Sumpah Pemuda: Tantangan Baru dan Ruang bagi Generasi Muda

Sumpah Pemuda: Tantangan Baru dan Ruang bagi Generasi Muda

Jakarta | Ketua DPP PDI Perjuangan MY Esti Wijayanti menegaskan bahwa peringatan Sumpah Pemuda tidak seharusnya berhenti pada nostalgia terhadap peristiwa sejarah. Nilai persatuan, keberanian, dan ikrar para pemuda pada 1928, menurutnya, perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Esti menyampaikan pandangan tersebut di Jakarta pada Rabu, 28 Oktober 2026. Ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi X DPR, yang membidangi lain urusan pendidikan, kebudayaan, dan kepemudaan.

Generasi muda kini tumbuh dalam keadaan yang berbeda dari masa para perintis Sumpah Pemuda. Tantangan yang mereka hadapi semakin kompleks dan saling berkaitan, mulai dari kepastian masa depan pekerjaan hingga dampak perubahan iklim. Kemajuan kecerdasan buatan juga mengubah cara orang belajar, bekerja, dan berkomunikasi, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang keterampilan yang dibutuhkan serta pemerataan akses teknologi. Di tengah perubahan tersebut, anak muda perlu memiliki ruang untuk memahami risiko, menyampaikan gagasan, dan ikut menentukan arah kebijakan yang memengaruhi kehidupan mereka.

Persoalan keadilan sosial dan kualitas demokrasi turut menjadi bagian penting dari tantangan itu. Kesempatan yang tidak merata dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan, dan layanan dasar dapat membatasi potensi generasi muda. Sementara itu, demokrasi membutuhkan partisipasi yang bermakna, sikap kritis, dan kemampuan berdialog di tengah perbedaan. Karena itu, menghidupkan semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar mengulang ikrar atau mengenang tokoh-tokoh terdahulu. Peringatan tersebut dapat menjadi momentum untuk mendengar kebutuhan anak muda dan memperluas keterlibatan mereka dalam mencari solusi. Dengan dukungan pendidikan, kebijakan yang inklusif, serta ruang partisipasi yang terbuka, nilai persatuan dapat menjadi bekal untuk menghadapi perubahan. Semangat kebangsaan pun tetap bermakna ketika generasi muda dapat bekerja bersama menjawab persoalan nyata, tanpa mengabaikan keberagaman pengalaman maupun pandangan mereka.

Menurut Esti, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini memang berbeda dari persoalan pada masa Sumpah Pemuda. Perubahan teknologi, dinamika sosial, serta perkembangan ekonomi menghadirkan keadaan baru yang menuntut kemampuan beradaptasi. Namun, perubahan bentuk tantangan tidak menghapus nilai yang menjadi bekal untuk menghadapinya. Persatuan dan keberanian tetap penting, agar anak muda mampu merespons perubahan tanpa kehilangan kepedulian terhadap sesama dan tujuan bersama sebagai bangsa.

Persatuan memberi dasar bagi generasi muda untuk menghadapi persoalan secara kolektif, bukan hanya mengejar kepentingan pribadi atau kelompok. Di tengah perbedaan pandangan, latar belakang, dan pengalaman, semangat kebangsaan dapat membantu mereka membangun kerja sama serta mencari jalan keluar yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Sementara itu, keberanian berarti kesediaan untuk menyampaikan gagasan, mencoba pendekatan baru, dan mengambil tanggung jawab. Keberanian juga perlu disertai sikap kritis dan pertimbangan yang matang, sehingga perubahan dapat dihadapi secara konstruktif.

Dalam pandangan tersebut, dukungan terhadap anak muda bukan semata-mata tugas generasi yang lebih tua untuk mendorong mereka agar berani. PDIP, sebagaimana dijelaskan Esti, juga mengharapkan generasi sebelumnya bersikap terbuka terhadap gagasan baru dan perkembangan zaman. Keterbukaan itu penting karena pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki generasi tua dapat menjadi bekal, tetapi tidak seharusnya menutup peluang bagi cara berpikir yang berbeda. Dialog antargenerasi memungkinkan pengalaman bertemu dengan perspektif baru, sekaligus membantu memastikan bahwa proses perubahan tetap berpijak pada kepentingan bangsa.

Karena itu, masa depan Indonesia tidak hanya bergantung pada keberanian generasi muda untuk mengambil peran. Masa depan tersebut juga dipengaruhi oleh kesediaan generasi sebelumnya untuk menyediakan ruang, membangun kepercayaan, dan memberikan kesempatan yang nyata. Dukungan dapat diwujudkan dengan melibatkan anak muda dalam pembahasan dan pengambilan keputusan, mendengarkan pandangan mereka, serta memberi kesempatan untuk belajar melalui tanggung jawab. Dengan cara ini, persatuan dan keberanian tidak berhenti sebagai seruan, tetapi hadir dalam hubungan yang saling menghargai. Generasi muda dapat berkembang dan berkontribusi, sementara generasi sebelumnya turut menjaga kesinambungan nilai serta membuka jalan bagi pembaruan.

