Jakarta | Daryono, praktisi mitigasi bencana sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), mengingatkan masyarakat Indonesia agar bersiap menghadapi beragam keadaan darurat. Menurutnya, kesiapsiagaan tidak seharusnya hanya dipikirkan ketika bencana sudah terjadi. Keluarga perlu memahami kemungkinan ancaman di sekitar mereka dan menyiapkan langkah dasar untuk mengurangi risiko serta menjaga keselamatan apabila layanan dan aktivitas sehari-hari terganggu.
Ancaman yang perlu diantisipasi mencakup bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, dan letusan gunung api, serta cuaca ekstrem yang dapat berkembang dengan cepat. Daryono juga menyoroti kemungkinan pandemi, gangguan infrastruktur, serangan siber, hingga konflik geopolitik. Ragam risiko tersebut menunjukkan bahwa keadaan darurat tidak selalu hadir dalam bentuk bencana fisik yang terlihat. Gangguan pada jaringan komunikasi, pasokan listrik, transportasi, atau layanan penting lainnya juga dapat berdampak langsung terhadap kehidupan keluarga.
Pernyataan itu disampaikan Daryono di Jakarta sebagai tanggapan atas pemberitaan pada 2 November 2026. Pemberitaan tersebut mengangkat imbauan puluhan negara kepada warganya untuk menyiapkan stok atau perlengkapan darurat. Respons Daryono menempatkan perhatian pada isu itu dalam konteks Indonesia: masyarakat perlu melihat kesiapan sebagai bagian dari upaya menghadapi berbagai skenario, bukan sekadar mengikuti perkembangan di luar negeri.
Perbedaan jenis ancaman juga berarti kebutuhan persiapan dapat bervariasi menurut lokasi, kondisi rumah tangga, dan akses terhadap layanan. Namun, prinsip umumnya tetap sama: mengenali risiko, membicarakan rencana keluarga, serta mengetahui cara memperoleh informasi yang dapat dipercaya ketika situasi berubah. Persediaan darurat dapat membantu menghadapi masa awal gangguan, tetapi persiapan juga mencakup komunikasi antaranggota keluarga dan pemahaman mengenai tindakan yang perlu dilakukan.
Dengan mengingatkan masyarakat tentang spektrum kedaruratan yang luas, Daryono menegaskan pentingnya kesiapsiagaan sebelum krisis muncul. Bagi keluarga di Indonesia, perhatian terhadap bencana alam perlu berjalan seiring dengan pemahaman atas ancaman nonalam dan gangguan sistem yang menopang kehidupan sehari-hari. Langkah antisipasi yang direncanakan lebih awal dapat membantu rumah tangga mengambil keputusan dengan lebih terarah saat menghadapi keadaan darurat.
Daryono menegaskan bahwa imbauan untuk menyiapkan kebutuhan darurat tidak semestinya dibaca sebagai tanda bahwa bencana besar atau perang dunia akan segera terjadi. Pesan tersebut bukan ramalan, penetapan waktu, ataupun pernyataan bahwa suatu krisis tertentu sudah dekat. Maknanya lebih sederhana dan praktis: keluarga serta masyarakat dianjurkan memiliki kesiapan dasar agar dapat menghadapi gangguan apabila terjadi, tanpa harus menganggap keadaan sedang menuju skenario terburuk.
Pembedaan ini penting karena informasi tentang kesiapsiagaan dapat menimbulkan kecemasan bila dilepaskan dari konteksnya. Ajakan menyimpan perlengkapan, mengenali jalur komunikasi, atau membicarakan rencana keluarga bukan bukti bahwa ancaman luar biasa akan segera datang. Langkah-langkah tersebut merupakan tindakan pencegahan yang masuk akal dalam kehidupan sehari-hari. Kesiapan tidak perlu didorong oleh kepanikan, melainkan oleh pemahaman bahwa berbagai keadaan darurat dapat mengganggu aktivitas dan akses terhadap kebutuhan sementara.
Dalam penjelasan Daryono, kesiapan merupakan bagian dari manajemen risiko modern. Pendekatan ini mengutamakan antisipasi sebelum krisis muncul, bukan hanya respons setelah dampaknya dirasakan. Dengan memahami risiko dan merencanakan kebutuhan dasar, keluarga dapat mengurangi ketergantungan pada bantuan yang mungkin belum segera tersedia. Kemandirian tersebut tidak berarti setiap orang harus menghadapi keadaan sendirian; kesiapan individu justru dapat membantu upaya bersama berjalan lebih tertata.
