Palembang | Lima helikopter water bombing yang tergabung dalam Satuan Tugas Udara Karhutla tidak dapat diterbangkan untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Armada bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut harus tetap berada di darat setelah kondisi asap tebal menurunkan jarak pandang di sejumlah wilayah.
Situasi itu membuat penerbangan dinilai berisiko, terutama bagi keselamatan pilot, kru, serta personel lain yang terlibat dalam operasi udara. Dalam misi water bombing, helikopter perlu melakukan manuver dan menjangkau titik kebakaran secara tepat. Jarak pandang yang terbatas dapat menyulitkan proses navigasi, pengambilan air, hingga pelepasan muatan ke area yang terbakar.
Lima helikopter tersebut berada dalam status siaga di Palembang. Sebelumnya, armada itu telah dijadwalkan untuk mendukung upaya pemadaman di sejumlah titik karhutla yang tersebar di Sumatera Selatan. Kehadiran helikopter diharapkan memperkuat penanganan dari udara, khususnya terhadap kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat atau berada di kawasan dengan akses terbatas.
Namun, rencana pengerahan harus ditunda sampai kondisi memungkinkan. Tim terkait perlu memantau perkembangan asap dan memastikan jarak pandang telah memenuhi aspek keselamatan penerbangan sebelum helikopter kembali mengudara. Penundaan ini menunjukkan bahwa operasi pemadaman tidak hanya bergantung pada kesiapan armada, tetapi juga pada kondisi cuaca dan lingkungan di sekitar lokasi kebakaran.
Selama lima helikopter belum dapat digunakan, penanganan karhutla tetap memerlukan koordinasi unsur darat, pemerintah daerah, dan satgas terkait. Pemantauan titik panas serta perkembangan api dilakukan untuk menentukan langkah berikutnya, sementara armada udara tetap disiagakan agar dapat segera dikerahkan ketika jarak pandang membaik dan penerbangan dinyatakan aman.
Kepala Balai Penanggulangan Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menyampaikan bahwa penerbangan lima helikopter pemadam kebakaran di Sumatera Selatan kembali harus ditunda pada Selasa, 13 Oktober 2026. Armada tersebut sebelumnya telah disiapkan untuk menjalankan operasi water bombing pada pagi hari, dengan sasaran wilayah yang terindikasi mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Namun, rencana penerbangan itu dibatalkan setelah kondisi jarak pandang atau visibility memburuk. Perubahan cuaca dan menurunnya jarak pandang dinilai dapat meningkatkan risiko selama helikopter melakukan lepas landas, menuju lokasi, maupun menjatuhkan air. Karena itu, penerbangan tidak langsung dipaksakan meskipun kebutuhan untuk menangani titik api tetap menjadi perhatian.
Ferdian mengatakan pihaknya masih memantau perkembangan jarak pandang sebelum memberikan permintaan agar operasi water bombing dijalankan. Pemantauan dilakukan untuk memastikan kondisi udara cukup aman bagi pilot dan kru, sekaligus mendukung ketepatan pelaksanaan pemadaman dari udara. Keputusan untuk menunggu bukan berarti penanganan dihentikan, melainkan bagian dari penyesuaian operasi terhadap situasi lapangan yang berubah.
Penundaan tersebut juga berkaitan dengan pertimbangan keamanan penerbangan, bukan karena armada pemadam tidak tersedia. Lima helikopter telah dipersiapkan dan dapat digunakan ketika kondisi dinilai memenuhi persyaratan keselamatan. Dengan demikian, pelaksanaan misi akan bergantung pada hasil pemantauan terbaru terhadap jarak pandang serta penilaian operasional di lapangan.
Langkah berhati-hati diperlukan karena operasi water bombing membutuhkan koordinasi yang tepat kru udara, petugas di darat, dan pengelola wilayah penanganan kebakaran. Penerbangan baru akan dilanjutkan setelah kondisi memungkinkan, sehingga proses pemadaman dapat berlangsung secara efektif tanpa mengabaikan keselamatan personel maupun penerbangan.
