Kabupaten Badung | Tim gabungan masih melakukan pencarian terhadap dua laki-laki yang diduga tertimbun longsor di Eco Park Pelaga Glamping Retreat, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Pencarian berlangsung pada Senin, 2 November, setelah longsor beruntun terjadi di kawasan tersebut. Hingga informasi ini disampaikan, kedua penghuni itu masih dicari. Belum ada keterangan yang memastikan mereka telah ditemukan ataupun menjelaskan kondisi masing-masing.
Kasi Humas Polres Badung, Ipda Ni Nyoman Yuni Eltari, menyampaikan bahwa dua laki-laki tersebut merupakan penghuni room 6 di tempat glamping itu. Informasi mengenai kamar tersebut menjadi salah satu keterangan yang disampaikan terkait orang-orang yang diduga terdampak longsor. Identitas kedua penghuni belum disebutkan dalam keterangan yang tersedia, sehingga mereka disebut sebagai dua laki-laki penghuni room 6.
Upaya pencarian masih menjadi fokus tim gabungan di lokasi kejadian. Dugaan bahwa keduanya tertimbun berkaitan dengan longsor beruntun yang terjadi di area Eco Park Pelaga Glamping Retreat. Namun, dugaan tersebut belum dapat diperlakukan sebagai kepastian mengenai keberadaan maupun keadaan mereka. Pihak berwenang masih berupaya mencari kedua penghuni, sementara informasi yang telah disampaikan sejauh ini terbatas pada lokasi kejadian, waktu pencarian, dan keterangan bahwa mereka menempati room 6.
Perkembangan mengenai pencarian perlu mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang. Sampai Senin, 2 November, keterangan yang tersedia menyebut tim gabungan masih mencari dua laki-laki tersebut di kawasan glamping, yang berada di Desa Pelaga, Kecamatan Petang. Tidak ada pernyataan dalam informasi tersebut bahwa keduanya telah ditemukan. Karena itu, status mereka tetap diberitakan sebagai penghuni yang diduga tertimbun dan masih dalam pencarian, tanpa menyimpulkan hasil sebelum ada kepastian resmi.
Dalam peristiwa longsor beruntun yang merusak kawasan glamping di Kecamatan Petang, Badung, dua penghuni dilaporkan masih dicari. Salah satu orang yang belum ditemukan telah diidentifikasi sebagai Bangkit Mubarok, warga negara Indonesia berusia 30 tahun. Sementara itu, identitas penghuni kedua yang dicari belum dapat dipastikan. Ia diketahui merupakan warga negara asing, tetapi informasi mengenai nama maupun kewarganegaraannya belum tersedia secara terverifikasi.
Rangkaian kejadian berlangsung pada Minggu malam, 1 November. Longsor pertama terjadi sekitar pukul 23.00 WITA, atau sekitar pukul 22.00 WIB. Selang kurang lebih 20 menit, sekitar pukul 23.20 WITA, longsor susulan kembali terjadi. Jeda waktu yang singkat tersebut membuat kondisi di lokasi berubah dengan cepat dan berdampak langsung pada sejumlah bangunan glamping.
Longsor susulan merobohkan beberapa bangunan di kawasan penginapan. Material tanah yang bergerak kemudian membawa bangunan-bangunan tersebut ke arah sungai, mengikuti arus yang melintas di sekitar lokasi. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menyulitkan upaya pencarian, sebab bangunan dan material longsoran tidak lagi berada di titik semula. Namun, rincian mengenai posisi terakhir kedua penghuni belum dapat dipastikan dari informasi yang tersedia.
Hujan berintensitas tinggi disebut menjadi pemicu tanah bergerak. Hujan telah turun sejak sekitar pukul 15.00 WITA di Kecamatan Petang, beberapa jam sebelum longsor pertama terjadi. Curah hujan yang terus berlangsung diduga membuat kondisi tanah semakin rentan, hingga akhirnya terjadi longsoran berulang pada malam hari. Urutan kejadian tersebut menunjukkan bahwa hujan lebat mendahului dua longsor yang menghantam kawasan glamping.
Hingga identitas korban kedua dapat dikonfirmasi, informasi mengenai para penghuni yang dicari masih terbatas pada keterangan tersebut. Perbedaan waktu WITA dan WIB penting diperhatikan dalam memahami kronologi: kejadian pertama berlangsung sekitar pukul 23.00 waktu setempat, setara pukul 22.00 WIB, sedangkan longsor susulan terjadi sekitar pukul 23.20 WITA. Kedua peristiwa itu terjadi pada malam yang sama, setelah hujan deras mengguyur wilayah Petang sejak sore.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar menerima laporan mengenai longsor yang menimbun area glamping di Kabupaten Badung pada Senin pagi, pukul 06.10 WITA. Laporan tersebut menjadi dasar dimulainya koordinasi pencarian terhadap dua pengunjung yang diduga masih berada di lokasi saat tebing longsor. Informasi awal disampaikan oleh pihak pengelola tempat menginap, yang mengetahui adanya kejadian setelah material tanah menutup bangunan glamping.
