Kota Solo. Tak | Ratusan anggota BEM Universitas Sebelas Maret menggelar demonstrasi di Solo pada Kamis, 22 Oktober 2026. Aksi tersebut dimulai sekitar pukul 15.00 WIB di depan Balai Kota Solo. Dari titik awal itu, massa menyampaikan orasi sebelum kemudian bergerak dengan berjalan kaki menuju kawasan Bundaran Gladag. Setelah tiba di perempatan Gladag, sejumlah mahasiswa kembali menyampaikan orasi dengan tuntutan yang sama.
Rangkaian tersebut menempatkan Balai Kota Solo sebagai lokasi awal demonstrasi dan kawasan Gladag sebagai tujuan pergerakan massa. Waktu dimulainya aksi tercatat sekitar pukul 15.00 WIB, sementara tanggal pelaksanaannya adalah Kamis, 22 Oktober 2026. Urutan perjalanan massa berlangsung dari depan Balai Kota, lalu berlanjut dengan berjalan kaki ke kawasan Bundaran Gladag, hingga mencapai perempatan Gladag.
Di depan Balai Kota Solo, para peserta memulai aksi dengan berorasi. Setelah itu, massa berjalan kaki meninggalkan titik tersebut dan menuju Gladag. Ketika telah sampai di perempatan Gladag, sejumlah mahasiswa kembali mengambil bagian dalam penyampaian orasi. Tuntutan yang disampaikan pada orasi di lokasi itu disebut sama dengan tuntutan sebelumnya. Dengan demikian, orasi berlangsung di dua bagian kronologi: saat aksi dimulai di depan Balai Kota Solo dan setelah massa tiba di perempatan Gladag.
Demonstrasi yang melibatkan ratusan anggota BEM UNS itu bergerak melalui urutan lokasi tersebut pada hari yang sama. Aksi dimulai sekitar pukul 15.00 WIB di depan Balai Kota Solo, kemudian massa berjalan menuju kawasan Bundaran Gladag. Setibanya di perempatan Gladag, sejumlah mahasiswa kembali berorasi dan menyampaikan tuntutan yang sama. Kronologi ini menggambarkan perpindahan dari titik awal demonstrasi menuju lokasi berikutnya, tanpa mengubah urutan peristiwa: mulai di Balai Kota, berjalan kaki ke kawasan Gladag, lalu berorasi kembali di perempatan Gladag.
Koordinator aksi BEM UNS, Yusnindar Hasan, menjelaskan bahwa demonstrasi di Solo berangkat dari akumulasi kekecewaan mahasiswa terhadap arah kebijakan dan penanganan berbagai persoalan publik. Menurut Hasan, aksi tersebut tidak muncul secara tiba-tiba ataupun hanya merespons satu isu. Para mahasiswa memandangnya sebagai kesempatan untuk menyampaikan kegelisahan yang telah menumpuk, sekaligus menegaskan bahwa sejumlah masalah belum memperoleh jawaban yang memadai dari pemerintah. Ia menempatkan demonstrasi itu dalam konteks evaluasi dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran, ketika kritik terhadap pemerintah juga disuarakan di berbagai daerah. Dengan demikian, aksi di Solo disebut sebagai bagian dari gelombang kritik nasional, bukan peristiwa yang berdiri sendiri.
Momentum evaluasi tersebut, menurut Hasan, menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menilai jalannya kepemimpinan dan menyampaikan pandangan mereka mengenai kebijakan publik. Ia menyebut mahasiswa menilai kepemimpinan Prabowo-Gibran gagal menangani sejumlah persoalan yang mereka anggap penting. Penilaian itu merupakan pandangan yang disampaikan Hasan sebagai koordinator aksi, bukan kesimpulan yang dapat dilepaskan dari atribusinya. Dalam kerangka tersebut, demonstrasi dimaksudkan untuk menyuarakan kritik serta mendorong pemerintah memberi perhatian terhadap masalah yang dinilai belum tertangani. Hasan mengaitkan kekecewaan mahasiswa dengan persoalan yang masih berlangsung dan kebijakan yang, menurut mereka, belum menjawab kebutuhan masyarakat.
Salah satu persoalan yang disebut Hasan ialah kebakaran hutan dan lahan yang menurut mahasiswa belum tuntas ditangani. Ia juga menyampaikan bahwa peserta aksi memandang sejumlah kebijakan pemerintah tidak berpihak kepada rakyat. Kedua hal itu menjadi bagian dari alasan yang mereka kemukakan untuk turun menyampaikan tuntutan, bersama kekecewaan yang terakumulasi selama masa kepemimpinan berjalan. Pernyataan tersebut menggambarkan dasar kritik dari pihak mahasiswa, bukan verifikasi independen atas keberhasilan penanganan kebakaran maupun dampak kebijakan. Aksi di Solo, dalam penjelasan Hasan, karena itu mencerminkan dorongan mahasiswa agar persoalan-persoalan tersebut mendapat perhatian dan penanganan yang mereka nilai lebih memadai.
