Kabupaten Lumajang | Gunung Semeru, yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengalami tiga kali erupsi pada Senin pagi. Aktivitas vulkanik tersebut berlangsung dalam rentang waktu beberapa jam, dengan erupsi kedua dan ketiga teramati secara visual dari sekitar kawasan gunung. Kolom abu tertinggi dari rangkaian letusan itu mencapai 900 meter di atas puncak Mahameru.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 01.45 WIB. Letusan ini tercatat dalam pemantauan aktivitas Gunung Semeru, tetapi tidak terlihat secara visual. Kondisi tersebut membuat ketinggian kolom abu dari erupsi pertama tidak dapat diamati secara langsung. Pemantauan tetap dilakukan untuk mencatat perkembangan aktivitas gunung api dan membandingkannya dengan kejadian berikutnya.
Erupsi kedua berlangsung pada pukul 04.39 WIB. Pada letusan ini, kolom abu teramati membubung hingga sekitar 900 meter di atas puncak Mahameru. Erupsi ketiga kemudian terjadi pada pukul 06.19 WIB, atau kurang dari dua jam setelah letusan sebelumnya. Kolom abu pada erupsi ketiga juga teramati mencapai ketinggian sekitar 900 meter di atas puncak.
Dengan demikian, urutan erupsi Gunung Semeru pada Senin pagi dimulai pada pukul 01.45 WIB, dilanjutkan pukul 04.39 WIB, dan kembali terjadi pukul 06.19 WIB. Dua letusan terakhir menjadi erupsi dengan ketinggian kolom abu yang dapat diamati, masing-masing mencapai 900 meter di atas Mahameru. Rangkaian ini menunjukkan aktivitas erupsi yang berlangsung berulang dalam periode pagi hari.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, melaporkan terjadinya erupsi pada Senin pagi pukul 06.19 WIB. Aktivitas tersebut teramati dari pos pemantauan sebagai letusan yang menghasilkan kolom abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 900 meter di atas puncak Gunung Semeru. Dengan memperhitungkan elevasi puncak, material erupsi itu mencapai ketinggian kurang lebih 4.576 meter di atas permukaan laut.
Kolom letusan tampak berwarna kelabu dengan intensitas tebal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa abu vulkanik terlihat cukup pekat saat membumbung dari kawah. Berdasarkan pengamatan petugas, kolom abu bergerak ke arah barat daya. Arah pergerakan ini dapat berubah mengikuti kondisi angin di sekitar gunung, sehingga masyarakat dan pihak terkait tetap perlu mencermati informasi resmi mengenai sebaran abu.
Erupsi pada pagi tersebut juga terekam dalam pemantauan kegempaan Gunung Semeru. Seismograf mencatat amplitudo maksimum sebesar 22 milimeter dengan durasi 110 detik. Data itu menjadi bagian penting dalam pemantauan aktivitas gunung api karena membantu petugas menilai karakter dan kekuatan kejadian erupsi secara instrumental.
Laporan pengamatan tersebut menggambarkan adanya aktivitas vulkanik yang berlangsung nyata di Gunung Semeru, baik melalui kemunculan kolom abu maupun rekaman getaran pada seismograf. Informasi mengenai ketinggian kolom, warna dan intensitas abu, arah pergerakan, serta parameter kegempaan disampaikan sebagai dasar pemantauan berkelanjutan. Warga di sekitar kawasan gunung diimbau mengikuti perkembangan dari Pos Pengamatan Gunung Semeru dan instansi berwenang, terutama terkait potensi sebaran abu vulkanik ke wilayah barat daya.
Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga setelah mengalami tiga kali erupsi pada Senin pagi. Status tersebut menjadi dasar pemantauan berkelanjutan terhadap aktivitas vulkanik di kawasan gunung api itu. Petugas pengamatan menyampaikan bahwa kondisi Semeru tetap perlu diperhatikan karena aktivitas erupsi masih berlangsung dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi masyarakat di wilayah sekitar.
