Jakarta | Di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Kepala Badan Intelijen Keamanan Mabes Polri Komjen Pol Dedy Kusuma Bakti menyampaikan pesan kepada para pelajar yang mengikuti kemah kebangsaan. Pernyataannya dikutip pada Kamis, 22 Oktober 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan peserta agar menggunakan masa muda untuk kegiatan yang bermanfaat, menjaga perilaku, serta membangun hubungan yang baik dengan sesama. Kemah kebangsaan menjadi ruang bagi pelajar untuk belajar hidup bersama, mengenal nilai persatuan, dan memahami tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.
Dedy mengimbau para remaja menjauhi judi online dan narkoba, yang dapat membawa dampak serius bagi masa depan, kesehatan, pendidikan, dan kehidupan keluarga. Ia juga menekankan agar pelajar tidak terlibat tawuran. Perselisihan antarkelompok sebaiknya diselesaikan secara tenang melalui komunikasi dan bantuan pihak yang tepat, bukan dengan kekerasan. Pilihan untuk menolak ajakan yang berisiko membutuhkan keberanian, tetapi juga dapat melindungi diri sendiri maupun orang lain. Dukungan teman, keluarga, guru, dan lingkungan sekolah dapat membantu remaja tetap berada pada kegiatan yang positif.
Selain itu, para peserta diminta tidak mudah menanggapi atau menyebarkan berita hoaks yang beredar di media sosial. Informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya dapat memicu kesalahpahaman, keresahan, bahkan perpecahan. Sebelum membagikan suatu kabar, pelajar perlu memeriksa sumbernya, membandingkan dengan informasi dari saluran tepercaya, dan menahan diri jika faktanya belum dapat dipastikan. Sikap kritis di ruang digital merupakan bagian penting dari tanggung jawab warga, terutama ketika sebuah unggahan mendorong kemarahan atau mengadu domba kelompok tertentu.
Pesan tersebut menempatkan persatuan dan kewaspadaan sebagai nilai yang perlu diterapkan, bukan sekadar dibicarakan selama kegiatan kemah. Pelajar dapat memulainya dengan saling menghormati perbedaan, menolak kekerasan dan penyalahgunaan zat, serta menggunakan media sosial secara bijak. Dengan pilihan sehari-hari yang bertanggung jawab, mereka turut menjaga suasana aman di sekolah maupun lingkungan sekitar. Imbauan ini juga mengajak peserta untuk menjadi teladan bagi teman sebaya, menyampaikan informasi secara cermat, dan mencari bantuan orang dewasa tepercaya ketika menghadapi tekanan atau ajakan yang membahayakan.Dedy menilai usia remaja sebagai masa yang rentan terhadap pengaruh negatif. Karena itu, pelajar perlu mendapat perhatian agar mampu menjauh dari hal-hal yang dapat berdampak buruk. Pesan tersebut menempatkan kerentanan remaja sebagai alasan penting untuk mengingatkan mereka, sekaligus mengajak pelajar mengenali sejumlah risiko yang disebutkan. Penekanan ini bukan berarti semua remaja pasti mengalami persoalan tersebut, melainkan menunjukkan bahwa usia mereka dinilai mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif.
Empat risiko yang disampaikan Dedy mencakup judi online, penggunaan narkoba, tawuran antarpelajar, dan berita hoaks di media sosial. Keempatnya merupakan hal yang perlu dihindari oleh pelajar. Penyebutan risiko-risiko tersebut menjadi bagian dari pesan agar remaja tidak terbawa pengaruh negatif, baik yang berkaitan dengan judi online dan narkoba maupun yang terjadi dalam hubungan antarpelajar serta informasi di media sosial. Dedy mengingatkan hal-hal itu tanpa menyamakan bentuk atau dampak masing-masing risiko.
Dalam konteks kerentanan usia remaja, daftar tersebut memberi gambaran mengenai persoalan yang menjadi perhatian. Pelajar diajak untuk memahami bahwa mereka perlu menjauhi judi online, tidak menggunakan narkoba, menghindari tawuran antarpelajar, serta bersikap terhadap berita hoaks di media sosial. Pesan ini menegaskan pentingnya pilihan dan sikap pelajar ketika berhadapan dengan berbagai pengaruh, tanpa menyatakan bahwa satu risiko menjadi penyebab risiko lainnya.
Penyampaian Dedy juga mengarahkan perhatian pada perlunya memperkuat persatuan di kalangan pelajar, sejalan dengan ajakan untuk menjauhi pengaruh negatif. Dengan demikian, alasan yang dikemukakan berpusat pada usia remaja yang dinilai rentan, sedangkan empat hal yang disebutkan menjadi contoh risiko yang patut dihindari. Pesan tersebut dapat dipahami sebagai pengingat bagi pelajar untuk menjaga diri dari judi online, narkoba, tawuran, dan hoaks, serta tetap mengutamakan persatuan. Tidak ada alasan tambahan yang perlu dilekatkan pada pernyataan itu: inti pesannya ialah kerentanan remaja dan ajakan menjauh dari empat hal tersebut.
