Jakarta | Harga emas bergerak terbatas setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Keputusan tersebut memberi ruang bagi pelaku pasar untuk menilai kembali prospek kebijakan moneter Amerika Serikat dan arah pergerakan dolar. Pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, emas ditutup di US.067,04 per troy ons, naik 0,23% dibandingkan penutupan sebelumnya. Kenaikan itu sekaligus memperpanjang penguatan harga emas menjadi tiga hari berturut-turut.
Namun, momentum positif tersebut tidak bertahan hingga perdagangan berikutnya. Pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 06.51 WIB, harga emas turun 0,35% menjadi US$4.052,99 per troy ons. Perubahan ini menunjukkan bahwa pasar masih merespons keputusan bank sentral secara hati-hati, sementara pergerakan harga dalam jangka pendek tetap rentan terhadap perubahan ekspektasi investor.
Sesaat setelah pengumuman The Fed, harga emas cenderung relatif stagnan. Pelaku pasar tampak mencermati keputusan suku bunga dan pernyataan yang menyertainya sebelum mengambil posisi baru. Sikap menunggu tersebut membuat respons awal di pasar tidak terlalu kuat, meskipun keputusan mempertahankan suku bunga dapat memengaruhi daya tarik emas melalui perubahan prospek imbal hasil aset berbunga dan nilai dolar AS.
Pergerakan kemudian menguat ketika Ketua The Fed Kevin Warsh berbicara. Pernyataannya mendorong perubahan sentimen dan memicu kenaikan harga untuk sementara waktu. Akan tetapi, penguatan itu tidak berlangsung lama. Harga emas kembali terkoreksi, sehingga sebagian kenaikan setelah pernyataan tersebut terhapus dan perdagangan berakhir dengan tekanan pada Kamis pagi.
Rangkaian pergerakan ini memperlihatkan bahwa keputusan mempertahankan suku bunga tidak serta-merta menghasilkan arah yang jelas bagi emas. Pasar juga menimbang nada komunikasi pejabat bank sentral, kemungkinan perubahan kebijakan berikutnya, serta kondisi mata uang dan imbal hasil. Dengan demikian, kenaikan tiga hari sebelumnya belum sepenuhnya menandakan tren yang lebih kuat. Investor tetap perlu memperhatikan perkembangan pernyataan The Fed dan respons pasar, karena keduanya dapat memengaruhi permintaan terhadap logam mulia dalam waktu dekat.
The Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,75%–4,00%, sehingga belum memberi dorongan baru bagi emas untuk bergerak lebih tinggi. Bank sentral memilih menunggu lebih banyak data inflasi sebelum mengubah biaya pinjaman. Keputusan ini juga menunda perubahan kebijakan hingga setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada pekan berikutnya. Bagi pelaku pasar, kombinasi sikap menunggu dan ketidakpastian arah kebijakan membuat pergerakan logam mulia cenderung terbatas, alih-alih memicu perubahan harga yang tajam.
Dalam penilaiannya, The Fed menyebut kondisi ekonomi Amerika Serikat membaik, tetapi inflasi masih berada pada tingkat yang tinggi. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa bank sentral belum menganggap tekanan harga mereda secara memadai. Warsh juga menyampaikan bahwa The Fed siap mengambil tindakan, tanpa memberikan kepastian bahwa pemangkasan atau kenaikan suku bunga akan segera dilakukan. Karena itu, investor tetap mencermati data ekonomi berikutnya untuk memperkirakan langkah bank sentral dan menilai dampaknya terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil, termasuk emas.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 4,11 basis poin menjadi 5,034%. Kenaikan imbal hasil dapat meningkatkan daya tarik aset berbunga dan menambah tekanan terhadap harga emas. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember menurut CME FedWatch Tool turun tipis, dari 88% sebelum pengumuman menjadi 86%. Perubahan kecil ini menunjukkan bahwa keputusan The Fed belum menghapus ekspektasi pengetatan, meskipun pasar juga belum memperoleh sinyal tegas mengenai arah kebijakan selanjutnya.