Menjelang akhir demonstrasi, jumlah peserta yang berkumpul di lokasi aksi bertambah hingga massa mulai memenuhi badan jalan. Kondisi tersebut membuat arus kendaraan menuju Balai Kota, Keraton, dan kawasan Pasarkliwon terhambat. Pergerakan lalu lintas di sejumlah arah itu tidak leluasa karena ruang jalan digunakan oleh peserta aksi. Situasi ini menjadi salah satu perkembangan yang menonjol ketika demonstrasi memasuki tahap akhir. Di tengah berlangsungnya penyampaian aspirasi, pengguna jalan yang hendak melintasi kawasan tersebut perlu menghadapi kepadatan akibat konsentrasi massa. Gangguan arus terjadi seiring dengan posisi peserta yang berada di badan jalan, bukan semata-mata karena keberadaan petugas pengamanan.
Suasana sempat memanas ketika sejumlah peserta membakar ban bekas. Dari titik pembakaran, asap hitam pekat mengepul di ujung jalan utama kota dan terlihat di tengah rangkaian aksi. Peristiwa itu menambah ketegangan suasana pada saat massa masih berada di lokasi demonstrasi. Pembakaran ban menjadi bagian dari perkembangan yang berlangsung menjelang akhir kegiatan, ketika arus menuju beberapa kawasan penting di Solo juga sedang terhambat. Tidak ada rincian mengenai jumlah ban maupun lamanya gangguan yang dapat dipastikan dari informasi yang tersedia. Karena itu, gambaran situasi berfokus pada asap yang mengepul serta kondisi jalan yang dipenuhi massa.
Personel Polresta Surakarta berjaga untuk mengamankan jalannya aksi. Kehadiran aparat tersebut juga berkaitan dengan pengaturan pergerakan kendaraan, sebab rekayasa lalu lintas dilakukan saat akses menuju Balai Kota, Keraton, dan Pasarkliwon terdampak oleh massa di badan jalan. Pengamanan dan pengaturan arus menjadi langkah yang berjalan bersamaan di tengah situasi demonstrasi yang sempat memanas. Dengan demikian, perkembangan menjelang akhir aksi mencakup penyampaian aspirasi di ruang jalan, pembakaran ban bekas, serta penyesuaian lalu lintas oleh petugas. Informasi yang tersedia tidak menyebutkan bentuk rekayasa secara terperinci ataupun dampak tambahan di luar hambatan arus menuju kawasan-kawasan tersebut.
Di tengah aksi mahasiswa BEM UNS di Solo, Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko memilih mendekati peserta secara langsung. Ia membaur di mahasiswa tanpa membangun barikade atau menjaga jarak khusus, sehingga interaksi berlangsung di ruang yang sama dengan massa. Condro menyimak orasi yang disampaikan dan mengikuti jalannya penyampaian aspirasi. Kehadirannya di tengah peserta memberi kesempatan bagi polisi untuk mendengar tuntutan serta suasana aksi dari dekat, bukan hanya mengamati dari sisi luar. Pendekatan tersebut juga memperlihatkan upaya menjaga komunikasi selama demonstrasi berlangsung, ketika mahasiswa menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Suasana yang semula diwarnai penyampaian tuntutan kemudian terasa lebih cair. Condro beberapa kali mengajak mahasiswa bercanda, dan tawa terdengar di sela-sela aksi. Interaksi ringan itu tidak menghentikan mahasiswa menyampaikan aspirasi, tetapi membantu menciptakan suasana yang lebih terbuka peserta dan aparat. Sejumlah personel kepolisian juga membagikan air mineral kepada mahasiswa yang kehausan. Bantuan sederhana tersebut menjadi bagian dari pelayanan di lokasi, terutama bagi peserta yang berada di tengah kegiatan dan membutuhkan minum. Polisi tetap hadir untuk menjaga situasi, sekaligus menunjukkan perhatian terhadap kondisi warga yang sedang menggunakan haknya untuk berdemonstrasi.
Condro menyampaikan bahwa polisi bertugas melayani masyarakat. Ia menegaskan demonstrasi merupakan hak warga, sehingga ruang untuk menyampaikan pendapat perlu dijaga agar berlangsung nyaman. Pesan itu menempatkan pelayanan dan penghormatan terhadap hak menyampaikan aspirasi sebagai bagian dari pendekatan kepolisian dalam mengawal aksi. Setelah waktu magrib, massa berangsur meninggalkan lokasi dengan tertib. Aksi pun berakhir tanpa kepergian massa secara serentak, sementara peserta mulai membubarkan diri. Sebelum meninggalkan tempat, mahasiswa menyatakan akan menggelar aksi serupa lagi apabila tuntutan mereka tidak direspons oleh pemerintah pusat.
Baca juga: Pengaruh Kebijakan The Fed dan Fenomena El Nino Terhadap Nilai Tukar Rupiah