Kepala Kantor SAR Denpasar, I Nyoman Sidakarya, menyatakan bahwa pemilik glamping mencurigai dua pengunjung belum keluar dari bangunan ketika longsor terjadi. Kecurigaan itu muncul karena kedua orang tersebut diduga masih berada di dalam tempat menginap saat tebing di sekitar lokasi runtuh dan menimbun bangunan. Kondisi tersebut mendorong pengelola untuk melakukan pencarian awal sekaligus memastikan apakah ada penghuni yang berhasil menyelamatkan diri.
Sebelum meminta bantuan tim SAR, pengelola bersama BPBD Kabupaten Badung, camat Petang, dan personel Polsek Petang telah lebih dahulu melakukan upaya pencarian di lokasi. Namun, proses pemeriksaan berlangsung dalam kondisi yang tidak aman. Hujan lebat masih mengguyur kawasan, sementara akses menuju titik longsor memiliki medan curam. Situasi itu meningkatkan risiko bagi petugas maupun pihak lain yang berusaha mendekati bangunan tertimbun.
Atas pertimbangan keselamatan, pencarian awal kemudian dihentikan sementara. Penghentian tersebut dilakukan untuk menghindari potensi bahaya tambahan, terutama apabila hujan memicu pergerakan tanah susulan atau menyulitkan petugas melintasi jalur menuju area glamping. Meski pencarian belum dapat dilanjutkan saat itu, pihak-pihak yang telah berada di lokasi tetap berkoordinasi mengenai kondisi medan dan dugaan keberadaan dua pengunjung.
Setelah upaya awal terhambat oleh cuaca dan akses, pengelola melaporkan kejadian itu kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar. Laporan tersebut sekaligus menjadi permintaan bantuan SAR untuk menangani pencarian secara lebih terkoordinasi. Dengan diterimanya informasi pada pukul 06.10 WITA, Kantor SAR dapat menindaklanjuti dugaan adanya korban yang tertimbun dan menyiapkan langkah pencarian sesuai kondisi lapangan. Keberadaan dua pengunjung itu masih menjadi perhatian utama dalam penanganan kejadian, sementara keselamatan personel serta perubahan cuaca perlu dipertimbangkan sebelum pencarian diteruskan.Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar mengerahkan satu tim rescue yang terdiri atas sembilan personel untuk mendukung pencarian dua penghuni glamping yang dilaporkan hilang setelah longsor beruntun di Badung. Tim tersebut bergabung dalam operasi SAR gabungan bersama unsur dari berbagai instansi dan masyarakat setempat. Secara keseluruhan, operasi melibatkan 123 personel, dengan pembagian tugas menyesuaikan kondisi lokasi serta kebutuhan pencarian dan evakuasi. Keterlibatan warga membantu upaya di lapangan, sementara koordinasi antarpihak diperlukan agar setiap langkah dapat dilakukan secara terarah. Personel tidak hanya menghadapi tantangan dalam menyisir area, tetapi juga perlu memastikan pergerakan tim dan penggunaan peralatan berlangsung dengan mempertimbangkan keselamatan.
Lokasi kejadian berada di kawasan perbukitan dan berdekatan dengan aliran sungai. Karakter medan yang berat membuat akses menuju area pencarian tidak mudah dilalui, sementara sebagian jalan tertutup material longsor. Kondisi ini membatasi mobilisasi personel dan peralatan evakuasi, sehingga pergerakan menuju titik-titik yang perlu diperiksa harus ditangani secara khusus. Tim perlu menyesuaikan jalur dan cara membawa perlengkapan dengan keadaan akses yang tersedia. Hambatan tersebut menjadi pertimbangan dalam pengaturan operasi, termasuk saat menentukan bagaimana personel dapat mencapai lokasi secara aman. Kedekatan dengan sungai juga menambah perhatian terhadap perubahan keadaan di sekitar area pencarian selama kegiatan berlangsung.
Cuaca dan situasi lapangan turut memengaruhi pola pencarian sekaligus tingkat keamanan operasi. Karena kondisi dapat berubah, pengaturan kegiatan harus terus memperhatikan keadaan medan, akses, serta perkembangan di sekitar lokasi.