Kegiatan yang digelar Persatuan Intelektual Muda dan Pelajar Indonesia (PIONIR) dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi pelajar untuk menumbuhkan cinta kepada bangsa dan negara. Melalui kemah dan kegiatan bersama, peserta diajak mengenal nilai kebangsaan bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai sikap yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Rasa cinta tanah air tercermin lain melalui kepedulian terhadap sesama, penghormatan terhadap perbedaan, dan kesediaan berkontribusi bagi lingkungan. Pengalaman belajar yang berlangsung di luar ruang kelas memberi kesempatan bagi peserta untuk berdiskusi, berinteraksi, dan mengembangkan pemahaman bersama tentang tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.
Tujuan kegiatan ini juga mencakup penguatan nasionalisme dan persatuan di kalangan generasi muda. Pelajar berasal dari latar belakang yang beragam, sehingga kebersamaan dalam kegiatan menjadi kesempatan untuk membangun sikap terbuka dan saling menghargai. Peserta turut diajak memahami bahwa menjaga keamanan dan ketertiban nasional bukan hanya tugas aparat, melainkan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari tindakan sederhana. Sikap tertib, kepatuhan terhadap aturan, kewaspadaan terhadap pengaruh negatif, serta kemampuan menyampaikan pendapat secara santun merupakan bagian dari kontribusi tersebut. Dengan pemahaman ini, generasi muda diharapkan mampu menjalankan peran positif di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.
Pembelajaran di alam terbuka membantu nilai-nilai itu dipahami melalui pengalaman langsung. Saat mengikuti aktivitas kelompok, peserta berlatih bekerja sama, berbagi tugas, dan menyelesaikan tantangan dengan memperhatikan kepentingan bersama. Situasi tersebut menumbuhkan kebersamaan sekaligus melatih kedisiplinan dan tanggung jawab, termasuk dalam menjaga perlengkapan, waktu, dan keselamatan. Interaksi sehari-hari juga menjadi ruang untuk belajar mendengarkan, menghormati pendapat, serta menerima perbedaan tanpa mengurangi rasa persaudaraan. Rangkaian pengalaman ini mendukung pembentukan karakter pelajar yang peduli terhadap masa depan bangsa. Harapannya, nilai persatuan dan kepedulian yang dipelajari tidak berhenti selama kemah, tetapi dibawa ke dalam kebiasaan sehari-hari dan diwujudkan melalui perilaku yang konstruktif.
Ketua Umum PIONIR, Hanif, menjelaskan bahwa kemah dapat menjadi sarana bagi pelajar untuk belajar dan memahami nilai-nilai kebangsaan. Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mengikuti rangkaian aktivitas bersama, tetapi juga berkesempatan mengenal arti persaudaraan antaranak bangsa. Kebersamaan dalam kemah dapat menjadi ruang untuk saling berinteraksi, menghargai perbedaan, dan melihat pentingnya menjaga hubungan baik di tengah keberagaman.
Menurut Hanif, pengalaman belajar di kemah diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan. Nilai kebangsaan perlu dibawa ke kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan sekolah, keluarga, maupun pergaulan. PIONIR berharap peserta mampu memahami bahwa menjaga persatuan merupakan tanggung jawab bersama. Persaudaraan antaranak bangsa dapat dirawat melalui sikap saling menghormati, kesediaan mendengarkan, serta kemauan untuk hidup berdampingan dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Penerapan nilai-nilai Pancasila menjadi salah satu hal yang diharapkan PIONIR dari para peserta. Pancasila dapat menjadi pedoman dalam bersikap dan berinteraksi, termasuk saat menghadapi perbedaan pendapat. Sikap menghargai martabat sesama, mengutamakan kebersamaan, dan menjaga persatuan merupakan bagian dari nilai yang dapat diterapkan dalam tindakan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran mengenai kebangsaan dapat tercermin dalam perilaku, bukan hanya dipahami sebagai materi.
Semangat gotong royong juga diharapkan tumbuh dan diterapkan oleh peserta dalam berbagai kesempatan. Kerja sama, kepedulian, dan kesediaan membantu sesama merupakan bentuk nyata dari kebersamaan.
Baca juga: Pengaruh Kebijakan The Fed dan Fenomena El Nino Terhadap Nilai Tukar Rupiah | Dampak Negatif dari Pelanggaran pada Merek Beras Fortifikasi di Indonesia | Dinamika Politikal Indonesia: Reshuffle Kabinet dan Pengaruh OTT KPK






