Bekasi | Ketika kekeringan melanda, warga Desa Medalkrisna, Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Sumber air yang biasanya dapat diandalkan mulai berkurang, sementara sawah di sekitar permukiman mengering. Dalam keadaan seperti itu, memperoleh air bukan lagi perkara sederhana: sebagian warga perlu menempuh jarak untuk mengambilnya dan membawa pulang persediaan bagi keluarga.
Di Jalan Lurah Parman, sebuah sumur pompa tua masih menjadi tempat warga mendapatkan air bersih tanpa biaya. Fasilitas sederhana ini telah ada sejak puluhan tahun lalu dan terus digunakan hingga sekarang. Meski tidak baru, keberadaannya tetap berarti bagi masyarakat, terutama ketika sumber air lain tidak lagi tersedia atau tidak mencukupi kebutuhan. Bagi warga yang menghadapi musim kering, sumur tersebut menjadi salah satu tumpuan untuk memperoleh air.
Warga datang dengan wadah masing-masing untuk menampung air yang dapat digunakan di rumah. Kegiatan mengambil air membutuhkan waktu dan tenaga, terlebih bagi mereka yang tinggal lebih jauh dari lokasi sumur. Namun, selama pompa masih bisa dimanfaatkan, warga tetap mengandalkannya. Air dari sumur itu membantu memenuhi kebutuhan dasar, seperti memasak, mencuci, dan keperluan rumah tangga lainnya, ketika pilihan lain semakin terbatas.
Keberadaan sumur pompa tersebut juga memperlihatkan pentingnya fasilitas air bersih yang dekat dan dapat diakses masyarakat. Usianya yang sudah panjang menunjukkan bahwa sumur ini telah menjadi bagian dari kehidupan warga Medalkrisna selama bertahun-tahun. Pada saat kekeringan, fungsi fasilitas itu terasa semakin nyata: bukan sekadar sarana umum, melainkan harapan utama bagi warga yang kesulitan memperoleh air.
Meski demikian, ketergantungan pada satu sumber air membuat warga rentan ketika kemarau berlangsung lama atau pompa mengalami gangguan. Selama sumber lain belum tersedia, sumur tua di Jalan Lurah Parman tetap menjadi tujuan mereka. Dari sana, warga berupaya menjaga kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi, sambil menempuh perjalanan untuk mendapatkan air bersih di tengah lingkungan yang kering.
Di Medalkrisna, hampir tujuh bulan tanpa hujan telah membawa wilayah ini ke kondisi kekeringan yang semakin berat. Selama periode tersebut, curah hujan yang biasanya mengisi kembali tampungan air tidak kunjung datang. Akibatnya, sumber-sumber air utama yang selama ini dimanfaatkan warga menyusut dan sebagian tidak lagi dapat digunakan. Situ Bedeng, yang sebelumnya menjadi andalan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air, kini telah mengering total. Kondisi itu berlangsung sejak sekitar tiga bulan lalu. Air yang tersisa di situ tidak lagi terlihat, sehingga warga tidak dapat mengandalkan tampungan tersebut untuk mengambil air seperti sebelumnya.
Keringnya situ terjadi bersamaan dengan mengeringnya sumur-sumur galian milik warga. Sumur yang biasanya menyediakan air di sekitar rumah kini tidak lagi cukup atau tidak dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Warga pun harus mencari sumber lain di luar lingkungan tempat tinggal mereka. Perubahan ini membuat akses terhadap air bersih menjadi lebih sulit, terutama karena sumber yang masih dapat dimanfaatkan berada cukup jauh. Bagi masyarakat, perjalanan untuk memperoleh air bukan lagi pilihan sesekali, melainkan kebutuhan yang harus dilakukan ketika persediaan di rumah tidak tersedia. Situasi tersebut menggambarkan dampak langsung kemarau panjang terhadap kehidupan sehari-hari.
