Kabupaten Bangka Selatan | Kebakaran lahan gambut melanda Desa Jelutung II, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung. Kobaran api yang awalnya berada di kawasan gambut kemudian merambat ke area permukiman warga. Peristiwa tersebut menyebabkan 305 rumah hangus terbakar dan berdampak besar terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.
Lahan gambut yang terbakar diperkirakan memiliki luas sekitar empat hektare. Karakteristik gambut yang mudah menyimpan panas membuat api tidak hanya menyebar di permukaan, tetapi juga dapat bergerak melalui lapisan bawah tanah. Kondisi ini menyulitkan proses penanganan karena bara yang tersembunyi berpotensi kembali memunculkan titik api, meskipun kobaran di permukaan telah berhasil dikendalikan.
Hingga upaya penanganan berlangsung, kebakaran belum sepenuhnya dinyatakan padam. Petugas masih menemukan api di bagian bawah lahan gambut, sehingga proses pemadaman terus dilakukan secara berkelanjutan. Penanganan difokuskan pada pendinginan area terdampak dan penelusuran titik-titik bara untuk mencegah api kembali menyebar ke lingkungan sekitar.
Perambatan api dari lahan gambut menuju permukiman menunjukkan besarnya risiko kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan tempat tinggal warga. Selain menghanguskan ratusan rumah, kondisi tersebut juga membuat proses evakuasi dan penanganan harus dilakukan dengan kewaspadaan tinggi. Petugas perlu memastikan seluruh bagian lahan, termasuk lapisan gambut di bawah permukaan, benar-benar aman sebelum operasi pemadaman dihentikan.
Penanganan kebakaran gambut di Simpang Rimba masih dilakukan secara intensif setelah api menghanguskan 305 rumah. Petugas pemadam kebakaran bersama unsur terkait terus berupaya mengendalikan titik-titik api yang tersebar di wilayah terdampak. Proses pemadaman dilakukan dengan dukungan mobil AWC untuk menyuplai dan menyemprotkan air ke area yang sulit dijangkau, sekaligus membantu membasahi lahan gambut agar bara tidak kembali menyala.
Upaya tersebut melibatkan kepolisian, pemerintah daerah, serta instansi terkait lainnya. Koordinasi antarpetugas dilakukan di lapangan untuk menentukan prioritas pemadaman, memantau perkembangan asap, dan memastikan warga tetap berada di lokasi yang aman. Karakteristik lahan gambut yang mudah menyimpan bara membuat proses pemadaman memerlukan pengawasan berkelanjutan, meskipun api permukaan telah terlihat mereda.
Saat meninjau pos pengungsian pada Minggu malam, 11 Oktober 2026, Wakapolda Brigjen Murry Mirranda menjelaskan bahwa petugas masih berjibaku memadamkan sejumlah titik api. Menurut dia, pengerahan personel tidak hanya ditujukan untuk menangani kebakaran yang masih berlangsung, tetapi juga mencegah munculnya kembali api di area yang sebelumnya telah dipadamkan. Pemeriksaan dan pemantauan dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi bara yang dapat menyebar melalui lapisan gambut.
Kepolisian mengerahkan 213 personel yang berasal dari polda dan polres. Mereka disiagakan untuk berjaga di sekitar lokasi, memantau titik api, membantu pengamanan warga, serta mendukung kelancaran pekerjaan tim pemadam dan instansi lainnya. Personel tersebut tetap ditempatkan di lapangan hingga batas waktu yang belum ditentukan. Penetapan masa siaga akan menyesuaikan kondisi kebakaran, hasil pemantauan, dan kebutuhan pengamanan di wilayah terdampak.
Peristiwa kebakaran gambut di Simpang Rimba tidak menimbulkan korban jiwa. Berdasarkan informasi yang tersedia, tidak ada laporan mengenai warga yang meninggal dunia akibat kejadian tersebut. Meski demikian, kebakaran itu mengakibatkan kerugian besar karena 305 rumah semi permanen yang berdiri di atas lahan gambut terbakar habis.
