Dari Festival di JIS, Siswi Jakarta Menjajal Sepak Bola Sejak Dini

Dari Festival di JIS, Siswi Jakarta Menjajal Sepak Bola Sejak Dini

Jakarta | Sebanyak 68 siswi dari 12 sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah mengikuti Festival Senengsoccer di Jakarta International Stadium, Jakarta Utara, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kegiatan ini memberi para peserta kesempatan untuk mengenal sepak bola sekaligus mengasah keterampilan dasar sejak usia dini. Kehadiran siswi dari berbagai sekolah membuat festival tersebut menjadi ruang perkenalan terhadap olahraga yang dapat diikuti oleh anak perempuan.

Bagi peserta yang masih berada di jenjang sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah, keterlibatan dalam kegiatan sepak bola dapat menjadi langkah awal untuk memahami permainan ini. Festival Senengsoccer menyediakan kesempatan bagi mereka untuk berkenalan dengan sepak bola melalui pengalaman langsung, serta berlatih mengembangkan kemampuan dasar. Kesempatan semacam ini penting sebagai bagian dari pengenalan olahraga pada usia muda, ketika peserta mulai membangun pemahaman dan keterampilan melalui kegiatan yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

Keikutsertaan 68 siswi dari 12 sekolah menunjukkan bahwa festival ini menjangkau peserta dari sejumlah lembaga pendidikan di Jakarta. Namun, inti kegiatan tetap berada pada pengenalan sepak bola dan pengasahan keterampilan dasar, bukan pada tuntutan untuk mencapai tingkat kemampuan tertentu. Dengan mengikuti festival, para siswi dapat memperoleh pengalaman awal dalam olahraga tersebut dan melihatnya sebagai kegiatan yang dapat mereka tekuni. Pengalaman sejak dini juga memberi ruang bagi anak-anak untuk mengenali minat mereka terhadap sepak bola, sambil membangun dasar keterampilan secara bertahap. Festival di Jakarta International Stadium ini menjadi kesempatan bagi para peserta untuk memulai proses tersebut melalui kegiatan sepak bola yang ditujukan bagi siswi sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Dengan demikian, partisipasi mereka menghadirkan contoh keterlibatan anak perempuan dalam olahraga sejak usia muda, sekaligus menegaskan peran kegiatan pengenalan untuk membuka akses pengalaman dan pembelajaran dasar bagi peserta dari berbagai sekolah.

Catatan waktu menjadi penentu urutan tiga peserta yang menyelesaikan rangkaian tantangan dengan hasil tercepat dalam festival di Jakarta International Stadium (JIS). Setelah seluruh tahapan dituntaskan, Naufalyn Fikria Rabbani dari SDN Cipulir 03 menempati posisi pertama dengan catatan 35,52 detik. Hasil tersebut menempatkannya sebagai peserta dengan waktu penyelesaian paling singkat di tiga siswi teratas.

Posisi kedua diraih Hawra Gumaisha Ardifa dari SDN Jatinegara 10 Pagi. Ia menyelesaikan seluruh tantangan dalam waktu 41,76 detik. Selisih catatan waktunya dengan Naufalyn adalah 6,24 detik. Urutan ini mencerminkan perolehan berdasarkan waktu yang tercatat, bukan perubahan pada susunan tantangan yang harus diikuti para peserta.

Sementara itu, Shanum Zalika Khattab dari SDN Duren Sawit 01 berada di posisi ketiga dengan catatan 42,90 detik. Waktu tersebut terpaut 1,14 detik dari hasil Hawra. Ketiga peserta tercatat menuntaskan rangkaian kegiatan, dengan peringkat ditentukan dari durasi penyelesaian masing-masing.

Perbedaan waktu di para peserta menunjukkan bahwa ketepatan dan kelancaran menjalani setiap tahap berperan dalam hasil akhir. Namun, catatan yang tersedia hanya memuat waktu penyelesaian serta peringkat, sehingga tidak menjadi dasar untuk menyimpulkan faktor khusus yang membuat seorang peserta lebih cepat. Hal yang dapat dipastikan ialah seluruh peserta dalam daftar tersebut merampungkan tantangan sebelum waktu mereka dicatat.

Hasil festival ini menempatkan Naufalyn di urutan pertama, Hawra di urutan kedua, dan Shanum di urutan ketiga. Angka yang tercatat masing-masing adalah 35,52 detik, 41,76 detik, dan 42,90 detik. Dengan demikian, daftar peringkat menggambarkan hasil setelah seluruh rangkaian tantangan diselesaikan, sekaligus memberikan gambaran capaian peserta dari sekolah yang berbeda. Susunan dan catatan waktu tersebut menjadi bagian dari hasil kegiatan sepak bola usia dini di JIS.