Untuk mendapatkan air, warga menempuh perjalanan hingga satu kilometer pulang-pergi menuju sumur pompa yang berada di tengah persawahan. Jarak itu harus dilalui karena sumur tersebut masih menjadi salah satu sumber air yang dapat diandalkan ketika situ dan sumur galian mengering. Warga mengambil air dari sana untuk dibawa kembali ke rumah dan digunakan sesuai kebutuhan. Perjalanan berulang menambah beban dalam memperoleh air, sebab sumbernya tidak berada dekat permukiman. Ketergantungan pada sumur pompa di area persawahan juga menunjukkan terbatasnya pilihan yang tersisa di tengah kekeringan. Selama hujan belum turun dan sumber air belum pulih, warga Medalkrisna masih harus menempuh jarak tersebut demi memperoleh air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga Medalkrisna harus mengangkut air bersih dari tempat pasokan menuju rumah masing-masing. Air dibawa dalam jerigen, dengan jumlah yang dapat mencapai belasan hingga puluhan jerigen dalam satu perjalanan. Karena jumlahnya banyak dan perlu dibawa sekaligus, warga menggunakan sepeda motor atau gerobak sebagai alat angkut. Cara ini menjadi bagian dari rutinitas mereka untuk menyediakan air bagi kebutuhan rumah tangga.
Jerigen-jerigen tersebut ditata dan dibawa pulang setelah warga mendapatkan air. Pengangkutan dengan sepeda motor maupun gerobak membantu memindahkan beban yang sulit dibawa satu per satu dengan tangan. Namun, prosesnya tetap memerlukan tenaga dan waktu, terutama ketika warga harus menempuh jarak untuk mengambil pasokan. Kebutuhan air yang terus berlangsung membuat warga perlu mengatur pengambilan agar persediaan di rumah dapat digunakan untuk kegiatan harian.
Pasokan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Bekasi telah menjangkau desa. Kehadiran bantuan tersebut menjadi sumber air yang dimanfaatkan warga, tetapi jumlah yang tersedia belum mencukupi kebutuhan mereka. Arifin Ilham (25) menyampaikan bahwa bantuan biasanya datang sekitar dua kali dalam sepekan. Menurutnya, pasokan yang ada masih belum memenuhi kebutuhan warga, sehingga mereka tetap harus berupaya mendapatkan dan membawa air untuk digunakan di rumah.
Keterangan itu menunjukkan bahwa tersedianya bantuan belum otomatis membuat kebutuhan harian seluruhnya terpenuhi. Warga masih mengandalkan pengangkutan air menggunakan kendaraan dan alat bantu untuk membawa jerigen dalam jumlah banyak. Bagi mereka, setiap pasokan yang datang perlu dimanfaatkan sebaik mungkin, sementara kebutuhan air berlangsung dari hari ke hari. Sepeda motor dan gerobak pun berperan penting dalam membantu warga memindahkan air dari tempat pengambilan ke rumah. Dengan bantuan yang biasanya datang sekitar dua kali sepekan, warga tetap perlu mengelola persediaan di kedatangan pasokan. Upaya membawa belasan hingga puluhan jerigen memperlihatkan bagaimana warga berusaha memenuhi kebutuhan air, meskipun bantuan yang telah menjangkau desa itu menurut Arifin belum mencukupi.Di Kampung Sukasirna, Desa Medalkrisna RT 06/RW 03, pemenuhan air bersih menjadi kebutuhan yang harus diupayakan warga setiap hari. Sebagian warga membeli air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, dengan harga Rp80 ribu untuk 500 liter. Menurut keterangan narasumber, jumlah tersebut digunakan selama sekitar satu minggu. Karena persediaan terbatas, warga perlu mengatur pemakaian agar air yang dibeli dapat mencukupi kebutuhan sampai pasokan berikutnya tersedia.
Air yang dibeli digunakan untuk kebutuhan sehari-hari di rumah. Sementara itu, untuk mandi, mencuci, dan kakus atau MCK, warga menyimpan air yang berasal dari bantuan pemerintah. Bantuan tersebut termasuk yang disalurkan melalui PMI atau BNPB setempat. Persediaan bantuan menjadi salah satu sumber air yang dapat dimanfaatkan warga untuk keperluan MCK, di tengah keterbatasan akses terhadap air bersih. Dengan sumber yang berbeda untuk kebutuhan rumah tangga dan MCK, warga mengandalkan pasokan yang tersedia sambil menyesuaikan penggunaan air.
Kondisi ini menunjukkan bahwa akses air di wilayah tersebut masih bergantung pada upaya warga memperoleh pasokan dan bantuan yang datang. Pembelian air dengan jumlah tertentu memberi persediaan untuk waktu terbatas, sedangkan air bantuan turut menopang kebutuhan dasar. Warga juga masih mengandalkan sumur pompa yang berada di tengah sawah. Sumber air itu menjadi tumpuan di tengah kondisi yang belum menyediakan pemenuhan air bersih secara permanen.






