Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) telah berada di kisaran US5–US6 per barel. Angka tersebut ia sampaikan seusai menghadiri rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/10). Pernyataan itu menunjukkan ICP telah menembus US0 per barel, di tengah perkembangan situasi global yang dinilai semakin tidak menentu.
Bahlil menyebut kisaran tersebut sebagai angka ICP pada hari itu. Ia mengaitkan kenaikan harga minyak dengan dinamika global yang sulit dipastikan arahnya. Meski tidak merinci faktor-faktor pemicu secara khusus dalam keterangan tersebut, ia menegaskan bahwa ketidakpastian dunia menjadi latar penting dalam membaca pergerakan harga minyak mentah. Angka US$105–US$106 per barel itu merujuk pada kondisi yang disampaikannya pada Senin (19/10), bukan proyeksi untuk periode mendatang.
ICP merupakan acuan harga rata-rata minyak mentah Indonesia yang digunakan dalam konteks sektor energi nasional. Karena itu, perubahan nilainya menjadi perhatian pemerintah, terutama ketika harga berada pada tingkat tinggi dan kondisi pasar global berubah-ubah. Pernyataan Bahlil memberi gambaran mengenai posisi harga saat itu, sekaligus menempatkan perkembangan ICP dalam konteks ketidakpastian yang ia soroti setelah rapat di Istana Kepresidenan. Keterangan tersebut belum dengan sendirinya menjelaskan dampak langsung terhadap harga bahan bakar di dalam negeri.
Penyampaian angka ICP ini muncul bersamaan dengan perhatian publik terhadap ketersediaan energi nasional. Namun, dalam pernyataannya seusai rapat, Bahlil secara khusus menyoroti kisaran harga minyak mentah Indonesia dan situasi global yang semakin tidak menentu. Dengan demikian, angka yang dapat dipastikan dari keterangan tersebut adalah ICP berada di sekitar US$105–US$106 per barel pada Senin (19/10). Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada perubahan kondisi pasar dan informasi resmi berikutnya mengenai harga minyak mentah Indonesia.
Bahlil menyebut harga Indonesian Crude Price (ICP) terkini telah melampaui US$100 per barel dan mencapai sekitar US$106 per barel. Namun, angka tersebut perlu dibaca bersama perkembangan harga sepanjang tahun, bukan sebagai gambaran tunggal kondisi rata-rata. Menurut Bahlil, rata-rata ICP sejak awal tahun hingga Oktober masih berada pada kisaran US$91–US$92 per barel. Perbedaan angka terkini dan rerata tahun berjalan menunjukkan bahwa lonjakan pada periode tertentu belum otomatis menjadikan rata-rata keseluruhan setinggi harga terbaru. Karena itu, evaluasi atas dampak perubahan harga minyak perlu mempertimbangkan rentang waktu pengukuran dan asumsi yang digunakan pemerintah.
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan ICP September sebesar US$112,81 per barel. Nilai bulanan ini lebih tinggi daripada angka sekitar US$106 yang disebut sebagai harga terkini, tetapi keduanya merujuk pada waktu pengamatan yang berbeda. ICP September merupakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia untuk bulan tersebut, sedangkan angka terkini menggambarkan perkembangan pada saat pernyataan disampaikan. Perbedaan waktu itu penting agar pembaca tidak menyamakan harga bulanan dengan harga pada satu titik waktu. Pergerakan harga minyak dapat berubah mengikuti dinamika pasar internasional, sehingga nilai untuk setiap periode dapat berbeda.
ICP juga berfungsi sebagai salah satu asumsi makroekonomi dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah menggunakannya, lain, untuk memperkirakan penerimaan negara dari kegiatan hulu minyak dan gas bumi serta menghitung kebutuhan belanja, termasuk subsidi energi. Ketika harga minyak berubah, proyeksi penerimaan dan beban anggaran dapat ikut terdampak, meskipun hasil akhirnya juga bergantung pada produksi, nilai tukar, kebijakan, dan faktor lainnya. Selain kepentingannya dalam perencanaan fiskal, ICP mencerminkan pergerakan harga minyak mentah global. Perubahan harga tersebut dapat memengaruhi perhitungan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Dengan demikian, angka ICP berkaitan sekaligus dengan penerimaan negara, perencanaan subsidi, dan dinamika harga energi yang dirasakan masyarakat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa ketahanan cadangan bahan bakar minyak nasional tidak sama untuk setiap jenis produk. Untuk BBM dengan angka oktan RON 90, yakni Pertalite, stok diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 16–20 hari. Sementara itu, cadangan untuk jenis BBM lainnya rata-rata berada di atas 20 hari. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa angka ketahanan perlu dibaca dengan memperhatikan jenis bahan bakar, bukan sebagai satu ukuran yang berlaku seragam bagi seluruh produk.