Ketahanan masyarakat juga dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan tanpa membuat suasana tegang. Keluarga dapat mengetahui cara menghubungi satu sama lain, menyimpan informasi penting, dan menyiapkan kebutuhan pokok secukupnya sesuai kondisi masing-masing. Persiapan yang proporsional memberi ruang untuk mengambil keputusan dengan lebih tenang saat terjadi gangguan, sekaligus membantu warga saling mendukung. Karena itu, pesan Daryono sebaiknya dipahami sebagai dorongan untuk membangun kewaspadaan dan kemampuan menghadapi risiko secara berkelanjutan. Intinya bukan memperkirakan kapan krisis terjadi, tetapi memperkuat kesiapan sebelum kebutuhan mendesak muncul. Cara pandang ini menempatkan antisipasi sebagai praktik rutin, bukan reaksi terhadap kabar yang belum pasti, serta menjaga agar informasi kesiapsiagaan tidak berubah menjadi sumber ketakutan bagi keluarga.Uni Eropa mendorong masyarakat menyiapkan kebutuhan dasar rumah tangga yang cukup untuk sekurang-kurangnya 72 jam atau tiga hari. Anjuran ini menempatkan persediaan mandiri sebagai bagian praktis dari kesiapsiagaan krisis, bukan sebagai alasan untuk merasa cemas. Tujuannya adalah membantu keluarga memenuhi kebutuhan segera ketika situasi darurat menghambat kegiatan sehari-hari dan bantuan belum dapat menjangkau semua orang. Setiap rumah tangga dapat mempertimbangkan jumlah anggota keluarga, kondisi kesehatan, kebutuhan anak atau lansia, serta keadaan lingkungan saat menentukan isi dan jumlah persediaan. Pendekatan tersebut juga memungkinkan keluarga merencanakan kebutuhan secara bertahap, tanpa harus membeli semuanya sekaligus.
Daryono menjelaskan bahwa fase awal kedaruratan dapat membuat berbagai layanan penting terganggu. Bantuan mungkin memerlukan waktu untuk tiba, sementara listrik dan komunikasi berpotensi terputus atau tidak berfungsi dengan baik. Transportasi juga dapat terhambat, sehingga orang sulit berpindah tempat dan barang kebutuhan tidak mudah dikirimkan. Pada saat yang sama, distribusi logistik bisa mengalami keterlambatan karena akses jalan, sarana pengangkutan, atau jaringan penyaluran terdampak. Gabungan keadaan tersebut dapat membatasi kemampuan keluarga memperoleh air, makanan, obat, informasi, dan kebutuhan penting lainnya dalam waktu singkat. Karena itu, persediaan dasar di rumah dapat menjadi penyangga sementara hingga layanan dan bantuan kembali tersedia.
Risiko gangguan itu perlu dipahami sebagai kemungkinan yang menjadi dasar perencanaan, bukan ramalan bahwa listrik, komunikasi, transportasi, distribusi logistik, atau bantuan pasti terhenti. Kesiapsiagaan yang baik bersifat proporsional dan disesuaikan dengan ancaman yang relevan bagi wilayah setempat. Keluarga dapat menyiapkan air minum, makanan tahan lama, obat yang diperlukan, perlengkapan penerangan, baterai, serta salinan dokumen penting. Persediaan sebaiknya disimpan di tempat yang mudah dijangkau, diperiksa secara berkala, dan digunakan sebelum kedaluwarsa. Rencana sederhana mengenai cara menghubungi anggota keluarga dan memperoleh informasi resmi juga dapat membantu. Dengan persiapan untuk tiga hari, rumah tangga memiliki waktu dan pilihan lebih baik pada fase awal darurat, sembari tetap mengikuti arahan petugas dan pemerintah.
Bagi Indonesia, kesiapsiagaan keluarga memiliki arti khusus karena wilayah ini menghadapi risiko multibencana, mulai dari gempa bumi dan tsunami hingga banjir, longsor, serta erupsi gunung api. Ancaman tersebut berbeda menurut daerah, tetapi dampaknya dapat menjangkau rumah tangga dalam waktu singkat. Karena itu, Daryono menganjurkan setiap keluarga menyiapkan tas siaga yang mudah dijangkau dan dapat dibawa ketika harus meninggalkan rumah. Persiapan sederhana ini membantu keluarga memenuhi kebutuhan awal sebelum bantuan tersedia atau keadaan kembali aman.
Isi tas perlu disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga dan kebutuhan masing-masing. Persediaan dasar mencakup air minum serta makanan tahan lama yang praktis dikonsumsi. Sertakan obat-obatan yang diperlukan, termasuk obat rutin bagi anggota keluarga yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Senter dan baterai cadangan dapat membantu saat listrik terputus, sementara alat komunikasi memungkinkan keluarga memperoleh informasi resmi dan menghubungi kerabat. Dokumen penting sebaiknya disimpan dalam wadah kedap air, atau disiapkan salinannya dalam bentuk digital yang dapat diakses. Periksa isi tas secara berkala agar makanan, obat, dan baterai tidak kedaluwarsa atau habis.
Perlengkapan saja tidak cukup tanpa pengetahuan mengenai tindakan yang harus dilakukan. Setiap keluarga perlu mengetahui jalur evakuasi dari rumah, lingkungan, dan tempat beraktivitas, serta mengenali lokasi berkumpul yang aman.
Baca juga: Perlindungan Motif Tenun NTT Dinilai Penting untuk Memperkuat Nilai Ekonomi Lokal | Babinsa Loa Janan Ulu Dampingi Penyaluran BPNT kepada 978 Keluarga Penerima Manfaat | Pembiayaan UMKM Dinilai Perlu Diikuti Pendampingan dan Akses Pasar
507 kunjungan