Kota Kita | Jalan yang lebar, gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan modern, serta transportasi yang semakin baik sering dianggap sebagai tanda kemajuan sebuah kota. Namun, perubahan fisik tersebut belum tentu membuat kota memiliki identitas yang kuat. Berbagai kota dapat menghadirkan fasilitas dan bentuk bangunan serupa, tetapi tetap terasa berbeda karena karakter tidak hanya dibentuk oleh infrastruktur. Identitas tumbuh dari hubungan ruang, sejarah, dan kehidupan sehari-hari warga yang mengisinya.
Sejarah memberi konteks tentang bagaimana sebuah kota berkembang dan perubahan yang pernah dialami masyarakatnya. Kebiasaan, bahasa, kesenian, serta cara warga hidup berdampingan turut membentuk karakter yang dikenali dari generasi ke generasi. Hal-hal tersebut sering hadir dalam kegiatan sederhana: percakapan di lingkungan tempat tinggal, perayaan bersama, atau ruang publik yang menjadi tempat orang berkumpul. Karena itu, identitas kota bukan sekadar citra yang dirancang untuk menarik pengunjung, melainkan hasil pengalaman kolektif warganya.
Sejumlah unsur sehari-hari dapat menyimpan kisah dan ciri khas tersebut. Arsitektur bangunan lama menunjukkan jejak masa lalu, sementara makanan khas mencerminkan bahan, selera, dan kebiasaan setempat. Tradisi yang diwariskan lintas generasi menjaga hubungan warga dengan sejarahnya. Begitu pula kebiasaan saling membantu, misalnya ketika tetangga bekerja bersama untuk menyiapkan kegiatan lingkungan, memperlihatkan nilai sosial yang mungkin tidak tampak pada peta atau daftar fasilitas kota. Unsur-unsur ini memberi makna pada tempat dan membuatnya lebih mudah dikenali.
Modernisasi tetap penting untuk memperbaiki akses, kenyamanan, dan peluang hidup warga. Namun, pembangunan yang seragam berisiko mengabaikan konteks lokal. Ketika bangunan lama dihapus tanpa pertimbangan, ruang tradisi tergantikan, atau kawasan dirancang hanya mengikuti pola yang sama, kota mungkin tampak modern tetapi kehilangan sebagian kisahnya. Menjaga karakter tidak berarti menolak perubahan. Sebaliknya, perencanaan dapat menggabungkan kebutuhan baru dengan perlindungan warisan, kebiasaan, dan ruang sosial. Dengan demikian, kemajuan fisik mendukung kehidupan kota tanpa menghapus ciri yang membuatnya bermakna bagi warga.
Pembahasan mengenai hubungan modernisasi dan identitas budaya mengemuka dalam forum Rembuk Kebudayaan Kota Kita yang diselenggarakan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Singkawang, Kalimantan Barat, pada 16 Oktober 2026. Forum tersebut menjadi ruang bagi pemerintah kota untuk menimbang bagaimana perubahan perkotaan dapat berlangsung tanpa menghapus karakter lokal. Isu ini relevan ketika kota menghadapi kebutuhan memperbarui layanan, infrastruktur, ruang publik, serta tata kelola, sementara masyarakat tetap memerlukan keterhubungan dengan sejarah dan nilai yang membentuk kehidupan bersama. Dalam konteks itu, kebudayaan tidak ditempatkan sebagai urusan pinggiran, melainkan sebagai pertimbangan penting dalam merumuskan masa depan kota.
Ketua Dewan Pengurus APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengajak pemerintah kota menjalankan modernisasi yang tetap berakar pada budaya. Pesan tersebut menegaskan bahwa kemajuan tidak harus berarti menyeragamkan wajah kota atau memutus hubungan dengan pengalaman masyarakat setempat. Setiap kota memiliki tradisi, pengetahuan, ekspresi, dan cara hidup yang berkembang dari perjalanan panjang warganya. Unsur-unsur itu dapat menjadi dasar untuk menentukan prioritas pembangunan, memahami kebutuhan masyarakat, serta merancang perubahan yang terasa relevan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan demikian, modernisasi dapat memberi manfaat tanpa menjadikan identitas lokal sebagai hambatan.
Ajakan tersebut juga memperluas pemahaman tentang pelestarian kebudayaan. Upaya menjaga kesenian dan mempertahankan bangunan bersejarah tetap penting, tetapi cakupannya tidak berhenti pada dua hal itu. Kebudayaan perlu hadir dalam arah pembangunan, mulai dari perencanaan ruang dan penyediaan layanan hingga pengelolaan kawasan serta pelibatan warga. Pemerintah kota dapat mempertimbangkan nilai dan praktik lokal ketika menetapkan kebijakan, sehingga pembangunan tidak hanya berorientasi pada perubahan fisik atau pertumbuhan ekonomi. Pendekatan ini mendorong kota berkembang dengan tetap menghargai warisan, kreativitas, dan aspirasi masyarakatnya. Dalam forum di Singkawang, pesan tersebut menempatkan kebudayaan sebagai bagian dari fondasi pengambilan keputusan, bukan sekadar pelengkap kegiatan atau simbol identitas.