Pedagang logam independen Tai Wong menilai imbal hasil obligasi jangka panjang meningkat karena pasar belum puas dengan penjelasan Warsh. Menurutnya, suku bunga yang lebih tinggi tetap menjadi faktor penekan bagi emas, sebab investor memiliki alternatif dengan potensi imbal hasil. Namun, Wong memperkirakan aksi jual besar-besaran kemungkinan tidak terjadi. Dengan demikian, risiko penurunan ekstrem dinilai terbatas, tetapi ruang bagi harga emas untuk melanjutkan kenaikan juga berpotensi sempit. Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data inflasi dan perkembangan setelah pemilihan, yang dapat memperjelas prospek suku bunga serta menentukan apakah emas mampu memperoleh katalis baru.
Kenaikan harga minyak kembali menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi prospek inflasi dan keputusan bank sentral. Kontrak berjangka Brent naik lebih dari 1% setelah serangan terhadap sebuah kilang minyak di Arab Saudi memunculkan kekhawatiran baru mengenai gangguan pasokan. Perkembangan tersebut terjadi di tengah konflik Timur Tengah yang masih berisiko menghambat produksi maupun distribusi energi. Jika pasokan terganggu dalam waktu lama, harga minyak dapat bertahan tinggi dan menambah beban biaya bagi rumah tangga serta dunia usaha.
Energi merupakan komponen penting dalam berbagai kegiatan ekonomi, sehingga kenaikan harga minyak berpotensi merambat ke harga transportasi, produksi, dan barang konsumsi. Tekanan biaya yang lebih besar dapat memperlambat penurunan inflasi, bahkan memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga akan bertahan lebih lama dari perkiraan. Bagi bank sentral, kondisi ini dapat menjadi alasan untuk berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan. Apabila inflasi kembali sulit dikendalikan, para pembuat kebijakan mungkin memilih mempertahankan suku bunga pada tingkat tinggi lebih lama, meski keputusan akhirnya tetap bergantung pada rangkaian data ekonomi.
Prospek suku bunga tersebut turut memengaruhi daya tarik emas. Berbeda dari aset yang menghasilkan bunga, emas tidak memberikan imbal hasil rutin kepada pemegangnya. Karena itu, ketika suku bunga tinggi dipertahankan, investor dapat melihat instrumen berbunga sebagai pilihan yang lebih menarik, sementara biaya peluang untuk memegang logam mulia meningkat. Kombinasi kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter yang ketat pun dapat membatasi pergerakan harga emas, meskipun ketidakpastian geopolitik berpotensi menopang permintaan terhadap aset lindung nilai. Investor kini menantikan data personal consumption expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada Kamis. Indikator tersebut menjadi salah satu ukuran inflasi yang diperhatikan The Fed dan dapat memberi petunjuk mengenai tekanan harga serta arah kebijakan moneter berikutnya. Hasil yang lebih tinggi dari perkiraan bisa memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, sedangkan perlambatan inflasi dapat membuka ruang bagi penyesuaian kebijakan. Hingga data tersebut tersedia, perkembangan harga minyak dan risiko pasokan akan tetap menjadi faktor penting yang dicermati pasar emas.Permintaan emas di Asia menunjukkan penguatan, dengan China menjadi salah satu pendorong penting pada September. Impor bersih emas China melalui Hong Kong meningkat lebih dari 28% dibandingkan Agustus dan mencapai tingkat tertinggi dalam lima bulan. Perubahan ini mencerminkan peningkatan arus logam mulia ke pasar domestik setelah aktivitas impor sempat lebih terbatas pada bulan sebelumnya. Data melalui Hong Kong menjadi salah satu indikator yang dipantau pelaku pasar untuk menilai perkembangan permintaan emas China.
Kenaikan impor tersebut lain didorong oleh pengisian kembali persediaan menjelang libur Golden Week. Periode libur panjang biasanya mendorong persiapan stok oleh pelaku usaha untuk memenuhi kebutuhan konsumen, termasuk pembelian perhiasan dan produk emas lainnya. Selain itu, permintaan investor turut memberikan dukungan. Ketidakpastian ekonomi dan pergerakan pasar keuangan dapat mendorong sebagian investor mempertimbangkan emas sebagai aset lindung nilai maupun bagian dari diversifikasi portofolio.
Meski demikian, data impor bulanan perlu dibaca bersama faktor lain, seperti harga emas, nilai tukar, kondisi ekonomi, serta pola pembelian musiman.
Baca juga: Proyeksi Kenaikan Suku Bunga Acuan The Fed pada Akhir Tahun






