Jakarta | Pada awal abad ke-18, jumlah warga Tionghoa di Batavia terus bertambah, sementara keadaan ekonomi kota sedang lesu. Perdagangan tidak selalu berjalan lancar dan kesempatan memperoleh penghasilan terasa semakin terbatas. Perpaduan pertumbuhan penduduk dan tekanan ekonomi ini membuat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan, tempat tinggal, serta akses terhadap sumber penghidupan kian nyata. Dalam suasana demikian, keberadaan komunitas Tionghoa menjadi bagian penting dari kehidupan kota, tetapi juga semakin sering dipandang oleh penguasa kolonial melalui kacamata ketertiban dan pengendalian.
Besarnya populasi warga Tionghoa pada masa itu tidak dapat dipastikan secara tepat. Benny G. Setiono, dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008), menyebut perkiraan jumlah mereka berkisar dari sekitar 4.000 hingga belasan ribu orang. Rentang yang lebar tersebut menunjukkan bahwa angka populasi sebaiknya dipahami sebagai perkiraan, bukan hasil pencatatan yang sepenuhnya pasti. Meski demikian, pertumbuhan komunitas itu cukup menonjol untuk menarik perhatian pemerintah VOC, terutama ketika kondisi ekonomi Batavia melemah dan kecemasan terhadap stabilitas kota meningkat.
Gubernur Jenderal VOC Adriaan Valckenier kemudian mengambil kebijakan untuk mengurangi jumlah warga Tionghoa di Batavia dengan memindahkan sebagian dari mereka ke wilayah lain. Sri Lanka termasuk tujuan yang disebut dalam rencana pemindahan tersebut. Dari sudut pandang pemerintah, kebijakan itu berkaitan dengan upaya mengatur populasi dan meredakan tekanan di kota. Namun, bagi warga yang terdampak, pemindahan paksa berarti ketidakpastian: mereka dapat terpisah dari keluarga, kehilangan mata pencaharian, dan tidak mengetahui seperti apa kehidupan di tempat tujuan.
Keresahan bertambah ketika beredar kabar bahwa pemindahan ke luar Batavia hanyalah kedok, dan bahwa warga yang dinaikkan ke kapal sesungguhnya akan dibuang ke tengah laut. Kabar semacam ini memperkuat rasa takut terhadap kebijakan VOC dan memicu kecurigaan di tengah komunitas. Namun, sumber yang tersedia tidak memastikan bahwa kabar tersebut benar. Karena itu, penting membedakan adanya rumor yang beredar dan pembuktian bahwa rencana pembuangan memang dilaksanakan. Dalam situasi ekonomi yang sulit dan hubungan dengan penguasa yang menegang, rumor itu tetap berpengaruh besar: kebijakan pemindahan tidak lagi dipahami sekadar sebagai pengaturan penduduk, melainkan sebagai ancaman terhadap keselamatan warga.
Ketakutan dan keresahan menjadi bagian penting dari suasana yang melingkupi warga Tionghoa di Batavia pada masa Geger Pecinan 1740. Dalam keadaan penuh ketidakpastian, sebagian warga memilih mempersenjatai diri. Pilihan itu menandai perubahan dari rasa cemas menjadi perlawanan terbuka terhadap kekuasaan VOC. Namun, tindakan tersebut tidak dapat digeneralisasi sebagai sikap seluruh masyarakat Tionghoa. Perlawanan dilakukan oleh sebagian warga, sementara pengalaman dan keputusan orang-orang pada masa itu beragam. Ketegangan yang berkembang memperlihatkan bagaimana rasa takut dapat berkelindan dengan ancaman kekerasan dan mendorong tindakan yang semakin berisiko.
Sasaran perlawanan mencakup sejumlah kepentingan VOC, termasuk pabrik gula. Serangan terhadap sasaran-sasaran itu menunjukkan bahwa bentrokan tidak terbatas pada satu lokasi atau satu bentuk tindakan. Pabrik gula menjadi salah satu tempat yang terdampak, tetapi tidak perlu dianggap sebagai satu-satunya sasaran. Di tengah keadaan tersebut, VOC mengerahkan kekuatan militernya untuk menghadapi perlawanan. Pengerahan pasukan memperlihatkan bahwa otoritas kolonial menanggapi situasi itu sebagai tantangan keamanan yang memerlukan tindakan bersenjata. Kehadiran kekuatan militer juga menambah bobot konfrontasi pihak VOC dan warga yang melakukan perlawanan, tanpa menghapus kenyataan bahwa rasa takut dan keresahan merupakan bagian dari latar suasana.
