Jakarta | Fadhilah Mathar menyatakan tidak lagi menjabat sebagai direktur utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital. Informasi tersebut disampaikan kepada publik melalui unggahan di akun Instagram resmi BAKTI. Dalam pesan perpisahan yang menyertai pengumuman itu, Fadhilah membuka dengan ungkapan “waktunya regenerasi”, yang menandai berakhirnya masa kepemimpinannya di lembaga tersebut.
Unggahan itu menjadi sumber informasi mengenai perubahan posisi pimpinan BAKTI dan penyampaian langsung dari Fadhilah tentang berakhirnya masa tugasnya. Pesan perpisahan tersebut juga memberi ruang bagi publik untuk mengetahui kabar itu melalui kanal resmi lembaga, bukan semata-mata dari kabar yang beredar. Dengan demikian, inti pengumuman yang disampaikan adalah bahwa Fadhilah tidak lagi memegang jabatan direktur utama.
Ungkapan “waktunya regenerasi” menjadi bagian yang menonjol dalam pesan tersebut. Namun, tanpa keterangan langsung yang lebih terperinci, frasa itu tidak dapat diperlakukan sebagai penjelasan lengkap mengenai proses maupun alasan perubahan jabatan. Pengumuman publik itu menyampaikan perpisahan dan menyatakan bahwa kepemimpinan Fadhilah telah berakhir, tetapi tidak semestinya ditafsirkan lebih jauh daripada informasi yang benar-benar disampaikan.
BAKTI merupakan badan di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Digital yang berkaitan dengan aksesibilitas telekomunikasi dan informasi. Karena itu, kabar mengenai pergantian pada posisi direktur utama menarik perhatian terhadap kesinambungan kepemimpinan lembaga tersebut. Meski demikian, pengumuman perpisahan Fadhilah tidak dengan sendirinya memberikan rincian tentang siapa yang akan menggantikan posisinya atau bagaimana tahapan berikutnya berlangsung. Informasi mengenai hal-hal tersebut perlu merujuk pada keterangan resmi yang disampaikan kemudian oleh pihak terkait.
Untuk saat ini, pokok informasi yang dapat dipastikan dari unggahan BAKTI adalah pernyataan Fadhilah bahwa ia tidak lagi menjabat sebagai direktur utama, disertai pesan singkat tentang regenerasi. Pembaca dapat membedakan fakta pengumuman itu dari dugaan mengenai latar belakangnya, sehingga kabar yang beredar tetap berpegang pada keterangan yang telah disampaikan kepada publik.
Fadhilah Mathar menyebut 28 Oktober 2026 sebagai hari yang berbeda dalam perjalanan pengabdiannya di BLU BAKTI Komdigi. Pada tanggal tersebut, untuk pertama kalinya ia tidak lagi masuk kantor lembaga itu. Pernyataan tersebut menandai berakhirnya masa tugasnya di BAKTI setelah sepuluh tahun mengabdi. Ia menyampaikan momen itu bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang jatuh setiap 28 Oktober. Karena itu, tanggal tersebut menjadi penanda waktu yang ia pilih untuk mengenang pengabdian sekaligus menyatakan bahwa dirinya telah mundur dari pimpinan lembaga.
Dalam keterangannya, Fadhilah menegaskan bahwa pengabdiannya di BAKTI telah berlangsung selama satu dekade. Ia juga menyatakan mundur untuk memberi jalan kepada generasi yang lebih baik. Pernyataan itu menyampaikan dua hal secara langsung: masa pengabdiannya telah selesai, dan ia memilih membuka ruang bagi penerus. Tidak ada alasan lain yang perlu ditambahkan untuk menjelaskan keputusannya. Makna yang disampaikan tetap berpusat pada akhir masa tugas setelah sepuluh tahun serta harapan agar generasi berikutnya memperoleh kesempatan untuk melanjutkan peran kepemimpinan di lembaga tersebut.
Dengan menyebut hari pertama ketika dirinya tidak lagi masuk kantor, Fadhilah menggambarkan pergantian itu melalui sebuah tanggal yang jelas, bukan sekadar menyatakan bahwa masa tugasnya berakhir. Keterkaitan dengan Sumpah Pemuda juga menjadi bagian dari pernyataannya tentang 28 Oktober 2026, tanpa mengubah inti pesan mengenai pengunduran diri. Setelah sepuluh tahun berada di BAKTI, ia menyatakan telah memberi jalan kepada generasi yang lebih baik. Dengan demikian, hari tersebut menandai penutup pengabdiannya di lembaga itu dan menjadi titik peralihan tanggung jawab, sebagaimana tersirat dalam pernyataannya sendiri. Uraian ini mempertahankan informasi yang ia sampaikan: tanggal, pengalaman pertama tidak masuk kantor, peringatan Sumpah Pemuda, durasi pengabdian, dan niat memberi ruang bagi generasi penerus. Tidak ada rincian tambahan mengenai latar keputusan maupun proses setelah pengunduran diri itu.
