Jakarta | Kementerian Komunikasi dan Digital mengimbau siswa untuk tetap menggunakan nalar kritis ketika memanfaatkan kecerdasan artifisial atau AI dalam kegiatan belajar. Teknologi ini dapat membantu mencari informasi, memahami materi, dan menyusun gagasan, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa. Siswa sebaiknya tidak menerima jawaban yang dihasilkan AI begitu saja, melainkan menilai apakah informasi tersebut masuk akal, sesuai konteks, dan didukung sumber yang dapat dipercaya. Sikap kritis membantu mereka mengenali kemungkinan kekeliruan, informasi yang tidak lengkap, maupun sudut pandang yang perlu dipertimbangkan lebih jauh. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi berjalan berdampingan dengan proses belajar yang aktif.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, memandang AI sebagai alat bantu pembelajaran, bukan pengganti kemampuan manusia. AI dapat mendukung siswa saat mengeksplorasi topik atau memperoleh penjelasan awal, namun pemahaman tetap dibangun melalui usaha belajar, pertanyaan, dan penilaian siswa sendiri. Teknologi tidak menggantikan otak, nurani, ataupun insting manusia. Ketiganya berperan saat seseorang menimbang informasi, memahami dampak suatu pilihan, serta menentukan tindakan yang tepat. Karena itu, jawaban cepat dari perangkat digital tidak semestinya menggantikan proses berpikir yang diperlukan untuk memahami pelajaran secara mendalam.
Dalam praktiknya, siswa dapat menjadikan AI sebagai salah satu sumber dukungan, sembari membandingkan keluarannya dengan bahan ajar, penjelasan guru, dan referensi tepercaya. Jika jawaban terasa meragukan, mereka dapat mencari bukti tambahan atau meminta klarifikasi. Penggunaan yang bijak juga berarti memahami bahwa hasil AI bukan selalu benar dan tidak selalu sesuai dengan kebutuhan setiap tugas. Menjaga peran aktif dalam belajar membuat siswa tetap bertanggung jawab atas pemahaman serta pekerjaan mereka. Pesan tersebut menempatkan teknologi sebagai sarana yang berguna, sementara pertimbangan, kreativitas, dan keputusan tetap berasal dari manusia. Dengan cara ini, siswa dapat memanfaatkan kemampuan AI tanpa menyerahkan kendali atas proses belajar mereka kepadanya.
Dalam menggunakan kecerdasan buatan untuk mengerjakan tugas, siswa sebaiknya tidak berhenti pada permintaan agar AI memberikan jawaban. Fifi mengingatkan bahwa hasil yang muncul bukan sesuatu yang seharusnya langsung disalin dan diserahkan. Kebiasaan tersebut dapat membuat siswa melewatkan proses memahami materi, menilai informasi, dan menyusun jawaban dengan pemikirannya sendiri. AI dapat membantu belajar, tetapi pengguna tetap perlu mengambil peran aktif.
Salah satu langkah penting ialah mempertanyakan alasan di balik jawaban yang diberikan. Siswa dapat menelusuri bagaimana AI sampai pada suatu kesimpulan, konsep apa yang digunakan, dan apakah penjelasannya sesuai dengan pertanyaan. Jika jawaban terasa terlalu umum, tidak jelas, atau bertentangan dengan hal yang telah dipelajari, ajukan pertanyaan lanjutan. Dengan begitu, interaksi dengan AI menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahaman, bukan sekadar cara memperoleh hasil cepat.
Jawaban AI juga perlu diperiksa kembali kebenarannya. Siswa sebaiknya membandingkan informasi dengan materi pelajaran, buku, sumber tepercaya, atau penjelasan guru. Periksa fakta, istilah, perhitungan, serta konteks yang digunakan; jawaban yang tersusun rapi belum tentu akurat. Bila menemukan perbedaan, jangan langsung menganggap salah satu sumber benar tanpa menimbang bukti. Proses pemeriksaan membantu siswa mengenali kekeliruan sekaligus membangun kebiasaan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Setelah memahami dan memverifikasi isi, siswa dapat menyusun jawaban dengan kata-kata sendiri. Catat gagasan utama, jelaskan kembali dengan bahasa yang dipahami, lalu pastikan jawaban benar-benar menjawab tugas. AI dapat dimanfaatkan untuk meminta contoh, memperoleh penjelasan alternatif, atau menemukan bagian materi yang masih membingungkan. Namun, hasil akhirnya perlu mencerminkan pemahaman siswa, bukan sekadar menyalin keluaran mesin tanpa evaluasi.
