Rupiah Tertekan Mendekati Rekor Terlemah, Ini Faktor Global dan Domestik di Baliknya

Jakarta | Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026. Mata uang Garuda ditutup di level Rp18.145 per dolar AS, turun 0,19% dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya, yakni Rp18.110 per dolar AS. Pergerakan ini memperpanjang tekanan terhadap rupiah dan membawa kurs semakin dekat ke rekor penutupan terlemah sepanjang masa. Penurunan harian tersebut juga menandai bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada awal sesi, tetapi berlanjut hingga pasar mengakhiri perdagangan.

Tekanan sudah terlihat sejak pembukaan. Rupiah dibuka di zona merah pada Rp18.120 per dolar AS, melemah 0,06% dari penutupan sebelumnya. Sepanjang sesi, pergerakan kurs berada dalam rentang Rp18.120 hingga Rp18.155 per dolar AS. Rentang tersebut menunjukkan bahwa rupiah sempat bergerak lebih lemah sebelum sedikit pulih menjelang penutupan. Meski demikian, penguatan dari titik terendah intrahari belum cukup untuk membawa mata uang domestik kembali ke posisi penutupan hari sebelumnya.

Rupiah akhirnya menutup perdagangan 10 poin lebih kuat dibandingkan titik terlemahnya pada hari itu, yaitu Rp18.155 per dolar AS. Namun, posisi akhir Rp18.145 masih berada pada level yang sangat dekat dengan rekor penutupan terlemah sepanjang masa. Rekor tersebut tercatat pada 8 Juni 2026, ketika rupiah ditutup di Rp18.170 per dolar AS. Dengan demikian, jarak penutupan pada 27 Oktober dan rekor itu hanya 25 poin. Kedekatan ini menegaskan terbatasnya ruang pemulihan pada sesi tersebut, meskipun rupiah sempat menjauh sedikit dari level terendah intrahari. Angka penutupan menjadi perhatian karena mencerminkan tekanan yang bertahan sampai akhir perdagangan, sekaligus menempatkan kurs hanya sedikit di atas titik terlemah yang pernah tercatat pada basis penutupan.

Tekanan eksternal terhadap rupiah salah satunya datang dari penguatan indeks dolar AS atau DXY. Indeks ini mengukur nilai dolar terhadap enam mata uang utama, sehingga pergerakannya kerap menjadi gambaran luas mengenai permintaan terhadap mata uang Amerika Serikat. Pada pukul 15.00 WIB, DXY tercatat naik 0,16% ke level 102,122. Kenaikan tersebut kembali membatasi ruang gerak rupiah, sebab dolar yang lebih kuat dapat mendorong investor memilih aset berdenominasi dolar dan mengurangi minat terhadap mata uang negara berkembang.

Dukungan bagi dolar juga dikaitkan dengan pelemahan euro, salah satu komponen utama dalam keranjang DXY. Di tengah perkembangan itu, pelaku pasar cenderung menahan diri sambil menunggu keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS tersebut diperkirakan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan dua hari yang berakhir pada Rabu waktu AS, atau Kamis dini hari WIB. Namun, perkiraan tidak berubahnya suku bunga dalam keputusan terdekat belum menghapus ketidakpastian mengenai arah kebijakan berikutnya.

Pasar masih memperhitungkan kemungkinan pengetatan lanjutan sebelum akhir tahun. Data CME FedWatch pada Senin menunjukkan peluang setidaknya satu kenaikan suku bunga hingga Desember berada di sekitar 73%. Ekspektasi tersebut dapat menjaga daya tarik aset berdenominasi dolar, karena suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menawarkan imbal hasil relatif lebih menarik bagi investor. Akibatnya, meskipun The Fed diperkirakan mengambil jeda pada pertemuan ini, prospek kenaikan berikutnya tetap menjadi pertimbangan penting bagi pasar valuta asing. Kombinasi penguatan DXY, pelemahan euro, dan sikap menunggu investor membuat tekanan global terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda.

Pelaku pasar akan mencermati sejumlah rilis ekonomi Amerika Serikat dalam beberapa hari mendatang untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai kondisi perekonomian negara tersebut. Pada Selasa, perhatian tertuju pada data pesanan barang tahan lama dan indeks kepercayaan konsumen. Kedua indikator itu menjadi bagian dari rangkaian informasi yang membantu investor menilai aktivitas ekonomi serta pandangan rumah tangga terhadap keadaan ekonomi. Namun, setiap data perlu dibaca dalam konteks keseluruhan, bukan sebagai penentu tunggal arah kebijakan.

