PROBOLINGGO — Harapan untuk menikmati status Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pupus di ujung pengabdian. Itulah yang dialami Ngadiono, guru honorer di SDN Sumber V, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, yang harus purna tugas tepat saat proses pengangkatan ASN PPPK paruh waktu tengah berjalan.
Ngadiono telah mengabdikan diri di dunia pendidikan selama 27 tahun 3 bulan. Ia bahkan telah mengikuti tahapan pemberkasan calon ASN PPPK paruh waktu. Namun, masa pensiun datang bersamaan dengan proses tersebut, membuatnya gagal merasakan perubahan status yang selama ini menjadi harapan banyak tenaga honorer.
Kisah pengabdian panjang itu mendapat perhatian dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) bersama jajaran Koordinator Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan (Korwil Dikdaya) Kecamatan Sumber. Sebagai bentuk penghormatan dan empati, PGRI dan Korwil Dikdaya melakukan kunjungan langsung kepada Ngadiono.
Rombongan yang hadir dalam kunjungan tersebut antara lain Pengurus PGRI Kabupaten Probolinggo H. Hasim, Ketua PC PGRI Kecamatan Sumber Edi Sumitro, Korwil Dikdaya Kecamatan Sumber H. Asis, serta Ketua K3S Kecamatan Sumber.
Kegiatan berlangsung secara sederhana dan penuh kehangatan di salah satu ruang kelas SDN Sumber V. Dalam kesempatan itu, PGRI menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas dedikasi Ngadiono yang selama puluhan tahun mengabdi tanpa lelah, meski kesejahteraan yang diterima sangat terbatas.
Ngadiono diketahui memulai pengabdiannya sebagai guru honorer dengan menerima honor Rp 20.000 pada masa awal. Seiring waktu, honor tersebut meningkat, hingga terakhir ia menerima sekitar Rp 1.200.000 per bulan. Meski demikian, keterbatasan tersebut tak menyurutkan semangatnya untuk tetap mendidik dan mengabdi.
“Pengabdian Bapak Ngadiono adalah teladan. Beliau tetap setia mengajar dalam berbagai keterbatasan, bahkan hingga akhir masa tugasnya,” disampaikan H. Hasim ketua PGRI dalam sambutannya. Jum’at (9/1/26)
Tak hanya Ngadiono, dedikasi keluarga beliau juga menjadi perhatian. Hingga saat ini, istri dan anak Ngadiono masih aktif mengabdi sebagai guru TK PKK di wilayah setempat. Hal itu menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan telah tertanam kuat dalam keluarga Ngadiono.
Sementara itu, Korwil Dikdaya Kecamatan Sumber, H. Asis, menyampaikan bahwa pihaknya turut merasakan kekecewaan yang dialami Ngadiono. Namun demikian, ia menegaskan bahwa pengabdian panjang tersebut tetap memiliki nilai dan makna besar bagi dunia pendidikan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas pengabdian Bapak Ngadiono dan keluarga. Semoga apa yang telah diberikan menjadi amal ibadah dan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT,” ujarnya.
Usai acara seremonial di sekolah, rombongan melanjutkan kegiatan dengan silaturahmi ke rumah Ngadiono, yang letaknya tidak jauh dari SDN Sumber V. Dalam kesempatan itu, PGRI dan Korwil Dikdaya menyerahkan tali asih sebagai bentuk kepedulian dan dukungan moral.
Meski tidak dapat menggantikan harapan yang belum terwujud, kunjungan tersebut diharapkan dapat sedikit mengobati kekecewaan Ngadiono yang harus purna tugas sebelum sempat menikmati status ASN PPPK.
Kisah Ngadiono menjadi potret nyata perjuangan tenaga honorer di Indonesia. Puluhan tahun mengabdi, bertahan dalam keterbatasan, namun tetap setia mendidik generasi penerus bangsa hingga akhir masa tugasnya.
(Edi D/Bambang/*)

