Budaya  

Sorong Selatan: Ketika Hutan, Pangan, dan Tradisi Menjadi Satu Lanskap Kehidupan

Sorong Selatan: Ketika Hutan, Pangan, dan Tradisi Menjadi Satu Lanskap Kehidupan

SORONG, PAPUA BARAT DAYA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Sorong Selatan, Papua Barat Daya, merupakan wilayah dengan bentang alam yang berlapis dan saling terhubung. Hutan, sungai, rawa gambut, mangrove, hingga pesisir membentuk satu kesatuan ekologis yang tidak hanya penting bagi keseimbangan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang hidup masyarakat. Dalam lanskap tersebut, Konda, Bariat, dan Klaogin hadir sebagai kawasan yang memperlihatkan hubungan erat manusia, alam, serta berbagai sumber penghidupan yang diwariskan dan dikelola secara turun-temurun.

Keragaman karakter wilayah terlihat jelas Bariat dan Klaogin. Bariat memperlihatkan rangkaian ekosistem yang bergerak dari kawasan hutan menuju rawa gambut dan mangrove. Peralihan tersebut menunjukkan bagaimana satu wilayah dapat memiliki kondisi lingkungan yang beragam dalam ruang yang berdekatan. Sementara itu, Klaogin memiliki aliran sungai yang menghubungkan daratan, kawasan mangrove, hingga pesisir. Sungai tidak hanya menjadi bagian dari sistem alam, tetapi juga berperan sebagai jalur yang menyatukan berbagai ruang kehidupan masyarakat.

Perbedaan lingkungan di setiap kawasan menciptakan habitat bagi flora dan fauna yang menjadi bagian penting dari kehidupan setempat. Kekayaan tersebut dimanfaatkan oleh warga dengan tetap disertai upaya untuk menjaganya. Karena itu, hutan, sungai, gambut, mangrove, dan pesisir tidak dapat dipandang sebagai ruang yang terpisah. Semuanya merupakan lanskap yang saling memengaruhi, sekaligus menopang pengetahuan, pangan, dan tradisi masyarakat Sorong Selatan.

Besarnya kekayaan hayati di wilayah ini turut tercermin dalam data yang disampaikan Meizani Irma Dianni, Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia. Dalam jumpa pers di Jakarta pada Jumat, 2 Oktober 2026, ia menyampaikan bahwa telah teridentifikasi 416 tumbuhan dan 372 satwa di Sorong Selatan. Data tersebut memperlihatkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat, sekaligus menegaskan bahwa pemanfaatan alam perlu berjalan bersama perlindungan terhadap ekosistem yang menopangnya.

Hutan Adat Konda dan kawasan alam di sekitarnya tidak dapat dipahami hanya sebagai ruang ekologis yang berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan. Bagi masyarakat Sorong Selatan, hutan merupakan bagian dari lanskap kehidupan yang berkaitan erat dengan sejarah, identitas, pengetahuan lokal, dan keberlanjutan keluarga. Di dalamnya tersimpan jejak hubungan antargenerasi, termasuk cara mengenali tumbuhan, menentukan waktu mengambil hasil hutan, serta memahami batas-batas pemanfaatan agar alam tetap terjaga. Karena itu, keberadaan Hutan Adat Konda memiliki arti sosial dan budaya yang sama pentingnya dengan fungsi ekologisnya.

Lingkungan menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari masyarakat. Hutan menghasilkan bahan pangan dan hasil alam, seperti sayuran, buah, bahan obat, kayu bakar, serta material lain yang mendukung kehidupan rumah tangga. Sungai menjadi sumber ikan dan ruang penting bagi aktivitas masyarakat. Pengetahuan untuk mengambil, memilih, dan menggunakan sumber daya tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan diperkenalkan sejak usia dini melalui keluarga dan kegiatan harian. Anak-anak belajar dengan mengamati orang tua, mengikuti perjalanan ke hutan atau sungai, dan memahami aturan tidak tertulis mengenai bagian alam yang boleh dimanfaatkan serta cara menjaganya.

Kedekatan itu terlihat jelas dalam kehidupan masyarakat Klaogin. Kepala Kampung Klaogin, Martinus Sawen, memandang hutan sebagai “mama” karena hutan menyediakan makanan dan minuman, kayu bakar, sayur, ikan, serta daging. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hutan diperlakukan sebagai sumber kehidupan yang memberi, merawat, dan menopang keberlangsungan masyarakat, bukan sebagai persediaan yang dapat diambil tanpa batas. Pemaknaan ini merupakan bagian dari kearifan lokal warga Klaogin. Hubungan tersebut membentuk tanggung jawab moral untuk menggunakan hasil alam secara bijaksana, menghormati pengetahuan leluhur, dan mewariskan pemahaman tentang hutan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, pelestarian alam berjalan berdampingan dengan pemeliharaan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat.

