Padang | Banjir merendam sejumlah kawasan di Kota Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu (10/10). Pada saat yang sama, tanggul di aliran Sungai Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, dilaporkan jebol. Peristiwa tersebut menempatkan kondisi tanggul dan infrastruktur penunjang pengendalian banjir sebagai sorotan, terutama karena kerusakan pada bagian tersebut dapat memperbesar dampak genangan di kawasan yang terdampak.
Daryono dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia menjelaskan bahwa besarnya dampak banjir tidak hanya dipengaruhi oleh intensitas hujan. Debit sungai juga menjadi salah satu faktor yang berperan dalam menentukan luas dan tingkat genangan. Namun, selain kondisi cuaca serta peningkatan aliran air, ketahanan infrastruktur pengendali banjir turut menentukan seberapa besar bencana memengaruhi masyarakat dan permukiman di sekitarnya.
Dalam peristiwa banjir di Kota Padang tersebut, Daryono menyampaikan bahwa hampir 500 warga terdampak. Selain itu, lebih dari 120 rumah dilaporkan terendam. Data tersebut menunjukkan bahwa genangan tidak hanya berkaitan dengan volume air yang masuk ke wilayah perkotaan, tetapi juga dengan kemampuan tanggul dan prasarana pengendali banjir dalam menahan aliran sungai.
Jebolnya tanggul di aliran Sungai Lapau Munggu menjadi bagian penting dari laporan banjir ini. Kerusakan tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan infrastruktur memiliki kaitan langsung dengan dampak yang dirasakan warga. Karena itu, peristiwa yang merendam sejumlah kawasan Padang sekaligus menyoroti perlunya memperhatikan kondisi tanggul sebagai salah satu unsur pengendalian banjir, di samping faktor intensitas hujan dan debit sungai.
Kecamatan Kuranji tercatat sebagai wilayah dengan jumlah warga terdampak banjir paling besar, yakni 245 orang. Dampak tersebut terutama dirasakan masyarakat di kawasan Guo dan Lapau Munggu, yang mengalami genangan dengan tingkat gangguan berbeda-beda. Selain menghambat aktivitas harian, banjir juga menyebabkan 60 rumah terendam. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya berkaitan dengan jumlah air yang masuk ke permukiman, tetapi juga dengan keterbatasan akses warga untuk menyelamatkan barang, berpindah, dan memperoleh kebutuhan dasar.
Kerusakan bangunan turut memperberat situasi di Kuranji. Berdasarkan laporan sementara, empat rumah mengalami kerusakan sedang, sedangkan satu rumah lainnya mengalami kerusakan berat. Tingkat kerusakan tersebut perlu segera didata secara rinci agar penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga. Rumah yang terdampak bukan hanya memerlukan pembersihan dan perbaikan ringan, tetapi dalam kasus tertentu juga membutuhkan pemeriksaan struktur untuk memastikan keselamatan penghuni sebelum kembali digunakan.
Gangguan juga terjadi pada jaringan transportasi masyarakat. Akses jalan di sekitar PDAM Guo terputus akibat terjangan banjir, sehingga mobilitas warga dan distribusi bantuan menjadi lebih sulit. Putusnya akses tersebut berpotensi memperlambat evakuasi, menghambat pelayanan fasilitas umum, serta meningkatkan risiko bagi masyarakat yang masih berada di kawasan terdampak.
Peneliti sekaligus pemerhati kebencanaan, Daryono, menilai aliran banjir di lokasi tertentu kemungkinan memiliki energi dan daya erosi yang cukup besar. Dugaan itu dapat menjelaskan mengapa air mampu memengaruhi jalan dan menimbulkan kerusakan pada sejumlah rumah. Namun, hubungan langsung kekuatan aliran dan kerusakan yang terjadi masih perlu dipastikan melalui survei lapangan. Pemeriksaan harus mencakup kondisi fondasi, material bangunan, arah serta kecepatan arus, dan karakteristik tanah di sekitar permukiman. Data tersebut penting untuk menentukan penyebab kerusakan secara objektif sekaligus menjadi dasar perbaikan infrastruktur dan langkah mitigasi banjir berikutnya.
Hujan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan limpasan permukaan secara cepat, terutama ketika kemampuan tanah menyerap air telah berkurang. Air yang mengalir menuju sungai kemudian menaikkan debit hingga melampaui kapasitas alur di sejumlah lokasi. Kondisi tersebut dapat memicu luapan, memperbesar tekanan pada tanggul, serta memperluas genangan ke kawasan permukiman dan fasilitas umum. Namun, dampak hujan lebat tidak hanya ditentukan oleh jumlah curah hujan. Menurut Daryono, karakteristik wilayah dan kondisi fisik aliran juga perlu diperhatikan dalam menilai potensi banjir.