Gangguan asap tebal telah menghambat operasi udara pemadaman kebakaran hutan dan lahan sejak Kamis, 8 Oktober. Kondisi jarak pandang di sejumlah wilayah Sumatera Selatan menurun sehingga penerbangan helikopter pemadam tidak dapat dilakukan secara leluasa. Asap yang menyelimuti area kejadian membuat kru harus mempertimbangkan kondisi cuaca dan keamanan sebelum menjalankan misi, terutama ketika pesawat perlu terbang rendah untuk mengambil serta menjatuhkan air.
Menurut Ferdian, perubahan jarak pandang berlangsung dinamis dari waktu ke waktu. Situasi tersebut dapat membaik dalam beberapa jam, tetapi kembali memburuk ketika arah angin berubah atau konsentrasi asap meningkat. Pada beberapa hari, kondisi bahkan membuat helikopter sama sekali tidak dapat mengudara. Keputusan menghentikan penerbangan bukan semata-mata berkaitan dengan efektivitas pemadaman, melainkan juga untuk melindungi keselamatan awak dan mencegah risiko kecelakaan selama operasi berlangsung.
Penerbangan water bombing yang sempat dilakukan dari Bangka Belitung juga belum berjalan optimal. Langit di sekitar lokasi kebakaran tertutup asap tebal, sehingga pilot menghadapi keterbatasan saat mencari titik sasaran dan menjaga jarak aman dari permukaan. Dengan situasi seperti itu, keberadaan helikopter di udara tidak otomatis menjamin air dapat dijatuhkan secara tepat. Karakteristik kondisi di titik kejadian menjadi faktor utama dalam menentukan apakah penerbangan aman untuk dilaksanakan. Pemantauan jarak pandang, pergerakan asap, arah angin, serta perkembangan api perlu dilakukan secara berkelanjutan sebelum misi diteruskan. Selama faktor-faktor tersebut belum mendukung, operasi udara harus dibatasi atau ditunda meskipun kebutuhan pemadaman di lapangan tetap tinggi.
Penanganan titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih dilakukan oleh satuan tugas (satgas) darat, meskipun lima helikopter pemadam belum dapat beroperasi karena asap tebal menunda pelaksanaan operasi. Upaya di lapangan tetap diarahkan pada wilayah yang memerlukan penanganan, dengan satgas darat menjadi unsur yang menjalankan langkah pemadaman secara langsung.
Empat wilayah yang menjadi fokus penanganan adalah Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Keempat daerah tersebut menjadi perhatian dalam penanganan titik karhutla melalui kegiatan yang dilakukan oleh unsur darat. Penanganan tetap berlangsung dengan menyesuaikan kondisi yang dihadapi di masing-masing lokasi.
Pelaksanaan penanganan menghadapi kendala berupa medan yang berat. Kondisi tersebut dapat menyulitkan pergerakan dan pelaksanaan kegiatan di area karhutla, sehingga pekerjaan satgas darat berlangsung dalam situasi lapangan yang tidak mudah. Hambatan lain berkaitan dengan ketersediaan air yang semakin terbatas.
Sungai dan kanal di sejumlah lokasi mulai mengering. Keadaan ini membuat sumber air untuk mendukung penanganan karhutla semakin sulit diperoleh. Keterbatasan tersebut menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi selama satgas darat menjalankan tugasnya di empat wilayah fokus.
Dengan helikopter water bombing yang belum dapat beroperasi, penanganan tetap dilanjutkan melalui satgas darat. Fokus kegiatan masih berada di Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim, dengan pelaksanaan yang menghadapi medan berat serta sumber air yang semakin sulit ditemukan karena sungai dan kanal mulai mengering.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Melawi, Salurkan Peralatan Pemadam kepada Masyarakat | Pemanfaatan AI dalam Visualisasi Regulasi Hukum di Sumatera Selatan