Pendekatan ini membuat penggunaan AI lebih bermakna dalam kegiatan belajar. Siswa tetap memperoleh manfaat dari bantuan teknologi, tetapi sekaligus melatih nalar kritis, ketelitian, dan kemandirian. Peringatan Fifi dapat dipahami sebagai ajakan agar siswa tidak menerima jawaban secara pasif. Tanyakan alasan, cek kebenaran, dan olah kembali informasi sebelum menggunakannya. Dengan kebiasaan tersebut, AI berfungsi sebagai alat bantu belajar, sementara keputusan dan tanggung jawab atas jawaban tetap berada pada siswa.
Informasi yang disampaikan oleh kecerdasan buatan perlu diperiksa sebelum digunakan sebagai dasar pemahaman atau tugas. Karena itu, siswa dianjurkan membandingkan jawaban AI dengan rujukan yang telah teruji keabsahannya. Imbauan ini membantu siswa membedakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dari jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu tepat. Fifi menekankan pentingnya membandingkan hasil tersebut dengan pernyataan guru, penjelasan profesor, serta bacaan ilmiah. Ketiganya dapat menjadi pegangan untuk menilai apakah jawaban AI sejalan dengan pengetahuan yang telah diuji.
Proses membandingkan tidak berarti siswa harus langsung menolak setiap keluaran AI. Sebaliknya, mereka dapat membaca jawaban itu secara kritis, lalu mencermati kesesuaiannya dengan keterangan dari guru, profesor, dan bacaan ilmiah. Jika terdapat perbedaan, siswa perlu memberi perhatian pada perbedaan tersebut dan tidak segera menganggap jawaban AI sebagai kebenaran. Sikap ini mendorong kebiasaan bertanya, menelaah, dan memastikan dasar suatu informasi. Dengan demikian, penggunaan teknologi tetap disertai pertimbangan yang matang, bukan sekadar menerima teks yang muncul tanpa pemeriksaan.
AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan satu-satunya rujukan dalam belajar. Jawabannya dapat membantu siswa memperoleh gambaran awal, tetapi keabsahan informasi tetap perlu ditimbang melalui sumber yang disebutkan Fifi. Pernyataan guru, keterangan profesor, dan bacaan ilmiah memberi pembanding yang diperlukan agar pemahaman tidak bergantung sepenuhnya pada keluaran mesin. Kebiasaan ini juga membantu siswa menggunakan AI secara bertanggung jawab: memanfaatkan kemudahan yang tersedia sambil tetap mengandalkan nalar kritis. Dengan cara tersebut, siswa dapat menilai informasi secara lebih cermat dan membangun pemahaman yang didukung rujukan tepercaya.
Fifi menyampaikan imbauan agar siswa menggunakan kecerdasan buatan dengan nalar kritis dalam acara OJK Digiclass bagi pelajar Sekolah Rakyat di Jakarta pada Selasa. Pesan tersebut menempatkan penggunaan teknologi sebagai hal yang perlu disertai pertimbangan, bukan sekadar mengikuti jawaban atau informasi yang muncul. Bagi pelajar, kecakapan memanfaatkan AI perlu berjalan berdampingan dengan kemampuan menilai dan memahami informasi secara mandiri.
Dalam konteks kegiatan yang ditujukan kepada pelajar, ajakan itu menggarisbawahi pentingnya sikap aktif ketika berhadapan dengan teknologi. Siswa dapat menjadikan AI sebagai alat bantu, tetapi tetap perlu memeriksa apakah informasi yang diperoleh masuk akal dan sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, teknologi tidak menggantikan proses belajar atau penilaian pribadi. Pesan ini juga mengingatkan bahwa hasil yang diberikan AI perlu diperlakukan secara kritis, bukan diterima begitu saja.
OJK Digiclass menjadi ruang penyampaian pesan tersebut kepada para pelajar Sekolah Rakyat. Fifi mengaitkan pemanfaatan teknologi dengan kebutuhan untuk membangun nalar yang kuat. Sikap kritis membantu siswa mempertimbangkan informasi, mengenali kemungkinan kekeliruan, dan menentukan cara menggunakan jawaban yang tersedia. Kemampuan ini relevan ketika teknologi semakin dekat dengan kegiatan belajar dan keseharian. Karena itu, penggunaan AI bukan hanya soal mengetahui cara mengaksesnya, tetapi juga memahami batasnya dan tetap mengandalkan penilaian sendiri.
Imbauan Fifi menegaskan bahwa pelajar perlu mengembangkan kebiasaan berpikir sebelum menerima atau memakai informasi dari AI. Nalar kritis dapat dilatih melalui proses bertanya, membandingkan informasi, dan mempertimbangkan alasan di balik suatu jawaban. Pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut mengarahkan siswa untuk menjadi pengguna teknologi yang lebih cermat. Fifi menekankan bahwa latihan berpikir kritis merupakan faktor penting bagi kesuksesan generasi muda di masa depan.





