Jakarta | Menteri Perdagangan RI Budi Santoso memaparkan strategi untuk memperkuat perdagangan dalam negeri agar produk dan pelaku usaha Indonesia semakin mampu menjadi tuan rumah di pasar sendiri. Upaya ini menempatkan pasar domestik bukan sekadar tujuan akhir penjualan, melainkan ruang penting bagi produk lokal untuk tumbuh, dikenal, dan memperkuat posisinya di tengah persaingan. Ketika konsumen memiliki akses terhadap beragam produk buatan Indonesia, pelaku usaha memperoleh kesempatan untuk mengembangkan usaha sekaligus memahami kebutuhan pasar secara lebih dekat.
Penguatan pasar domestik juga berjalan berdampingan dengan upaya memperluas peluang ke tingkat global. Pasar internasional dapat menjadi pendorong bagi peningkatan kapasitas produksi, karena pelaku usaha perlu menyiapkan produk dalam skala dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan konsumen yang lebih luas. Dengan demikian, strategi perdagangan tidak hanya diarahkan untuk memperbesar jangkauan pemasaran, tetapi juga mendorong kesiapan industri dalam negeri agar mampu merespons peluang dan persaingan lintas negara. Produk Indonesia diharapkan dapat berkembang di rumah sendiri sekaligus memiliki daya saing di pasar global.
Dalam kerangka tersebut, hilirisasi produksi menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah industri dalam negeri. Pengolahan lebih lanjut atas hasil produksi dapat memperkuat posisi industri, sehingga manfaat ekonomi tidak berhenti pada tahap awal rantai produksi. Penguatan ini juga mendukung kemampuan pelaku usaha untuk menawarkan produk yang bernilai lebih tinggi serta memperluas kontribusinya terhadap perekonomian. Arah kebijakan tersebut mencerminkan pentingnya keterhubungan pasar, kapasitas produksi, dan pengembangan industri.
Paparan Budi Santoso disampaikan dalam konteks penghargaan Awards 2026: Best Consumer. Penghargaan ini disebut sebagai bentuk apresiasi bagi sektor usaha dan industri konsumer yang menunjukkan kinerja positif serta berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi Indonesia. Penghargaan tersebut sekaligus menyoroti peran dunia usaha dalam memperkuat kegiatan ekonomi. Dengan mendorong produk lokal di pasar domestik, membuka peluang peningkatan kapasitas melalui pasar global, dan memperkuat hilirisasi, perdagangan dalam negeri diharapkan menjadi fondasi bagi industri konsumer yang lebih bernilai tambah dan kompetitif.
Melalui program Campuspreneur, Kementerian Perdagangan mendorong mahasiswa dan perguruan tinggi untuk mengembangkan kemampuan berwirausaha sekaligus menyiapkan produk lokal agar dapat menjangkau pasar ekspor. Program ini menempatkan kampus sebagai salah satu ruang untuk membina talenta muda, dari tahap mengenali potensi usaha hingga memahami kebutuhan dalam menjalankan kegiatan perdagangan lintas negara. Dengan pembinaan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki gagasan bisnis, tetapi juga mampu mengembangkan usaha yang berorientasi pada pasar internasional. Campuspreneur telah dijalankan di lebih dari 25 perguruan tinggi, sehingga jangkauan pembinaan melibatkan berbagai lingkungan akademik di Indonesia.
Materi program mencakup tahapan usaha dari hulu hingga hilir. Peserta memperoleh pelatihan mengenai proses produksi, desain produk, dan pengemasan, serta pendampingan untuk membuka peluang pasar dan menemukan pembeli di luar negeri. Cakupan ini membantu mahasiswa memahami bahwa kesiapan ekspor tidak berhenti pada pembuatan barang atau jasa. Pelaku usaha juga perlu mengembangkan tampilan produk, menyiapkan kemasan, dan mengenali cara menjangkau calon pembeli. Dengan bekal tersebut, perguruan tinggi dan mahasiswa dapat menghubungkan pengetahuan yang diperoleh melalui pembinaan dengan upaya membangun usaha yang berpeluang memasuki pasar ekspor.