Ketegangan meningkat ketika puluhan tentara VOC dilaporkan tewas. Laporan tersebut menjadi unsur penting dalam gambaran konflik, karena menegaskan besarnya risiko yang dihadapi pasukan dalam bentrokan. Angka itu perlu disampaikan sebagaimana dilaporkan, bukan dikembangkan menjadi rincian lain yang tidak tersedia. Bersama pengerahan kekuatan militer dan serangan terhadap sejumlah sasaran, kabar tentang korban di pihak VOC memperlihatkan bahwa perlawanan telah mencapai tingkat yang serius. Gambaran ini membantu menjelaskan suasana konfrontasi pada 1740: keresahan mendorong sebagian warga untuk mempersenjatai diri dan menyerang kepentingan VOC, sementara tanggapan militer dan laporan jatuhnya korban membuat ketegangan semakin tinggi. Uraian ini berfokus pada unsur-unsur tersebut, tanpa menambahkan motif atau tahapan kejadian yang tidak disebutkan dalam bahan sumber.
Menurut catatan sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1999), kekerasan di Batavia meningkat tajam pada Oktober 1740. Pada 9 Oktober, Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier mengerahkan pasukan untuk menyisir permukiman warga Tionghoa, baik yang berada di dalam maupun di luar tembok kota. Operasi tersebut berlangsung di tengah ketegangan dan kecurigaan terhadap komunitas Tionghoa, yang sebelumnya telah menghadapi tekanan serta kebijakan pemerintah kolonial. Penyisiran itu menjadi awal dari rangkaian kekerasan terbuka yang segera meluas.
Sehari kemudian, pembantaian besar-besaran pecah. Warga Tionghoa yang ditemukan menjadi sasaran kekerasan tanpa membedakan usia ataupun jenis kelamin. Dengan demikian, serangan tidak terbatas pada orang-orang yang dicurigai terlibat dalam perlawanan, tetapi menimpa penduduk sipil secara luas. Kekerasan terus berlangsung hingga 22 Oktober 1740. Jumlah korban diperkirakan mencapai belasan ribu orang, meskipun angka pasti sulit ditetapkan. Besarnya korban dan lamanya serangan menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar bentrokan singkat, melainkan tragedi yang menghancurkan kehidupan komunitas Tionghoa di Batavia.
Gambaran mengenai skala kehancuran juga tercatat dalam kesaksian G. Bernhard Schwarzen, yang diterbitkan dalam Reise in Ost-Indien (1751). Ia menggambarkan jalan, gang, dan kanal di kota dipenuhi mayat. Catatan itu menghadirkan potret langsung tentang dampak pembantaian terhadap ruang hidup sehari-hari: jalur yang biasanya digunakan penduduk untuk bergerak dan berdagang berubah menjadi tempat berseraknya korban. Schwarzen juga menyebut tumpukan mayat di kanal, dengan tubuh-tubuh yang bertumpuk di dalamnya. Kesaksiannya mempertegas bahwa kematian terjadi dalam jumlah besar dan meninggalkan pemandangan yang mengerikan di berbagai bagian Batavia. Jika dibaca bersama kronologi Ricklefs, uraian tersebut memperlihatkan bagaimana penyisiran pada 9 Oktober berkembang menjadi pembantaian mulai keesokan harinya, lalu berlanjut selama hampir dua pekan. Catatan itu penting sebagai gambaran tentang skala tragedi, sekaligus pengingat bahwa angka korban tidak sepenuhnya menangkap penderitaan manusia yang dialami warga Tionghoa dan kehancuran yang ditinggalkan di kota.Setelah kekerasan mereda, kerusakan di berbagai bagian Batavia menjadi jejak nyata dari Geger Pecinan. Rumah-rumah warga Tionghoa dijarah, barang-barang mereka dirampas, dan banyak tempat tinggal dihancurkan atau terbakar. Kehilangan rumah dan harta benda memperdalam penderitaan orang-orang yang selamat, sementara keluarga tercerai-berai dan lingkungan tempat mereka hidup berubah drastis. Peristiwa ini bukan hanya rangkaian bentrokan, melainkan juga kehancuran kehidupan sehari-hari yang telah lama dibangun di kota tersebut.
Dalam ingatan sejarah Batavia, Geger Pecinan dikenang sebagai salah satu tragedi paling kelam pada masa VOC. Skala kekerasan dan akibatnya bagi penduduk Tionghoa menjadikan peristiwa 1740 penting untuk memahami hubungan kekuasaan kolonial, masyarakat kota, dan kebijakan terhadap kelompok-kelompok penduduk. Sejumlah kisah lokal juga mengaitkan tragedi itu dengan asal-usul nama Kali Angke. Menurut Alwi Shahab dalam Betawi: Queen of the East (2002), nama tersebut konon berasal dari bahasa Hokkien: “ang” berarti merah, sedangkan “ke” berarti sungai. Penjelasan ini menghubungkan nama sungai dengan warna air yang dipercaya berubah akibat pertumpahan darah.
Namun, asal-usul nama Kali Angke tidak hanya dijelaskan melalui kisah tersebut. Ada pula versi yang menghubungkannya dengan Tubagus Angke, seorang tokoh yang namanya dikaitkan dengan kawasan itu.






