Jakarta Selatan Dorong Ruang yang Lebih Terbuka bagi Kesehatan Jiwa

Kota Jakarta Selatan | Pemerintah Kota Jakarta Selatan mengajak masyarakat menghapus stigma terhadap orang dengan gangguan kesehatan jiwa. Ajakan tersebut disampaikan dalam puncak peringatan Hari Kesehatan Jiwa Nasional di Jakarta pada Selasa. Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Firmanuddin Ibrahim menyatakan bahwa upaya membangun lingkungan yang lebih terbuka perlu dimulai dengan cara pandang yang menghormati martabat setiap orang. Mereka yang mengalami masalah kesehatan jiwa tidak seharusnya dijauhi, diberi cap negatif, atau dinilai hanya berdasarkan kondisinya. Masyarakat perlu memahami bahwa persoalan kesehatan jiwa dapat dialami siapa saja dan memerlukan kepedulian, bukan penghakiman.

Pesan utama dalam ajakan tersebut adalah kesehatan jiwa perlu memperoleh perhatian yang setara dengan kesehatan fisik. Keduanya merupakan bagian penting dari kesejahteraan seseorang, sehingga pembahasan mengenai kesehatan tidak semestinya hanya berfokus pada kondisi tubuh. Perhatian terhadap kesehatan jiwa juga berarti menciptakan ruang bagi masyarakat untuk berbicara, mencari bantuan, dan memperoleh dukungan tanpa takut dipermalukan. Ketika isu ini diperlakukan sebagai hal yang wajar untuk dibicarakan, orang yang membutuhkan pertolongan dapat merasa lebih aman untuk menyampaikan kesulitannya kepada keluarga, tenaga kesehatan, maupun pihak lain yang dipercaya.

Peningkatan kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi stigma. Pemahaman yang lebih baik dapat membantu meluruskan anggapan keliru serta mendorong sikap yang lebih empatik terhadap orang dengan gangguan kesehatan jiwa. Ajakan pemerintah kota itu juga menekankan bahwa dukungan tidak harus rumit: mendengarkan dengan hormat, tidak menyebarkan prasangka, dan mendorong seseorang mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah awal. Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Nasional menjadi kesempatan untuk memperkuat perhatian bersama terhadap persoalan ini. Dengan keterlibatan masyarakat, ruang yang lebih terbuka dapat dibangun agar setiap orang dapat memperoleh dukungan dan menjalani kehidupan tanpa dibatasi stigma.

Firmanuddin menekankan bahwa pembangunan manusia sebaiknya dimulai dari jiwa. Pandangan tersebut ia hubungkan dengan pesan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, khususnya lirik “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.” Bagi Firmanuddin, urutan itu mengingatkan bahwa upaya membangun kualitas manusia tidak hanya berfokus pada kondisi fisik, tetapi juga perlu memberi perhatian pada keadaan batin dan kesehatan jiwa. Jiwa yang terpelihara dapat menjadi landasan bagi seseorang untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik serta berperan dalam lingkungan sekitarnya.

Dalam pemaparannya, ia menyebut empat hal sebagai dasar agar seseorang dapat hidup sehat dan selamat. Pertama, menunaikan kewajiban kepada Tuhan. Kedua, menjalani kehidupan sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku. Ketiga, mensyukuri apa yang ada. Keempat, bersabar dalam menghadapi keadaan dan berbagai persoalan. Keempat hal tersebut disampaikan sebagai pegangan dalam kehidupan, bukan sebagai pengganti penanganan kesehatan yang diperlukan. Pesan itu menempatkan keseimbangan nilai spiritual, kepatuhan pada aturan, rasa syukur, dan kesabaran sebagai bagian dari upaya menjaga diri.

Firmanuddin juga berharap para peserta dapat menyerap edukasi yang disampaikan oleh para narasumber. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti sebagai pemahaman selama kegiatan, melainkan dapat diterapkan ketika peserta menjalankan pelayanan kepada masyarakat. Penerapan tersebut penting agar petugas dan pihak terkait memiliki bekal yang lebih baik dalam mengenali kebutuhan warga, menyampaikan informasi, serta merespons persoalan yang muncul secara tepat.

Harapan itu mencakup penanganan berbagai persoalan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa, agar dapat berlangsung lebih optimal di Jakarta Selatan. Dengan pengetahuan yang dipahami dan digunakan dalam pelayanan, masyarakat diharapkan memperoleh perhatian yang sesuai dengan kebutuhannya. Pesan Firmanuddin menggarisbawahi bahwa kepedulian terhadap kesehatan jiwa perlu berjalan bersama upaya membangun manusia secara menyeluruh. Karena itu, edukasi, penerapan nilai dalam kehidupan, dan pelayanan yang responsif dapat saling mendukung dalam memperkuat perhatian terhadap kesehatan warga.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Debi Intan Suri, menjelaskan bahwa kegiatan edukasi kesehatan jiwa diselenggarakan melalui kolaborasi dengan RSUD Pasar Minggu dan RSUD Kebayoran Baru. Kerja sama ini menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan informasi dan mengajak berbagai pihak terlibat dalam pembahasan kesehatan jiwa. Dengan dukungan rumah sakit daerah, kegiatan dapat menghadirkan pengetahuan yang relevan sekaligus mendorong komunikasi yang lebih terbuka mengenai isu tersebut di tengah masyarakat.