Dalam rangkaian acara sebelumnya, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyampaikan pesan kepada generasi muda mengenai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pesan tersebut kembali diingatkan oleh Esti. Megawati meminta anak muda untuk terus menguasai pengetahuan dan teknologi, sekaligus menerapkannya dengan berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, penguasaan teknologi bukan hanya menjadi hal yang ditekankan secara tersendiri, tetapi juga disertai pegangan kemanusiaan dalam penerapannya. Esti mengingatkan kembali pesan itu agar perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi berjalan bersama dengan perhatian terhadap nilai kemanusiaan, sebagaimana disampaikan Megawati dalam rangkaian acara sebelumnya.

Pesan Megawati juga mencakup sikap yang perlu ditunjukkan anak muda ketika menyampaikan kebenaran. Esti mengingatkan bahwa generasi muda perlu berani menyuarakan kebenaran. Keberanian tersebut merupakan bagian dari pesan yang disampaikan kepada mereka, berdampingan dengan permintaan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta menerapkannya dengan berpegang pada nilai kemanusiaan. Dalam pesan itu, keberanian bersuara tidak berdiri terpisah dari keteguhan menghadapi ketidakadilan. Anak muda diminta untuk tetap teguh melawan ketidakadilan, sebagaimana kembali disampaikan Esti ketika mengingatkan pesan Megawati kepada generasi muda.

Selain berani menyuarakan kebenaran dan teguh melawan ketidakadilan, anak muda juga diingatkan agar peka untuk berpihak kepada rakyat yang masih tertindas. Ketiga sikap itu—menyuarakan kebenaran, melawan ketidakadilan, dan berpihak kepada rakyat yang masih tertindas—merupakan isi pesan yang diingatkan Esti. Pesan tersebut disampaikan bersama pengingat mengenai pentingnya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta menerapkannya dengan berpegang pada nilai kemanusiaan. Dengan mengulang pesan Megawati, Esti menyampaikan kembali hal-hal yang ditujukan kepada generasi muda: penguasaan ilmu dan teknologi, pegangan nilai kemanusiaan, keberanian menyuarakan kebenaran, keteguhan melawan ketidakadilan, serta kepekaan untuk berpihak kepada rakyat yang masih tertindas.

Dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada Rabu, 28 Oktober 2026, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi generasi muda. Anak muda, menurut pandangan tersebut, perlu memperoleh kesempatan nyata untuk menyampaikan gagasan, mengkritik kebijakan, dan terlibat dalam pembahasan mengenai arah pembangunan Indonesia. Partisipasi tidak semestinya berhenti pada seremoni atau konsultasi formal, tetapi perlu hadir dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak langsung pada kehidupan mereka.

Puan menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman generasi muda ketika negara merumuskan kebijakan. Persoalan pendidikan, misalnya, mereka alami secara langsung, mulai dari akses dan mutu pembelajaran hingga kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan masa depan. Begitu pula saat mencari pekerjaan: anak muda berhadapan dengan persaingan, perubahan dunia kerja, serta ketidakpastian kesempatan. Pengalaman tersebut dapat memberi gambaran konkret tentang hambatan yang mungkin luput dari pembahasan di tingkat pembuat kebijakan.

Hal serupa berlaku bagi kaum muda yang merintis usaha. Mereka memahami kebutuhan pendanaan, akses pasar, pendampingan, dan aturan yang dapat membantu atau justru menyulitkan usaha berkembang. Karena itu, masukan mereka perlu dipertimbangkan secara serius, bukan sekadar didengar sebagai formalitas. Pemerintah dapat memperkuat keterlibatan ini melalui dialog yang teratur, forum konsultasi yang terbuka, serta mekanisme yang menjelaskan bagaimana saran publik ditindaklanjuti. Ruang kritik juga perlu dijaga agar tetap aman dan konstruktif, sehingga perbedaan pandangan menjadi bahan evaluasi kebijakan. Dengan memberi generasi muda peran dalam proses tersebut, negara dapat menyusun keputusan yang lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat rasa kepemilikan mereka terhadap masa depan Indonesia. Pesan ini menempatkan partisipasi sebagai bagian penting dari kehidupan demokratis dan penghormatan terhadap pengalaman warga muda.

Baca juga: Fenomena Cuci Darah pada Generasi Muda: Waspadai Penggunaan Obat yang Tak Tepat | Peringati HUT ke-81 TNI, Kodim Bojonegoro Gelar Ziarah Nasional dan Ajak Generasi Muda Teladani Pahlawan | Nada Kreativitas Generasi Muda Menggema di Festival Band HUT ke-81 TNI