Dalam pesannya kepada para pegawai BAKTI, Fadhilah menyapa mereka dengan sebutan “Jong BAKTI”. Sapaan itu mengiringi ajakan untuk terus menjalankan misi konektivitas dan keterhubungan digital bagi masyarakat di berbagai wilayah. Ia menekankan bahwa upaya tersebut perlu tetap diperjuangkan, termasuk untuk warga yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Pesan itu menempatkan kerja pegawai BAKTI sebagai bagian dari usaha menghadirkan akses digital di tengah kebutuhan masyarakat yang tersebar di banyak daerah.
Fadhilah juga mendorong para pegawai agar menjaga kekuatan diri dalam menjalankan tugas. Menurut pesan yang disampaikannya, mereka perlu tetap kuat untuk menopang harapan masyarakat terhadap konektivitas. Dorongan tersebut menghubungkan keteguhan pegawai dengan harapan warga yang membutuhkan keterhubungan digital. Karena itu, perjuangan memperluas konektivitas tidak hanya dipandang sebagai pelaksanaan pekerjaan, tetapi juga sebagai upaya yang berkaitan dengan harapan masyarakat atas akses ke ruang digital.
Dalam gambaran yang disampaikan Fadhilah, akses digital dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk memperoleh kehidupan yang berbeda. Pesan ini menyoroti kemungkinan yang terbuka ketika warga dapat terhubung, tanpa menguraikan lebih jauh bentuk perubahan yang dimaksud. Bagi pegawai BAKTI, ajakan “Jong BAKTI” menjadi pengingat untuk terus memperjuangkan keterhubungan bagi masyarakat di berbagai wilayah, termasuk kawasan 3T, sambil menjaga kekuatan diri agar dapat menopang harapan tersebut. Dengan demikian, pesan Fadhilah berpusat pada kesinambungan misi konektivitas, dukungan bagi pegawai dalam menjalankan perannya, serta arti akses digital sebagai sarana yang dapat membuka kemungkinan kehidupan berbeda bagi masyarakat. Dorongan itu tetap berpijak pada tujuan menghadirkan keterhubungan digital, dan pada kepercayaan bahwa akses tersebut penting bagi warga yang membutuhkan konektivitas di wilayahnya.
Dalam pesannya kepada para pegawai, Fadhilah Mathar mengingatkan bahwa anggaran negara bukan sekadar angka dalam dokumen atau pos belanja yang harus diserap. APBN, menurutnya, menyimpan doa dan cita-cita masyarakat yang menantikan layanan publik, termasuk akses komunikasi yang lebih merata. Karena itu, setiap rupiah yang dipercayakan kepada BAKTI perlu dipandang sebagai amanah yang berkaitan langsung dengan kebutuhan warga. Cara pandang tersebut menuntut kehati-hatian sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan program, sekaligus kesadaran bahwa keputusan pengelolaan anggaran membawa konsekuensi bagi masyarakat yang dilayani.
Fadhilah juga menekankan pentingnya menjalankan tugas dengan integritas dan transparansi. Pengelolaan dana publik harus dapat dipertanggungjawabkan, dilakukan secara terbuka, serta berorientasi pada hasil yang benar-benar dirasakan penerima manfaat. Prinsip-prinsip itu bukan hanya kewajiban administratif, melainkan dasar untuk menjaga kepercayaan publik dan memastikan program berjalan sesuai tujuan. Ia mengajak pegawai terus memelihara komitmen tersebut dalam pekerjaan sehari-hari, terutama ketika menghadapi tantangan operasional dan tuntutan untuk memperluas konektivitas. Bagi lembaga yang mengemban mandat pelayanan, ketelitian dan keterbukaan menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Di sisi lain, ia menyampaikan harapan agar otoritas terkait tetap menjaga dan mendampingi BAKTI. Dukungan yang berkelanjutan diperlukan agar lembaga dapat menjalankan mandatnya, memperkuat tata kelola, dan menghadapi berbagai tantangan dengan baik. Kepada para pegawai yang mulai merasa lelah, Fadhilah tidak meminta mereka mengabaikan keletihan. Ia mengimbau agar mereka menepi sejenak, mengambil waktu untuk memulihkan diri, lalu mengingat kembali alasan pekerjaan itu dilakukan: senyum masyarakat ketika internet akhirnya tersambung. Pengingat tersebut menjadi ajakan untuk melihat dampak nyata dari kerja mereka, tanpa melupakan bahwa pelayanan yang berkelanjutan juga memerlukan dukungan, ketekunan, dan perhatian terhadap kondisi para pelaksananya.