Faktor yang berpengaruh meliputi kemiringan lereng, tingkat kejenuhan tanah, karakteristik aliran, penyempitan penampang sungai, sedimentasi, serta berbagai hambatan di dalam atau sekitar alur. Lereng yang curam dapat mempercepat aliran menuju dataran rendah, sedangkan tanah yang jenuh kehilangan kemampuan menyerap tambahan air. Penyempitan alur, endapan sedimen, tumpukan material, maupun bangunan yang menghalangi arus dapat mengurangi kapasitas sungai dan meningkatkan muka air. Kombinasi faktor tersebut dapat membuat lokasi tertentu lebih rentan meskipun berada dalam satu wilayah hujan yang sama.
Kerusakan infrastruktur juga dapat menimbulkan dampak berantai. Tanggul yang jebol memungkinkan air menyebar lebih luas, sementara jalan yang rusak dapat menghambat evakuasi, distribusi bantuan, dan mobilitas tim penanganan. Gangguan akses menuju instalasi atau jaringan air bersih berpotensi menyulitkan pelayanan masyarakat pada saat kebutuhan meningkat. Karena itu, diperlukan audit terhadap kondisi tanggul dan kapasitas sungai, disertai survei lapangan setelah banjir surut.
Pemeriksaan pascabanjir perlu memetakan batas dan kedalaman genangan, jejak erosi, sebaran endapan sedimen, serta titik kerusakan pada tanggul, jalan, jembatan, dan fasilitas air bersih. Data tersebut dapat dibandingkan dengan catatan curah hujan, tinggi muka air, dan riwayat kejadian untuk memperoleh gambaran penyebab serta tingkat kerentanan setiap lokasi. Hasilnya menjadi dasar penentuan prioritas perbaikan, baik untuk memulihkan fungsi infrastruktur maupun mengurangi risiko kerusakan serupa pada kejadian berikutnya.
Rekomendasi Daryono menempatkan penguatan sistem peringatan dini sebagai langkah penting untuk mengurangi dampak banjir. Sensor pemantau tinggi muka air, curah hujan, dan kecepatan arus perlu dipasang pada titik-titik strategis di bagian hulu daerah aliran sungai. Data dari sensor tersebut harus diteruskan secara cepat dan akurat kepada pusat pengendalian, pemerintah daerah, petugas lapangan, serta masyarakat. Jarak sensor dari kawasan berisiko harus dirancang agar menyediakan waktu yang memadai bagi petugas untuk menyampaikan peringatan, menyiapkan jalur evakuasi, dan memindahkan warga ke tempat yang lebih aman.
Dalam keadaan darurat, keselamatan warga harus menjadi prioritas utama, terutama mereka yang tinggal di bantaran sungai, kawasan dengan arus deras, dan sekitar tanggul yang mengalami kerusakan. Informasi peringatan perlu disampaikan melalui berbagai saluran, termasuk sirene, pesan singkat, pengeras suara, media sosial, dan komunikasi langsung. Jalan atau jembatan yang terdampak banjir tidak boleh dibuka kembali sebelum dinyatakan aman secara struktural melalui pemeriksaan oleh pihak berwenang. Keputusan tersebut penting untuk mencegah korban akibat amblesan, gerusan, atau keruntuhan lanjutan.
Dalam jangka panjang, pengurangan risiko perlu dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Rehabilitasi lahan kritis, penghijauan, konservasi tanah dan air, serta pemulihan kawasan resapan dapat membantu menekan limpasan menuju sungai. Pada saat yang sama, perubahan tata guna lahan harus dikendalikan agar pembangunan tidak mempersempit sempadan sungai atau menutup daerah resapan. Penataan ruang juga perlu mengacu pada peta bahaya dan mempertimbangkan kapasitas infrastruktur dalam menghadapi hujan ekstrem.
Perlindungan masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan tanggul. Upaya tersebut harus dilengkapi tata ruang yang aman, sistem peringatan dini yang berfungsi, jalur evakuasi yang jelas, tempat pengungsian yang memadai, serta kesiapsiagaan warga. Pemerintah, pengelola infrastruktur, dan masyarakat perlu melakukan latihan evakuasi serta pemeriksaan berkala terhadap sarana pengendalian banjir. Pendekatan terpadu ini memungkinkan setiap wilayah mengenali risikonya, merespons lebih cepat, dan mengurangi kerugian ketika banjir kembali terjadi.
Baca juga: Infrastruktur Digital Perbankan di Indonesia | Mengungkap Hoaks Lesti Kejora: Dari Giveaway Palsu hingga Klaim Pelantikan | Mengungkap Struktur Organisasi Maluku Post
