Kabupaten Kayong Utara. Meski | Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Barat menghadapi kendala pada jalur sungai. Gangguan tersebut berkaitan dengan kondisi Sungai Kapuas yang mengalami penyusutan akibat fenomena El Niño. Ketika permukaan air turun dan alur sungai menjadi dangkal, kapal tanker pengangkut BBM kesulitan melintas. Situasi ini menghambat pengiriman melalui rute perairan yang digunakan untuk memasok BBM.
Keterangan itu disampaikan Bahlil di Kilang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Jumat (23/10/2026). Ia menjelaskan bahwa El Niño menyebabkan Sungai Kapuas mengering dan pendangkalan alur sungai menyulitkan kapal tanker untuk melewatinya. Dengan demikian, persoalan yang disampaikan berkaitan secara khusus dengan kelancaran distribusi BBM melalui sungai di Kalimantan Barat. Kapal tanker yang membawa pasokan BBM tidak dapat melintas dengan mudah ketika kedalaman alur tidak mendukung pelayaran.
Hambatan tersebut menunjukkan bahwa kondisi Sungai Kapuas berpengaruh terhadap jalur distribusi yang mengandalkan transportasi air. Penyusutan sungai dan alur yang dangkal menjadi kendala bagi kapal tanker pengangkut BBM untuk melanjutkan perjalanan melalui rute tersebut. Penjelasan Bahlil menempatkan kondisi sungai sebagai faktor yang mengganggu perlintasan kapal dalam proses pengiriman, bukan sebagai keterangan mengenai persoalan lain pada distribusi BBM.
Dalam keterangannya, Bahlil menegaskan bahwa gangguan terjadi pada jalur distribusi sungai. Penjelasan mengenai kondisi ini berfokus pada pengeringan dan pendangkalan Sungai Kapuas akibat El Niño, serta kesulitan kapal tanker untuk melintas. Dengan batas keterangan tersebut, kendala pengiriman BBM di Kalimantan Barat dapat dipahami sebagai hambatan pada rute perairan. Bahlil menyampaikan informasi itu saat berada di Kilang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Jumat (23/10/2026), dengan pokok persoalan berupa terhambatnya pelayaran kapal tanker di Sungai Kapuas yang surut.
Untuk menjaga pasokan bahan bakar minyak bagi masyarakat ketika Sungai Kapuas surut, skema penyaluran di Kalimantan Barat disesuaikan dengan kondisi jalur air. Kapal tetap dimanfaatkan, tetapi perannya diarahkan sebagai tempat penampungan sementara. Setelah BBM berada di kapal, muatan dipindahkan ke mobil tangki untuk diteruskan melalui jalur darat menuju wilayah yang membutuhkan. Perubahan ini memungkinkan distribusi tidak hanya bergantung pada kapal yang menghadapi keterbatasan navigasi akibat rendahnya muka air sungai.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pola tersebut telah dibahas bersama Pertamina. Pembahasan itu mencakup cara mengatur pemindahan BBM dari kapal ke kendaraan darat agar penyaluran dapat terus berjalan di tengah kendala pada jalur sungai. Mobil tangki kemudian menjadi sarana untuk mengangkut bahan bakar dari titik penampungan menuju fasilitas penyaluran. Skema tersebut merupakan penyesuaian operasional untuk membantu menjaga ketersediaan pasokan, terutama saat kapal sulit bergerak atau tidak dapat menjangkau lokasi seperti biasanya.
Kendala distribusi sebelumnya sempat memengaruhi pasokan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat dan memicu antrean panjang masyarakat yang hendak membeli BBM. Situasi itu dilaporkan terjadi, lain, di Kabupaten Kayong Utara. Pengalihan ke jalur darat diharapkan membantu memperlancar pengiriman, tetapi pelaksanaannya tetap bergantung pada kondisi akses, kesiapan armada, serta proses pemindahan muatan. Karena itu, perubahan skema belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa antrean di semua wilayah telah sepenuhnya berakhir. Pemantauan pasokan dan kelancaran penyaluran masih diperlukan agar kebutuhan warga dapat dilayani secara bertahap. Bagi masyarakat, penggunaan kapal sebagai penampungan dan mobil tangki sebagai pengangkut lanjutan menandai upaya mempertahankan distribusi di tengah surutnya sungai, bukan penghapusan seluruh hambatan yang terjadi. Informasi mengenai perkembangan pasokan di masing-masing daerah tetap penting untuk menggambarkan dampak penyesuaian tersebut secara akurat.