Capaian program turut terlihat pada Trade Expo Indonesia ke-41 tahun 2026. Dalam ajang tersebut, Kemendag menyediakan booth khusus bagi 20 kampus dan mencatat transaksi sebesar USD 24,5 juta. Produk yang disebut dalam capaian ini mencakup charcoal dan jasa animasi. Kehadiran kampus di pameran perdagangan memberi ruang untuk memperkenalkan produk serta jasa kepada pasar, sementara pencatatan transaksi menunjukkan hasil yang diperoleh dalam kegiatan tersebut. Informasi mengenai booth, jumlah kampus, nilai transaksi, dan jenis produk memberikan gambaran tentang keterlibatan peserta Campuspreneur dalam ajang perdagangan. Melalui kesinambungan pembinaan, pelatihan, dan kesempatan mengikuti pameran, program ini menjadi salah satu upaya Kemendag menyiapkan mahasiswa serta perguruan tinggi untuk berperan dalam kegiatan ekspor.Pembinaan terhadap 2.600 desa menjadi bagian dari upaya Kemendag mengembangkan produk lokal agar memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas. Program ini tidak berhenti pada pengenalan potensi usaha, tetapi mencakup pendampingan yang membantu pelaku usaha meningkatkan kesiapan produknya. Dengan dukungan tersebut, proses produksi, mutu, dan tampilan kemasan dapat diperhatikan sebagai unsur yang saling berkaitan. Produk yang konsisten dan layak dipasarkan lebih berpeluang memenuhi kebutuhan calon pembeli, termasuk pembeli dari luar negeri. Karena itu, pengembangan kapasitas usaha di tingkat desa menjadi langkah penting untuk menghubungkan potensi lokal dengan kesempatan pasar yang lebih besar.
Pendampingan dimulai dengan membantu proses produksi, sehingga pelaku usaha dapat mengembangkan produk secara lebih terarah. Kemudian, perhatian diberikan pada penjagaan mutu. Konsistensi kualitas penting agar produk dapat diterima dan dipercaya oleh calon pembeli. Kemasan juga menjadi bagian yang diperbaiki karena berpengaruh pada perlindungan, penyajian, dan daya tarik produk saat dipasarkan. Tahapan ini mendorong pelaku usaha untuk tidak hanya menghasilkan barang, tetapi juga menyiapkannya agar memenuhi standar dan kebutuhan pasar. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi produk lokal untuk berkembang melalui perbaikan yang sesuai dengan kondisi usaha, tanpa mengabaikan karakter dan potensi yang dimiliki masing-masing desa.
Setelah kesiapan produk diperkuat, Kemendag memfasilitasi business matching untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli luar negeri. Pertemuan ini membuka kesempatan bagi kedua pihak untuk mengenal produk, membahas kebutuhan pasar, dan menjajaki peluang kerja sama. Fasilitasi tersebut menjadi penghubung pembinaan di tingkat produksi dan akses ke pasar ekspor. Dengan demikian, dukungan untuk 2.600 desa mencakup rangkaian yang lebih luas: membantu proses produksi, menjaga mutu, memperbaiki kemasan, lalu mempertemukan usaha dengan calon pembeli. Rangkaian ini ditujukan untuk mengembangkan produk lokal sekaligus memperluas akses ekspor. Peluang tersebut tetap bergantung pada kesesuaian produk dan kebutuhan pembeli, sehingga pendampingan dan komunikasi pasar menjadi bagian penting dari kesiapan usaha.
Menjelang akhir 2026, Kementerian Perdagangan menyiapkan langkah untuk mendorong belanja masyarakat sekaligus memperkuat pasar domestik. Salah satu upaya yang disorot ialah pemanfaatan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), yang dapat menjadi ruang bagi konsumen untuk berbelanja dan bagi pelaku usaha untuk menjangkau pasar lebih luas. Di samping kanal daring, pemerintah juga mendorong program belanja diskon di ritel modern. Cakupannya disebut membentang dari minimarket hingga department store, sehingga berbagai format usaha ritel dapat terlibat dalam upaya menggerakkan aktivitas belanja pada penghujung tahun.
Rencana tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam wawancara di Awards 2026: Best Consumer pada Kamis, 29 Oktober 2026. Paparan itu menempatkan Harbolnas dan program diskon ritel sebagai bagian dari pendekatan untuk menjaga perputaran belanja di dalam negeri. Dengan memanfaatkan kanal digital dan jaringan toko modern, upaya pemerintah diarahkan untuk menghubungkan konsumen dengan beragam produk yang tersedia di pasar. Namun, fokusnya bukan hanya pada kegiatan belanja sebagai agenda tersendiri. Langkah ini juga terkait dengan upaya yang lebih luas untuk memperkuat pasar dalam negeri dan memberi ruang bagi industri lokal agar terus berkembang.
Penguatan pasar domestik menjadi penting karena produk lokal memerlukan permintaan yang dapat menopang kegiatan usaha dan kapasitas produksi. Harbolnas maupun promosi di ritel modern dapat menjadi bagian dari ekosistem perdagangan yang mempertemukan produk dengan pembeli, tanpa mengesampingkan tujuan untuk memajukan industri lokal.
Baca juga: Strategi Mitigasi Kebakaran di Jakarta Barat yang Meningkat