Hubungan masyarakat Sorong Selatan dengan alam tampak jelas dalam cara pangan diolah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahan makanan diperoleh dari lingkungan sekitar, kemudian diolah berdasarkan pengetahuan yang diwariskan dalam keluarga. Hutan, lahan, dan perairan tidak hanya menjadi sumber bahan pangan, tetapi juga ruang tempat masyarakat mengenali musim, memahami ketersediaan bahan, serta mempertahankan kebiasaan memasak yang telah berlangsung dari generasi ke generasi. Pengetahuan tersebut hadir dalam kegiatan dapur dan terus mengikuti perubahan usia anggota keluarga.

Papeda menjadi salah satu contoh utama makanan pokok berbahan sagu yang menandai hubungan pangan, lingkungan, dan tradisi. Sagu yang diperoleh dari lingkungan sekitar diolah menjadi papeda melalui pengetahuan memasak yang diturunkan di dalam keluarga. Papeda umumnya disantap bersama kuah kuning berbahan ikan. Keberadaan hidangan ini tidak hanya berkaitan dengan bahan penyusunnya, tetapi juga dengan kebiasaan keluarga yang menjaga proses pengolahan dan cara menikmatinya sebagai bagian dari keseharian masyarakat Sorong Selatan.

Pengenalan keterampilan memasak kepada anak-anak berlangsung secara bertahap. Para mama mengajarkan pengolahan pangan melalui kegiatan di dapur, sedangkan anak-anak belajar dengan mengamati pekerjaan orang tua dan mengikuti kebiasaan yang mereka lihat setiap hari. Dari pengamatan tersebut, anak mengenali bahan pangan, urutan pekerjaan, serta cara mengolah makanan sesuai pengetahuan keluarga. Ulat sagu juga menjadi sajian lain yang berbasis pangan lokal. Ulat yang masih hidup ditusukkan satu per satu seperti sate, lalu dibakar hingga siap disantap. Proses itu memperlihatkan bagaimana bahan dari lingkungan sekitar diolah melalui keterampilan yang dipelajari dan diteruskan dalam keluarga.

Hutan Adat Konda memperlihatkan bagaimana kekayaan alam, sejarah, dan pengalaman wisata dapat hadir dalam satu lanskap kehidupan. Di kawasan ini tumbuh pohon-pohon damar tua berbatang besar yang menyimpan jejak perjalanan panjang, termasuk hingga masa kolonial. Ukuran dan usia pohon tersebut bukan hanya menjadi daya tarik visual, melainkan juga menghadirkan kesempatan bagi pengunjung untuk memahami hubungan hutan dan sejarah masyarakat setempat. Karena itu, Konda berpotensi menjadi tujuan ekowisata yang memadukan pengalaman menikmati alam dengan pengetahuan sejarah.

Bagi masyarakat, damar bukan sekadar bagian dari pepohonan hutan. Getahnya dimanfaatkan sebagai bahan bakar pelita untuk penerangan, sekaligus digunakan sebagai penunjuk arah. Getah damar juga memiliki nilai ekonomi dan berpotensi dimanfaatkan dalam industri parfum, kosmetik, serta farmasi. Pengetahuan mengenai manfaat tersebut tumbuh dari pengalaman yang diwariskan, sehingga pemanfaatannya tetap berkaitan dengan aturan dan tanggung jawab untuk menjaga keberadaan pohon di hutan adat.

Hubungan itu tampak khusus dalam kehidupan masyarakat subsuku Nakna di Kampung Nakna. Mereka mengenal pohon-pohon keramat milik keluarga yang berkaitan dengan ikatan spiritual. Keberadaan pohon tersebut tidak dapat dipisahkan dari aturan untuk melindungi hutan adat, termasuk penghormatan terhadap batas dan tata cara pemanfaatannya. Aturan itu menjadikan hutan bukan ruang tanpa pemilik, melainkan wilayah yang memiliki nilai kultural, spiritual, dan ekologis bagi keluarga serta komunitas.

Editor in Chief National Geographic Indonesia, Didi Kaspi Kasim, berpandangan bahwa destinasi yang baik semestinya membuat pengunjung pulang dengan perasaan ikut menjaga tempat yang didatangi. Pandangan tersebut selaras dengan pengalaman di Konda: wisata tidak berhenti pada kunjungan, tetapi juga membuka pemahaman tentang damar, sejarah, dan tanggung jawab merawat hutan. Pengetahuan tentang manfaat getah damar serta aturan melindungi pohon terus diwariskan antargenerasi, menjaga agar alam dan tradisi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sorong Selatan.