Kabupaten Karanganyar. Meski | Penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Lawu mulai terkendali, tetapi upaya pemadaman belum sepenuhnya selesai. Hingga perkembangan terbaru, masih terdapat satu titik api aktif di atas Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Kondisi ini membuat tim gabungan tetap harus bekerja dengan kewaspadaan tinggi, meskipun sebagian besar penanganan di kawasan terdampak telah menunjukkan kemajuan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta seluruh personel gabungan tetap bersiaga di pos masing-masing. Ia juga mengarahkan tim untuk melakukan penyisiran secara menyeluruh, terutama di sekitar lokasi titik api yang masih aktif. Langkah tersebut diperlukan agar kondisi lapangan dapat dipantau dengan cermat dan setiap potensi penyebaran api segera diketahui. Personel diminta tidak mengendurkan kesiagaan hanya karena situasi secara umum mulai terkendali.
Koordinasi penanganan dilakukan bersama Bupati Karanganyar dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Selain mengerahkan unsur di darat, pemerintah juga menyiapkan dukungan udara. Helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) direncanakan melakukan satu sorti tambahan dari Lanud Adi Soemarmo. Rencana ini menjadi bagian dari upaya memperkuat penanganan di lokasi yang masih memerlukan perhatian, sekaligus membantu memastikan pemadaman dapat dilakukan secara efektif.
Satu titik api yang tersisa tetap dianggap krusial karena bara atau nyala api yang belum tertangani berisiko memicu munculnya titik api baru. Karena itu, penyisiran perlu dilakukan secara teliti, bukan hanya pada area yang terlihat terbakar, tetapi juga pada lingkungan sekitarnya yang berpotensi menyimpan bara. Kesiagaan di pos dan koordinasi antarpihak menjadi penting untuk menjaga respons tetap cepat apabila ditemukan perkembangan baru. Pemerintah berharap langkah gabungan tersebut dapat menuntaskan titik api terakhir dan mencegah kebakaran meluas kembali di kawasan Gunung Lawu. Dengan pemantauan berkelanjutan, upaya pengendalian dapat tetap berjalan sampai area dinyatakan aman.
Kalakhar BPBD Kabupaten Karanganyar, Sugiharto, menyampaikan bahwa api dalam kebakaran hutan dan lahan di Gunung Lawu sempat padam sepenuhnya pada Minggu (25/10/2026). Kondisi tersebut menjadi perkembangan penting dalam penanganan kebakaran, tetapi pemadaman pada saat itu belum mengakhiri pemantauan di kawasan terdampak. Petugas tetap perlu memastikan situasi di lapangan, terutama setelah perubahan kondisi dapat diketahui melalui pemeriksaan lanjutan. Informasi ini menjadi dasar untuk memahami perkembangan terbaru tanpa menyimpulkan lebih jauh mengenai bagaimana api kemudian muncul kembali.
Pada Senin pagi, pemantauan menemukan satu titik api baru di atas kawasan Gondosuli. Temuan tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat api yang perlu diperhatikan di sekitar kawasan Gunung Lawu, meskipun sehari sebelumnya api dilaporkan telah padam seluruhnya. Sugiharto menerangkan adanya temuan itu dalam keterangan mengenai kondisi kebakaran. Lokasi yang disebut berada di atas Gondosuli menjadi penanda bagi pembaruan situasi, namun informasi yang tersedia tidak merinci ukuran titik api ataupun luas area yang terdampak.
Perbedaan kondisi Minggu dan Senin membuat pemantauan tetap penting untuk mengetahui keadaan terkini. Laporan bahwa api sempat padam dan penemuan titik baru pada pagi berikutnya perlu dipahami sebagai urutan kejadian yang disampaikan BPBD, bukan sebagai bukti tentang penyebab kemunculan api tersebut. Tidak ada keterangan yang memastikan apakah titik itu berasal dari sisa bara, perubahan keadaan di sekitar lokasi, atau faktor lain. Karena itu, penyebab munculnya kembali api tidak dapat ditetapkan berdasarkan informasi yang ada.
Adapun penyebab pasti kebakaran Gunung Lawu masih diselidiki oleh kepolisian. Proses penyelidikan tersebut diperlukan untuk memperoleh keterangan yang dapat menjelaskan bagaimana kebakaran bermula dan faktor apa yang terlibat. Hingga hasilnya disampaikan, informasi mengenai titik api baru sebaiknya dibatasi pada temuan pemantauan Senin pagi di atas Gondosuli serta keterangan bahwa api sempat padam sepenuhnya pada Minggu. Pembaruan dari pihak berwenang akan menjadi acuan untuk mengetahui perkembangan penanganan dan hasil pemeriksaan penyebab kebakaran.