Agenda berikutnya dijadwalkan pada Kamis, ketika data pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III dan inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) untuk September akan diterbitkan. Data pertumbuhan memberi petunjuk mengenai laju kegiatan ekonomi, sedangkan angka PCE memberikan informasi tentang perkembangan tekanan harga. Perhatian pasar terhadap kedua rilis tersebut mencerminkan kebutuhan untuk memahami apakah perekonomian tetap kuat dan bagaimana kondisi inflasi berkembang. Informasi ini menjadi bagian dari bahan penilaian investor terhadap prospek kebijakan moneter.

Rangkaian indikator tersebut dapat membantu pasar memperkirakan arah suku bunga berikutnya, meskipun data yang keluar tetap perlu dipertimbangkan bersama perkembangan ekonomi lainnya. Karena itu, investor kemungkinan bersikap hati-hati menjelang keputusan Federal Reserve (The Fed). Sikap tersebut berkaitan dengan penantian terhadap informasi baru yang dapat memperjelas kondisi ekonomi dan inflasi AS sebelum bank sentral menetapkan langkah kebijakannya. Agenda data ini juga menjadi perhatian karena keputusan The Fed merupakan salah satu faktor yang diperhitungkan pelaku pasar dalam menilai perkembangan pasar keuangan dan mata uang. Hingga angka-angka tersebut dirilis, investor akan memantau jadwal publikasi serta mencermati isi laporan secara saksama. Dengan demikian, data pesanan barang tahan lama, kepercayaan konsumen, pertumbuhan kuartal III, dan PCE September menyediakan potongan informasi berbeda untuk membentuk penilaian pasar, tanpa dengan sendirinya memastikan keputusan suku bunga yang akan diambil.

Selain gejolak pasar internasional, kondisi eksternal domestik turut memengaruhi ketahanan rupiah. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa defisit transaksi berjalan membuat mata uang Indonesia lebih rentan ketika pasar global bergejolak. Kerentanan ini berkaitan dengan kebutuhan Indonesia terhadap pendanaan dari luar negeri untuk menutup selisih penerimaan dan pembayaran lintas negara. Keterangan tersebut disampaikan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026.

Destry menyebut defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2026 telah melampaui 3% dari produk domestik bruto (PDB). Data yang disampaikan menunjukkan defisit mencapai US$12,49 miliar, setara 3,34% dari PDB. Angka ini meningkat cukup tajam dibandingkan kuartal sebelumnya, ketika defisit tercatat US$3,58 miliar atau 0,97% dari PDB. Perubahan tersebut menandakan kebutuhan pembiayaan eksternal yang lebih besar dibandingkan periode sebelumnya.

Secara sederhana, transaksi berjalan mencakup penerimaan dan pembayaran atas perdagangan barang, jasa, serta pendapatan lintas negara. Defisit terjadi apabila penerimaan dari aktivitas tersebut belum mencukupi pembayaran Indonesia ke luar negeri. Selisihnya perlu dibiayai melalui sumber lain, lain investasi asing. Karena itu, keberadaan arus modal yang memadai penting untuk membantu memenuhi kebutuhan pendanaan dan valuta asing.

Risiko terhadap rupiah meningkat apabila aliran dana asing melemah atau berbalik keluar pada saat ketidakpastian global bertambah. Dalam keadaan demikian, pasokan pendanaan eksternal dapat menyusut, sementara kebutuhan pembayaran luar negeri tetap harus dipenuhi. Pelaku pasar dan perusahaan yang memerlukan valuta asing pun menghadapi kondisi yang lebih menantang. Tekanan pada permintaan valuta asing dapat ikut membebani nilai tukar, terutama ketika sentimen investor sedang berhati-hati. Dengan demikian, defisit transaksi berjalan yang membesar dapat mempersempit ruang bagi rupiah untuk bertahan dari guncangan global, meskipun pergerakan kurs juga dipengaruhi faktor lain, termasuk kondisi pasar dan respons kebijakan.

Baca juga: Dinamika Industri Halal Indonesia: Dari Pertumbuhan Pasar Domestik hingga Tantangan Sertifikasi