Untuk menjaga ketersediaan bahan bakar minyak bagi masyarakat Kabupaten Sintang dan wilayah sekitarnya, PT Pertamina Patra Niaga menyiapkan langkah penyaluran alternatif. Penyusutan muka air Sungai Kapuas membuat kapal sulit mengakses Fuel Terminal Sintang, sehingga jalur logistik utama menghadapi kendala. Dalam kondisi tersebut, perusahaan mengoptimalkan fasilitas penyangga di Tayan, Kabupaten Sanggau, sebagai titik suplai yang dapat mendukung distribusi. Upaya ini ditujukan agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi ketika akses sungai tidak memungkinkan pengiriman secara normal.
Fasilitas di Tayan merupakan bagian dari rencana kontingensi Pertamina Patra Niaga untuk menghadapi gangguan pada jalur distribusi utama. Dari titik tersebut, BBM dapat dipersiapkan untuk diteruskan melalui jalur darat ke wilayah yang membutuhkan. Salah satu skema yang digunakan adalah direct loading, yaitu pengisian BBM secara langsung dari kapal ke mobil tangki. Setelah proses pengisian, mobil tangki mengangkut bahan bakar menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sesuai kebutuhan penyaluran. Skema ini memungkinkan proses distribusi berlangsung tanpa harus menunggu kapal mencapai Fuel Terminal Sintang.
Dengan memanfaatkan Tayan, titik pengambilan pasokan dapat didekatkan ke area distribusi yang terdampak, sekaligus memberi fleksibilitas bagi pengaturan perjalanan mobil tangki. Langkah tersebut menjadi penyesuaian operasional terhadap kondisi sungai, bukan pengganti permanen jalur distribusi yang biasa digunakan. VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa fasilitas penyangga itu dioptimalkan untuk menjaga kelancaran pasokan ke Sintang dan sekitarnya. Penyiapan rute dan mekanisme alternatif tersebut membantu perusahaan merespons hambatan akses kapal, sambil memastikan penyaluran BBM tetap berjalan melalui moda darat. Melalui rencana kontingensi, perusahaan dapat mengatur perpindahan pasokan dari titik yang masih dapat dijangkau menuju SPBU di wilayah tujuan, menyesuaikan kondisi lapangan dan kebutuhan masyarakat setempat.
Bahlil menyatakan bahwa persediaan bahan bakar minyak (BBM) secara nasional masih berada dalam kondisi aman. Ia juga menyampaikan bahwa stok BBM di wilayah Kalimantan tidak jauh berbeda dari kondisi nasional. Keterangan tersebut disampaikan untuk memberi gambaran mengenai ketersediaan pasokan di tengah perhatian terhadap distribusi BBM di Kalimantan Barat. Meski demikian, angka persediaan berbeda menurut jenis bahan bakar, sehingga kondisi stok perlu dipahami berdasarkan kategori masing-masing. Pernyataan mengenai stok ini tidak berarti bahwa setiap jenis BBM memiliki jumlah persediaan yang sama. Bahlil menjelaskan angka rata-rata untuk beberapa jenis, serta menyebut keadaan solar secara terpisah. Dengan demikian, penjelasan tentang keamanan pasokan mencakup stok nasional dan kondisi di Kalimantan, dengan rincian sesuai jenis BBM yang disebutkan.
Untuk Pertalite, Bahlil menyebut rata-rata stok nasional berada pada kisaran 16 hingga 18 hari. Angka tersebut merupakan keterangan khusus untuk Pertalite dan tidak disamakan dengan persediaan jenis BBM lain. Sementara itu, solar dinyatakan tidak bermasalah karena Indonesia tidak lagi mengimpor solar. Pernyataan tentang solar tersebut disampaikan sebagai penjelasan tersendiri, bukan sebagai angka jumlah hari persediaan. Karena itu, tidak ada angka hari stok solar yang perlu disimpulkan dari keterangan tersebut. Bahlil juga menjelaskan bahwa jenis BBM beroktan lebih tinggi, yakni RON 92, RON 95, dan RON 98, rata-rata tersedia lebih dari 20 hari. Angka ini merujuk pada kelompok jenis tersebut sebagaimana dinyatakan, dan berbeda dari kisaran stok Pertalite.
Persediaan RON 92, 95, dan 98 yang rata-rata lebih dari 20 hari disebut sesuai dengan standar minimum nasional. Keterangan itu menjelaskan kesesuaian stok jenis BBM tersebut dengan standar, tanpa menetapkan angka persediaan baru untuk wilayah Kalimantan. Untuk Kalimantan, Bahlil hanya menyebut bahwa kondisinya tidak jauh berbeda dari keadaan nasional. Dengan demikian, informasi yang tersedia membedakan kisaran Pertalite, pernyataan mengenai solar, dan rata-rata ketersediaan BBM beroktan tinggi.
Baca juga: Kekurangan Pasokan Beras Premium di Ritel Modern | Aksi Mahasiswa UINSA: Gerbang Utama Tertutup, Akses Dialihkan | Kebakaran Hutan dan Upaya Penanggulangannya di Kalimantan dan Sumatera