Rangkaian tantangan dalam festival ini memperkenalkan para siswi pada sejumlah teknik dasar sepak bola melalui aktivitas yang beragam. Mereka menjajal dribbling, passing and control, situasi satu lawan satu, lemparan ke dalam, menembak ke sasaran, serta tendangan penalti. Setiap aktivitas memberi kesempatan kepada peserta untuk berinteraksi langsung dengan bola dan mencoba gerakan yang umum dijumpai dalam permainan. Tantangan tersebut juga mengajak siswi bergerak aktif, menjaga keterlibatan sepanjang kegiatan, dan mengenali berbagai cara mengolah bola. Dengan mencoba beberapa bentuk latihan, para peserta memperoleh pengalaman awal yang berbeda dari sekadar menyaksikan pertandingan. Aktivitas disusun sebagai bagian dari pengalaman festival, sehingga sepak bola dapat dijajal melalui tantangan yang menarik dan mudah dipahami oleh peserta muda. Fokusnya adalah mencoba rangkaian kegiatan, bukan membahas aturan atau teknik secara terperinci.

Dalam alur tantangan, peserta terlebih dahulu melewati lintasan berkelok. Setelah itu, mereka mengarahkan bola ke sasaran dan menggiring bola melewati rintangan. Urutan tersebut membawa peserta dari satu aktivitas menuju aktivitas berikutnya sambil tetap berhadapan dengan bola. Lintasan berkelok menjadi bagian pembuka sebelum peserta mengarahkan bola, sementara rintangan menjadi bagian dari perjalanan menggiring. Rangkaian ini menghadirkan beberapa bentuk kegiatan dalam satu pengalaman yang berkesinambungan. Para siswi tidak hanya mencoba satu gerakan, tetapi juga menjalani sejumlah tantangan yang menggabungkan pergerakan dan penguasaan bola. Setiap bagian memperkenalkan pengalaman berbeda, mulai dari mengikuti lintasan hingga membawa bola melewati rintangan, tanpa perlu menambahkan gambaran mengenai aturan teknis yang tidak disebutkan. Setelah menyelesaikan bagian-bagian tersebut, peserta melanjutkan rangkaian sesuai alur tantangan.

Berikutnya, peserta melakukan tembakan ke gawang. Aktivitas ini melengkapi pengalaman menembak ke sasaran yang termasuk dalam daftar tantangan, sekaligus menjadi bagian dari alur yang mereka jalani. Sesudah menyelesaikan seluruh rangkaian, para siswi berlari untuk menekan tombol penghenti waktu. Dengan demikian, perjalanan tantangan bergerak dari lintasan berkelok, mengarahkan bola ke sasaran, menggiring melewati rintangan, hingga melakukan tembakan ke gawang dan menekan tombol penghenti waktu. Kegiatan yang disebutkan juga mencakup passing and control, situasi satu lawan satu, lemparan ke dalam, dan tendangan penalti. Seluruhnya memberi gambaran tentang ragam teknik dasar yang dapat dicoba para siswi sejak dini. Melalui pengalaman langsung di festival, peserta berkesempatan mengenal sepak bola lewat gerakan, tantangan, dan aktivitas yang bervariasi. Rangkaian ini menjadi cara untuk menjajal permainan sambil mengikuti kegiatan bersama di JIS.

Festival di Jakarta International Stadium menjadi bagian dari rangkaian Milklife Soccer Challenge Jakarta Jaya Seri 1 2026–2027, yang dirancang untuk memperkenalkan sepak bola kepada siswi sekolah dasar. Kegiatan ini tidak hanya mengajak peserta mencoba bermain, tetapi juga memadukan latihan keterampilan, ketangkasan, dan pengalaman bermain yang menyenangkan. Dengan format tersebut, siswi dapat mengenal dasar-dasar sepak bola dalam suasana yang ramah bagi pemula, sekaligus merasakan aktivitas olahraga sebagai pengalaman bersama teman sebaya.

Perwakilan Bakti Olahraga Djarum Foundation, Satia Chandra Wiguna, memandang pengenalan sejak dini sebagai langkah awal untuk menemukan dan mengembangkan potensi pemain putri. Kesempatan mencoba sepak bola dapat membantu anak mengetahui minatnya, sementara sekolah juga memperoleh gambaran mengenai ketertarikan dan bakat para siswi. Pengenalan melalui festival, karena itu, diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman satu kali, tetapi menjadi pintu masuk bagi peserta yang ingin terus berlatih dan berkembang.

Menurut Satia, sekolah memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan setelah para siswi memperoleh pengalaman awal. Ia berharap sekolah dapat membentuk tim sepak bola putri dan menyelenggarakan latihan rutin. Dengan adanya wadah serta jadwal latihan yang teratur, peserta dapat meningkatkan keterampilan secara bertahap dan membangun kebiasaan berolahraga.

Baca juga: Aksi Buruh Singkat di Jakarta: Alasan dan Tuntutan | Kesempatan Emas di Jakarta Pusat Job Connect 2026 | Pemberhentian Aksi Buruh di Jakarta