Di tengah persaingan antarkota untuk menarik investasi, wisatawan, dan tenaga kerja berkualitas, budaya bukan sekadar pelengkap agenda pembangunan. Kota dengan identitas yang kuat menawarkan pengalaman khas yang sulit ditiru oleh pesaing. Kekhasan itu dapat tampak dalam bahasa yang hidup di ruang publik, tradisi, kuliner, seni, arsitektur, serta cara warga berinteraksi. Bagi investor, lingkungan yang berkarakter dapat membangun reputasi dan rasa keterikatan; bagi wisatawan, ia memberi alasan untuk berkunjung lebih lama; sedangkan bagi calon pekerja, kota yang terbuka dan kaya kehidupan sosial terasa lebih menarik sebagai tempat tinggal. Karena itu, budaya berkontribusi pada daya saing sekaligus membentuk kesan kota secara keseluruhan.
Meski demikian, daya tarik kota kerap dinilai melalui indikator fisik dan ekonomi yang mudah dihitung. Panjang jalan, jumlah gedung, nilai investasi, serta pertumbuhan ekonomi dapat disajikan sebagai angka dan dibandingkan dari tahun ke tahun. Ukuran tersebut penting untuk membaca perkembangan infrastruktur dan kegiatan ekonomi, tetapi belum cukup menggambarkan pengalaman hidup warga. Kota dapat tumbuh pesat tanpa memberi ruang memadai bagi perjumpaan, ekspresi, dan rasa memiliki. Jika keberhasilan pembangunan hanya ditakar melalui angka-angka itu, aspek yang menjaga hubungan sosial serta membuat sebuah tempat terasa bermakna berisiko dianggap sekunder. Akibatnya, modernisasi dapat memperluas fasilitas, tetapi belum tentu memperkuat daya tarik kota bagi beragam kelompok masyarakat.
Perawatan budaya memerlukan perhatian yang setara dengan pembangunan fisik. Bahasa daerah perlu digunakan dan diwariskan, bukan hanya dicatat sebagai warisan masa lalu. Ruang perjumpaan, seperti taman, pasar, balai warga, dan kawasan publik yang mudah diakses, membantu orang berbagi pengalaman lintas generasi maupun latar belakang. Pengetahuan tradisional dapat memberi wawasan bagi pengelolaan lingkungan dan kehidupan sehari-hari, sementara toleransi memungkinkan perbedaan tumbuh tanpa mengurangi rasa aman. Hal-hal ini tidak selalu tercermin dalam peringkat atau laporan investasi, tetapi memengaruhi kualitas hidup dan ketahanan sosial. Dengan mengakui nilai tersebut, pemerintah dapat merancang kebijakan yang menghubungkan identitas budaya dengan layanan publik, tata ruang, dan peluang ekonomi, sehingga kemajuan kota tetap berakar pada kehidupan warganya.
Kota sering dinilai melalui kemampuannya mendukung pekerjaan, mobilitas, dan kegiatan ekonomi secara efisien. Namun, kehidupan perkotaan tidak berhenti pada fungsi-fungsi tersebut. Kota juga menjadi ruang tempat warga membangun hubungan, berbagi pengalaman, dan merawat ingatan bersama. Jalan, fasilitas, serta layanan publik penting bagi kegiatan sehari-hari, tetapi makna kota turut terbentuk melalui kebiasaan, perjumpaan, dan nilai yang berkembang di dalamnya. Karena itu, modernisasi sebaiknya tidak hanya diukur dari perubahan fisik atau kecepatan aktivitas, melainkan juga dari kemampuannya menjaga kualitas kehidupan bersama.
Memperhatikan warisan antargenerasi bukan berarti menolak pembangunan. Infrastruktur tetap dibutuhkan untuk mendukung produktivitas, memperluas akses, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada saat yang sama, keputusan pembangunan perlu melihat dampaknya terhadap identitas dan ruang hidup warga. Pertanyaan yang layak diajukan bukan semata-mata apakah sebuah proyek membuat kota lebih praktis hari ini, tetapi juga kota seperti apa yang akan diwariskan kepada anak cucu. Dengan pertimbangan tersebut, kemajuan dapat berjalan bersama upaya merawat tradisi, tanpa menjadikan keduanya sebagai pilihan yang saling meniadakan.
Hubungan budaya dan pembangunan juga tampak ketika nilai lokal memperoleh tempat dalam arah perkembangan kota. Budaya dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus memberi makna pada kegiatan ekonomi daerah. Upaya merawatnya membutuhkan perhatian terhadap ruang, praktik, dan kesempatan bagi warga untuk meneruskannya kepada generasi berikutnya.