Rentang hari itu menggambarkan perkiraan kemampuan stok memenuhi konsumsi berdasarkan kondisi pasokan dan penyaluran yang berlangsung. Karena itu, angka cadangan bukan jumlah yang tetap atau batas waktu pasti ketika pasokan akan habis. Persediaan nasional terus berubah seiring BBM didistribusikan kepada masyarakat, baik untuk kebutuhan transportasi maupun aktivitas ekonomi lain. Pada saat yang sama, pasokan baru masuk dari kilang, sehingga stok dapat bertambah kembali. Pergerakan keluar-masuk tersebut membuat kondisi persediaan perlu dipantau secara berkala.
Keterangan mengenai stok Pertalite dan produk BBM lain juga memberi konteks tentang pengelolaan pasokan nasional. Pemerintah dan badan usaha perlu menjaga agar penyaluran berjalan sesuai kebutuhan, sekaligus memastikan produksi kilang dan pasokan tambahan mendukung ketersediaan di berbagai wilayah. Jumlah cadangan yang dapat digunakan di suatu waktu dipengaruhi oleh tingkat konsumsi, jadwal distribusi, serta penerimaan pasokan baru. Dengan demikian, penyebutan ketahanan sekitar 16–20 hari untuk Pertalite dan rata-rata lebih dari 20 hari bagi jenis lainnya merupakan gambaran dinamis, bukan jaminan bahwa persediaan akan bertahan dalam angka yang persis sama setiap hari. Pemantauan rutin dan kelancaran rantai pasok menjadi penting agar perubahan stok dapat diantisipasi dan kebutuhan masyarakat tetap terlayani. Informasi ini sebaiknya dipahami sebagai potret kondisi pasokan pada saat keterangan diberikan, dengan kemungkinan berubah mengikuti permintaan dan pengisian kembali persediaan. Karena komposisi konsumsi serta distribusi berbeda antarproduk dan daerah, angka rata-rata juga tidak berarti setiap lokasi memiliki jumlah stok yang identik. Gambaran tersebut membantu menjelaskan ketersediaan, tanpa menyamakan cadangan nasional dengan persediaan yang statis.Selain menjelaskan kondisi harga minyak dan ketersediaan BBM secara nasional, Bahlil juga menyampaikan bahwa pasokan di Bali sempat mengalami kendala. Menurut keterangannya, cadangan BBM di wilayah tersebut berada pada kisaran 11–12 hari. Ia menyebut kondisi itu menjadi perhatian dan meminta operator meningkatkan jumlah cadangan agar pasokan di Bali lebih kuat. Target yang disampaikan adalah menaikkan cadangan menjadi 15 hari, sehingga setara dengan standar nasional. Dengan demikian, fokus yang ia sampaikan mencakup langkah peningkatan persediaan sekaligus batas waktu untuk mencapai sasaran tersebut.
Bahlil meminta operator menambah cadangan dari tingkat 11–12 hari menjadi 15 hari. Ia menargetkan peningkatan itu dapat tercapai dalam satu minggu ke depan. Keterangan tersebut merupakan target yang disampaikan pada saat itu, bukan pernyataan bahwa cadangan sudah mencapai 15 hari. Angka 15 hari disebut sebagai tingkat yang diharapkan agar cadangan di Bali setara dengan standar nasional. Karena itu, perkembangan yang menjadi perhatian adalah pemenuhan target dalam jangka waktu satu minggu sebagaimana disebutkan, serta upaya operator untuk menaikkan persediaan di wilayah tersebut.
Adapun penyebab kendala pasokan yang dijelaskan Bahlil adalah keterlambatan kapal pembawa pasokan dari Jawa untuk masuk ke Bali.






