sekitar Rp6,5 triliun, dengan valuasi yang mencapai US$10,2 miliar, setara dengan kurang lebih Rp154 triliun. Besarnya pendanaan tersebut mencerminkan keyakinan investor bahwa teknologi biologi mutakhir dapat memiliki nilai strategis, baik secara ilmiah maupun sosial.

Menariknya, sekitar 30 persen investor menyatakan bahwa keterlibatan mereka didorong oleh anak-anak yang tertarik pada sains. Fakta ini memperlihatkan bahwa gagasan tentang menghidupkan kembali hewan purba, seperti serigala purba atau mamut, tidak hanya berfungsi sebagai daya tarik populer. Minat generasi muda turut membangun percakapan mengenai cara ilmu pengetahuan dapat menjawab tantangan lingkungan dan kemanusiaan. Ketertarikan tersebut juga menunjukkan adanya perhatian yang lebih luas terhadap potensi teknologi rekayasa genetika untuk pelestarian alam, perlindungan keanekaragaman hayati, pengembangan kesehatan, serta peningkatan ketahanan pangan.

Nilai penting proyek ini juga terletak pada kemungkinan penerapannya di luar pemulihan spesies yang telah punah. Pengetahuan yang dikembangkan dalam proses penyuntingan gen, reproduksi berbantuan, dan pengelolaan materi genetik dapat membantu para peneliti memahami cara memperkuat spesies yang masih hidup, memulihkan ekosistem yang rusak, dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi pandemi. Tentu, setiap langkah tetap memerlukan pengawasan etis, kajian risiko, serta penilaian terhadap dampak ekologis jangka panjang. Upaya menghidupkan kembali spesies yang telah punah karena itu tidak semata-mata tentang mengulang sejarah. Lebih dari itu, proyek tersebut mencerminkan usaha mengembangkan teknologi yang diharapkan dapat membantu menyelamatkan masa depan manusia dan alam.

Baca juga: Memperkuat Keamanan untuk Menjaga Iklim Investasi di Indonesia | Menjaga Stabilitas Inflasi Melalui Kebijakan Harga BBM Subsidi | Sambut HUT Ke-81 TNI Tahun 2026, Kodim 1714/Puncak Jaya Bersama Rakyat Menanam Pohon Demi Masa Depan Baik