Kota Jayapura | Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menekankan tiga prinsip dalam penerapan pembelajaran mendalam bagi siswa di Papua: berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Ketiganya menjadi arah untuk meningkatkan kualitas proses belajar peserta didik, bukan sekadar mengejar penyampaian materi. Penekanan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja Abdul Mu’ti ke Kota Jayapura, Papua, pada Selasa. Dalam konteks itu, perhatian diarahkan pada bagaimana pengalaman belajar dapat membantu siswa memahami materi, terlibat aktif, dan merasakan manfaat dari apa yang dipelajari.
Prinsip berkesadaran menempatkan perhatian dan keterlibatan siswa sebagai bagian penting dari pembelajaran. Proses belajar diharapkan memberi ruang bagi peserta didik untuk memahami tujuan kegiatan, mengikuti materi dengan penuh perhatian, serta menyadari perkembangan pemahamannya. Dengan demikian, siswa tidak hanya hadir secara fisik di kelas, tetapi juga berpartisipasi dalam proses memperoleh pengetahuan. Pendekatan ini menempatkan kegiatan belajar sebagai pengalaman yang membutuhkan fokus, keterlibatan, dan refleksi, sehingga pemahaman dapat tumbuh melalui proses yang dijalani.
Prinsip bermakna menekankan hubungan materi pelajaran dan kehidupan atau pengalaman siswa. Pembelajaran yang terasa relevan dapat membantu peserta didik memahami alasan suatu pengetahuan dipelajari dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan. Sementara itu, prinsip menggembirakan berkaitan dengan terciptanya suasana belajar yang positif dan mendorong siswa untuk terlibat. Kegembiraan tidak berarti mengurangi kesungguhan belajar, melainkan mendukung rasa ingin tahu dan partisipasi. Ketiga prinsip ini saling melengkapi: kesadaran membantu siswa hadir dalam proses, makna memperkuat pemahaman, dan suasana yang menggembirakan menopang keterlibatan. Abdul Mu’ti menempatkan ketiganya sebagai landasan untuk mendorong proses belajar yang lebih berkualitas bagi peserta didik di Papua.
Prinsip berkesadaran dalam pembelajaran, sebagaimana diuraikan Abdul Mu’ti, menekankan bahwa peserta didik memahami apa yang sedang mereka pelajari. Belajar tidak cukup dipandang sebagai kegiatan menerima dan mengingat materi yang disampaikan guru. Siswa perlu mengetahui isi pengetahuan yang dipelajari serta memahami maknanya bagi proses belajar mereka. Kesadaran tersebut membuat kegiatan pembelajaran memiliki arah yang dapat dikenali oleh peserta didik, bukan sekadar rangkaian materi yang harus diselesaikan. Dengan memahami materi, siswa dapat mengikuti proses belajar secara lebih utuh dan menyadari keterkaitan kegiatan yang dijalani dengan pengetahuan yang diperoleh. Prinsip ini menempatkan pemahaman sebagai bagian penting dari pengalaman belajar.
Kesadaran belajar juga mencakup pemahaman mengenai alasan suatu materi dipelajari. Peserta didik diharapkan mengetahui mengapa pengetahuan tertentu menjadi bagian dari pembelajaran, sehingga mereka tidak menjalani proses tersebut tanpa memahami tujuannya. Menurut penjelasan Abdul Mu’ti, pemahaman atas alasan dan tujuan belajar membantu siswa melihat kegiatan belajar sebagai proses yang bermakna. Mereka tidak hanya mengikuti apa yang diberikan, tetapi juga mengenali hal yang hendak dicapai melalui proses itu. Dengan demikian, kesadaran berkaitan dengan pemahaman terhadap materi, alasan mempelajarinya, dan tujuan yang ingin dicapai. Ketiga unsur itu memberi orientasi kepada peserta didik ketika mereka terlibat dalam pembelajaran.
Prinsip ini sekaligus mendorong keterlibatan aktif siswa. Peserta didik tidak ditempatkan hanya sebagai penerima materi dari guru, melainkan sebagai pihak yang ikut berpikir dan berusaha memahami pengetahuan. Mereka diharapkan dapat mengajukan pertanyaan serta mencermati apa yang dipelajari, sehingga pemahaman tidak berhenti pada penyampaian informasi. Peran aktif tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berlangsung melalui keterlibatan siswa dalam proses memahami, bukan hanya melalui hadir dan mendengarkan. Dalam arah yang dijelaskan Abdul Mu’ti, siswa perlu menyadari proses yang dijalani dan turut membangun pemahamannya atas pengetahuan yang diperoleh. Keterlibatan ini tetap berpusat pada pemahaman materi, alasan belajar, dan tujuan yang hendak dicapai. Karena itu, pembelajaran berkesadaran mengarahkan siswa untuk hadir secara intelektual dalam belajar, memahami apa yang dipelajari, serta mengetahui maksud dan capaian proses tersebut.