Rumah-rumah tersebut berada di kawasan yang terdampak langsung oleh kebakaran. Seluruh bangunan semi permanen itu dilaporkan hangus, sehingga warga yang sebelumnya menempati rumah tersebut kehilangan tempat tinggal. Informasi mengenai kerusakan lain di luar 305 rumah itu belum tersedia dan tidak dapat dirinci lebih lanjut.
Tidak adanya korban jiwa menjadi informasi penting dalam penanganan kejadian ini. Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi besarnya dampak kebakaran terhadap masyarakat setempat. Pemadaman masih berlangsung, sementara upaya penanganan terus dilakukan untuk mengendalikan kebakaran di area gambut yang terdampak.
Selain proses pemadaman, aparat kepolisian masih menyelidiki kasus kebakaran tersebut. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui penyebab kebakaran berdasarkan fakta dan keterangan yang diperoleh selama proses pemeriksaan. Sampai saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab kejadian itu.
Polisi perlu memastikan setiap informasi terkait peristiwa tersebut diperiksa secara menyeluruh. Karena penyelidikan masih berjalan, berbagai kemungkinan tidak dapat disimpulkan sebelum terdapat hasil resmi dari aparat. Masyarakat diharapkan menunggu keterangan yang disampaikan berdasarkan perkembangan penanganan dan penyelidikan.
Kebakaran di Simpang Rimba dengan demikian menimbulkan dampak besar berupa musnahnya 305 rumah semi permanen di atas lahan gambut, tetapi tidak menyebabkan korban jiwa. Pemadaman tetap berlangsung dan penyelidikan kepolisian masih berjalan untuk mengungkap penyebab kebakaran secara resmi.
Penanganan terhadap warga yang rumahnya terbakar dilakukan bersamaan dengan proses pemadaman kebakaran gambut di Simpang Rimba. Warga terdampak membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah kehilangan tempat tinggal dan barang-barang milik mereka. Untuk membantu meringankan kondisi tersebut, Polda menyiapkan bantuan sosial berupa bahan kebutuhan pokok atau sembako serta pakaian layak pakai. Bantuan itu disiapkan dalam jumlah besar, termasuk dengan mengerahkan tiga truk untuk mengangkut dan mendistribusikannya kepada warga yang terdampak.
Selain menyiapkan bantuan logistik, kepolisian mendirikan dapur lapangan bagi warga yang rumahnya terbakar. Fasilitas tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan sekitar 500 warga selama mereka berada di lokasi pengungsian. Dapur lapangan didirikan di dua tempat, yakni SDN 07 Simpang Rimba dan Masjid Al Muhajirin. Kedua lokasi itu menjadi titik pelayanan bagi warga, khususnya untuk mendapatkan makanan dan dukungan dasar selama penanganan bencana berlangsung.
Penyediaan sembako, pakaian layak pakai, serta makanan dari dapur lapangan menjadi bagian dari upaya penanganan warga setelah kebakaran menghanguskan ratusan rumah. Bantuan disalurkan dengan mempertimbangkan kebutuhan warga yang terdampak langsung, sementara petugas tetap melakukan koordinasi di lokasi pengungsian dan area kebakaran. Dukungan tersebut diberikan selama warga masih membutuhkan tempat berlindung dan pemenuhan kebutuhan pokok akibat rumah mereka terbakar.
Di sisi lain, proses pemadaman masih berlangsung di area terdampak. Petugas juga terus memantau titik-titik api untuk mencegah munculnya kembali bara dan memastikan penanganan kebakaran berjalan secara berkelanjutan.
Baca juga: Upaya Pemadaman Kebakaran Gunung Bromo Melalui Water Bombing | Upaya Pemadaman Kebakaran di Taman Nasional Bromo | BABINSA BERSAMA DAMKAR DAN RELAWAN PADAMKAN KEBAKARAN LAHAN DI HARAPAN BARU