Rangkaian kegiatan mencakup edukasi dan sosialisasi kesehatan jiwa dengan peserta dari beragam unsur lintas sektor. Guru dan siswa dilibatkan bersama kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta elemen masyarakat lainnya. Keragaman peserta memungkinkan informasi menjangkau lingkungan yang berbeda, mulai dari sekolah hingga keluarga dan komunitas. Setiap unsur memiliki ruang untuk memperoleh pemahaman, mengenali pentingnya perhatian terhadap kesehatan jiwa, serta ikut menyebarkan pesan yang tepat di lingkungan masing-masing. Keterlibatan lintas sektor juga menegaskan bahwa kepedulian terhadap kesehatan jiwa bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan memerlukan dukungan bersama.

Menurut Debi, tujuan edukasi tersebut adalah memperkuat pemahaman sekaligus mengurangi stigma negatif yang masih dapat melekat pada persoalan kesehatan jiwa. Informasi yang disampaikan diharapkan membantu peserta melihat isu ini secara lebih tepat dan tidak terburu-buru memberikan penilaian kepada seseorang yang membutuhkan dukungan. Pemahaman yang lebih baik dapat mendorong sikap yang empatik, membuka ruang percakapan, dan membuat warga lebih nyaman mencari atau menawarkan bantuan. Upaya mengurangi stigma juga penting agar pembahasan kesehatan jiwa tidak dianggap tabu, sehingga kebutuhan seseorang dapat disampaikan tanpa rasa takut akan perlakuan diskriminatif. Melalui kolaborasi rumah sakit dan partisipasi berbagai kelompok, edukasi ini berupaya menumbuhkan lingkungan yang lebih terbuka, suportif, dan peka terhadap kesejahteraan jiwa. Peserta dari sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat membawa pesan tersebut ke keseharian, sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Pendekatan ini sekaligus memperluas kesempatan untuk memahami bahwa menjaga kesehatan jiwa merupakan bagian dari perhatian terhadap kesehatan secara menyeluruh.Debi menekankan bahwa ketakutan terhadap stigma masih menjadi tantangan besar dalam penanganan kesehatan jiwa. Kekhawatiran akan dicap negatif, dijauhi, atau dianggap tidak mampu dapat membuat seseorang enggan bercerita dan mencari pertolongan. Akibatnya, kebutuhan akan dukungan maupun layanan profesional mungkin tidak teridentifikasi sejak awal. Stigma juga dapat memperburuk rasa terasing dan menghambat proses pemulihan. Karena itu, pembicaraan mengenai kesehatan jiwa perlu dibangun dengan sikap terbuka, informasi yang tepat, serta penghormatan terhadap pengalaman setiap individu.

Orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa perlu didengarkan, diakui, dan diterima tanpa diskriminasi. Memberi ruang untuk menyampaikan perasaan tanpa menghakimi merupakan bentuk dukungan yang berarti. Penerimaan bukan berarti mengabaikan kebutuhan penanganan, melainkan mengakui martabat dan hak seseorang sambil membantu mereka memperoleh pertolongan yang sesuai. Sikap empatik dari keluarga, teman, rekan kerja, maupun lingkungan sekitar dapat mendorong seseorang untuk berbicara lebih terbuka dan merasa aman dalam menjalani proses perawatan.

Upaya membentuk lingkungan inklusif membutuhkan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat. Pemerintah dapat memperkuat kebijakan serta ketersediaan layanan yang mudah dijangkau. Tenaga kesehatan berperan memberikan penanganan profesional dan menjelaskan pilihan perawatan secara jelas. Keluarga dan masyarakat dapat membantu mengurangi diskriminasi, mengenali kebutuhan dukungan, serta menghubungkan seseorang dengan layanan. Kerja sama tersebut penting agar akses terhadap pelayanan kesehatan jiwa tidak hanya tersedia, tetapi juga terasa aman dan dapat diterima oleh mereka yang membutuhkannya.

Keluarga dan lingkungan memiliki peran penting dalam pemulihan, termasuk dengan menjaga komunikasi, memberi dukungan secara konsisten, dan menghormati kebutuhan individu. Dukungan sosial bukan pengganti penanganan medis, tetapi dapat berjalan berdampingan dengannya.

Baca juga: Resiko Kesehatan akibat Kemarau Panjang di Jakarta | Pemuda Jakarta Rentan Menghadapi Masalah Kesehatan Ginjal | Dampak Kurang Tidur bagi Kesehatan Masyarakat Indonesia