Dalam penjelasannya mengenai pembelajaran mendalam bagi siswa di Papua, Abdul Mu’ti menguraikan prinsip bermakna sebagai cara menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan peserta didik. Pengetahuan yang dipelajari di kelas diharapkan tidak berdiri sendiri atau terasa jauh dari keseharian. Materi dapat dipahami melalui kaitannya dengan pengalaman sehari-hari, lingkungan sosial, dan kondisi alam di sekitar siswa. Dengan hubungan tersebut, proses belajar membantu peserta didik melihat bahwa pelajaran memiliki keterkaitan dengan dunia yang mereka kenal.
Prinsip bermakna juga menempatkan pemahaman atas manfaat pengetahuan sebagai hal penting. Siswa diharapkan bukan hanya mengetahui materi yang disampaikan, tetapi mengerti kegunaan pengetahuan itu dalam kehidupan. Ketika pelajaran dikaitkan dengan keadaan sekitar, peserta didik dapat mengenali bagaimana suatu gagasan atau informasi berhubungan dengan situasi yang mereka hadapi. Lingkungan sosial dan alam menjadi konteks untuk memahami materi, bukan sekadar latar yang terpisah dari kegiatan belajar. Dengan demikian, belajar diarahkan pada pemahaman tentang hubungan pengetahuan dan kehidupan.
Menurut uraian Abdul Mu’ti, tujuan pendekatan ini bukan sekadar membuat siswa menghafal materi demi memenuhi kebutuhan akademik. Hafalan saja belum menunjukkan bahwa peserta didik memahami manfaat pengetahuan atau mampu melihat penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran yang bermakna diharapkan memberi ruang bagi siswa untuk memahami apa yang dipelajari dan mengapa pengetahuan tersebut berguna. Keterkaitan dengan lingkungan sekitar membantu memperjelas makna itu, tanpa menghilangkan pentingnya materi pelajaran. Dengan memahami pelajaran dalam konteks kehidupan, siswa diharapkan memperoleh pengetahuan yang tidak hanya tersimpan sebagai bahan hafalan, tetapi juga dipahami manfaat serta penerapannya. Itulah inti prinsip bermakna sebagaimana dijelaskan Abdul Mu’ti: pelajaran perlu terhubung dengan pengalaman sehari-hari, kehidupan sosial, dan kondisi alam peserta didik, sehingga proses belajar memiliki arti dalam kehidupan mereka.Prinsip menggembirakan dalam pembelajaran mendalam bukan sekadar membuat kegiatan belajar terasa menyenangkan. Prinsip ini bertujuan menghadirkan suasana yang nyaman, menarik, dan mendorong peserta didik untuk terlibat secara aktif. Ketika anak merasa aman untuk bertanya, mencoba, serta menyampaikan pendapat, mereka dapat menjalani proses belajar dengan lebih percaya diri. Suasana seperti itu juga membantu menumbuhkan motivasi agar siswa terus belajar, bukan hanya untuk menyelesaikan tugas atau memenuhi tuntutan sekolah. Karena itu, kegembiraan perlu hadir bersama pengalaman belajar yang bermakna dan memberi ruang bagi rasa ingin tahu.
Menurut Abdul Mu’ti, suasana belajar yang mendukung perlu dibangun dengan memperhatikan karakteristik, potensi, dan kebutuhan setiap anak. Setiap peserta didik memiliki kemampuan, minat, latar belakang, serta cara belajar yang berbeda. Guru perlu memahami perbedaan tersebut ketika menentukan pendekatan, kegiatan, dan dukungan yang diberikan di kelas. Dengan demikian, kesempatan untuk berkembang tidak hanya tersedia bagi siswa yang cepat memahami materi atau berani berbicara. Anak-anak dapat memperoleh ruang untuk belajar sesuai tahap perkembangannya, mengenali kekuatan diri, dan meningkatkan kemampuan secara bertahap. Perhatian terhadap kebutuhan masing-masing juga membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih adil dan inklusif.
Peran guru menjadi penting dalam mengenali kemampuan seluruh siswa, termasuk mereka yang cenderung kurang aktif. Sikap diam tidak selalu berarti seorang anak tidak memahami pelajaran atau tidak memiliki potensi; bisa jadi ia membutuhkan waktu, cara penyampaian, atau bentuk dukungan yang berbeda. Guru dapat mengamati keterlibatan siswa, membuka beragam kesempatan untuk berpartisipasi, dan memberi dorongan tanpa membuat mereka merasa tertekan. Pendekatan yang peka memungkinkan setiap anak menunjukkan pemahamannya dengan cara yang sesuai, sekaligus memperkuat rasa percaya diri. Harapannya, penerapan ketiga prinsip pembelajaran mendalam tidak berhenti pada penyampaian materi.
Baca juga: Kembali Normal: Pembelajaran Sekolah di Jakarta Mulai Hari Ini | Investigasi Mendalam Atas Tragedi KM Virgo Transport 8