Tantangan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Gunung Lawu tidak hanya berkaitan dengan lokasi titik api, tetapi juga kondisi permukaan tanah yang menyulitkan petugas. Sugiharto menyampaikan bahwa sebagian area tertutup ilalang tebal dengan tinggi mencapai sekitar 30 sentimeter. Lapisan vegetasi tersebut membuat akses dan upaya penanganan kebakaran menjadi lebih rumit, terutama ketika api merambat atau tersembunyi di bawah tutupan tanaman. Situasi ini menuntut kewaspadaan serta pendekatan yang disesuaikan dengan karakter lahan di lapangan.
Kondisi tanah di sejumlah bagian juga disebut menyerupai lahan gambut. Karakter tersebut membuat pemadaman memerlukan upaya ekstra dan penanganan khusus, sebab bara berpotensi bertahan di bawah permukaan meskipun api yang terlihat telah berkurang. Karena itu, keberhasilan penyiraman dari udara perlu diikuti pemeriksaan dan pemantauan terhadap area terdampak. Petugas harus memastikan titik panas benar-benar tertangani, sekaligus memperhatikan lapisan ilalang yang dapat menghambat air mencapai sumber bara. Tantangan ini menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan langkah pemadaman berikutnya.
Untuk mendukung operasi, water bombing telah dilakukan sebanyak 34 kali. Total air yang dijatuhkan mencapai 68.000 liter, dengan volume 2.000 liter pada setiap penyiraman. Angka tersebut menunjukkan besarnya dukungan udara yang telah dikerahkan dalam upaya menekan kebakaran. Meski demikian, operasi lanjutan melalui udara tidak dilakukan tanpa mempertimbangkan situasi setempat. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kondisi cuaca di puncak Gunung Lawu, yang berpengaruh terhadap keamanan dan efektivitas penerbangan. Dengan memperhitungkan cuaca serta tantangan vegetasi dan tanah, langkah berikutnya dapat diarahkan secara lebih tepat untuk menangani titik api yang masih tersisa.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan di Gunung Lawu, Ahmad Luthfi meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jawa Tengah, Dinas PUPR Kabupaten Karanganyar, serta Perhutani menyusun rencana pembangunan tandon atau embung air. Fasilitas penampungan tersebut diharapkan berada di titik yang strategis dan dapat dimanfaatkan dengan cepat ketika api muncul. Perencanaan perlu memperhatikan akses menuju lokasi, kapasitas air, serta cara pengisian dan pemeliharaan agar sarana tidak hanya tersedia, tetapi juga berfungsi saat dibutuhkan. Koordinasi lintas instansi diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhan lapangan dan menentukan pembagian tugas dalam pembangunan maupun pengelolaan fasilitas itu.
Keberadaan tandon dan embung dapat membantu mempercepat upaya pemadaman, terutama ketika pasokan air sulit dijangkau dari lokasi kejadian. Namun, pembangunan sarana tersebut perlu berjalan beriringan dengan langkah pencegahan. Luthfi menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai perilaku yang berisiko memicu kebakaran, termasuk membakar sampah, membuang puntung rokok sembarangan, atau menyalakan api di kawasan hutan. Pesan pencegahan perlu disampaikan secara jelas dan berulang, dengan melibatkan pihak yang berinteraksi langsung dengan kawasan. Hingga penyelidikan selesai, penyebab kebakaran tidak seharusnya disimpulkan atau dikaitkan dengan tindakan tertentu tanpa dasar yang terverifikasi.
Upaya menjaga Gunung Lawu juga memerlukan keterlibatan warga di sekitar kawasan. Masyarakat dapat membantu menyampaikan informasi ketika melihat tanda kebakaran, mengikuti imbauan keselamatan, dan menghindari kegiatan yang berpotensi menimbulkan api. Menurut Luthfi, warga memiliki kearifan lokal yang dapat mendukung perlindungan wilayahnya. Pengetahuan tentang kondisi lingkungan, jalur, dan kebiasaan setempat dapat menjadi bagian penting dalam kesiapsiagaan, selama diselaraskan dengan arahan petugas dan prosedur penanganan. Karena itu, pemerintah dan pengelola kawasan perlu membuka ruang komunikasi dengan masyarakat serta mendorong kerja sama yang berkelanjutan. Pencegahan, sarana air yang siap digunakan, dan partisipasi warga diharapkan memperkuat respons apabila kebakaran kembali terjadi.
Baca juga: Inisiatif Baru untuk Pengelolaan Gambut dan Pencegahan Karhutla di Indonesia | Prabowo Tegaskan Pentingnya Pembenahan Regulasi untuk Cegah Karhutla | Komandan Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Kalsel dalam Rapat Evaluasi