Status Siaga menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Semeru berada pada tingkat yang memerlukan kewaspadaan lebih tinggi. Pemantauan dilakukan untuk mengamati perkembangan erupsi, termasuk perubahan pada aktivitas gunung dan sebaran material vulkanik. Informasi hasil pengamatan menjadi rujukan penting bagi masyarakat serta pihak terkait dalam mengikuti arahan keselamatan yang berlaku.
Masyarakat diminta mematuhi seluruh rekomendasi petugas dan tidak melakukan aktivitas di area yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya. Kepatuhan terhadap batas wilayah tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko apabila terjadi luncuran awan panas, guguran lava, atau aliran material vulkanik lainnya. Warga juga perlu memperhatikan informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Semeru dan menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Rekomendasi keselamatan tetap berlaku selama gunung berada pada Level III atau Siaga. Meskipun kolom abu dari salah satu erupsi teramati mencapai 900 meter, masyarakat tidak dianjurkan mengabaikan potensi bahaya yang menyertai aktivitas vulkanik. Petugas pengamatan terus menjadi sumber informasi utama mengenai status gunung dan perubahan kondisi di lapangan.
Dengan demikian, pemantauan terhadap Gunung Semeru masih dilakukan secara intensif setelah tiga erupsi pada Senin pagi. Masyarakat di sekitar kawasan gunung diharapkan tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti setiap instruksi resmi. Tindakan tersebut penting untuk mendukung keselamatan bersama selama aktivitas vulkanik masih berpotensi menimbulkan bahaya.
Petugas mengingatkan masyarakat agar mematuhi seluruh batas keselamatan di sekitar Gunung Semeru. Warga maupun pengunjung tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak. Kawasan tersebut berisiko terdampak lontaran batu pijar yang dapat terjadi selama maupun setelah erupsi. Larangan ini mencakup kegiatan wisata, pemantauan langsung, pengambilan gambar, serta aktivitas lain yang menempatkan seseorang terlalu dekat dengan pusat erupsi.
Perhatian khusus diberikan kepada kawasan sepanjang Besuk Kobokan. Masyarakat diminta menjauhi area dengan jarak sekurang-kurangnya 500 meter dari tepi sungai karena terdapat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar. Bahaya tersebut dapat menjangkau wilayah hingga 17 kilometer dari puncak, terutama ketika material vulkanik bercampur dengan air hujan dan bergerak mengikuti alur sungai. Warga yang tinggal atau beraktivitas di sekitar jalur aliran perlu memperhatikan arahan petugas serta segera meninggalkan area apabila kondisi dinyatakan membahayakan.
Selain batas tersebut, aktivitas masyarakat juga dilarang di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Pembatasan ini ditetapkan karena sektor tersebut merupakan jalur yang berpotensi dilalui material erupsi, termasuk awan panas dan lahar. Masyarakat tidak disarankan mendekati zona terlarang dengan alasan apa pun, termasuk untuk memeriksa lahan, ternak, atau bangunan, tanpa koordinasi dengan pihak berwenang.
Kewaspadaan juga harus ditingkatkan terhadap awan panas, guguran lava, dan lahar yang dapat mengalir melalui sungai atau lembah berhulu di puncak Semeru. Ancaman tersebut terutama perlu diantisipasi di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan. Perubahan cuaca, hujan deras, atau peningkatan aktivitas gunung dapat memperbesar risiko, sehingga masyarakat perlu mengikuti informasi resmi dan tidak memasuki lembah maupun bantaran sungai yang telah ditetapkan sebagai kawasan berbahaya.
Baca juga: Kembali Beroperasinya Tiga Bandara Setelah Erupsi Gunung Anak Krakatau | Titik Api Mengancam Tiga Gunung di Jawa Timur | Di tengah proses pencarian, Gunung Anak Krakatau (GAK) terpantau kembali erupsi dengan mengeluarkan material abu vulkanik yang cukup tebal

