Jakarta | Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, untuk mengikuti rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa, 27 Oktober 2026. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi Presiden untuk membahas perkembangan riset yang masuk dalam prioritas pemerintah bersama pimpinan lembaga yang menangani bidang riset dan inovasi nasional. Berdasarkan keterangan mengenai agenda pertemuan, pembahasan berfokus pada kemajuan riset prioritas tersebut.
Arif Satria tiba di Istana Kepresidenan sekitar pukul 14.03 WIB. Kedatangannya berkaitan dengan undangan untuk mengikuti rapat terbatas bersama Presiden. Waktu kedatangan itu menandai dimulainya rangkaian kehadiran Kepala BRIN dalam agenda di Istana, sementara pokok pembicaraan yang disebutkan adalah perkembangan riset prioritas pemerintah. Tidak ada rincian tambahan mengenai materi riset tertentu yang disampaikan dalam informasi tentang pertemuan ini.
Agenda tersebut menempatkan perkembangan riset sebagai pokok pembahasan Presiden dan Kepala BRIN. Dengan demikian, fokus pertemuan sebagaimana diketahui adalah memperoleh pembaruan mengenai riset yang menjadi prioritas pemerintah, bukan agenda lain yang tidak disebutkan. Pertemuan berlangsung dalam format rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, dan melibatkan Prabowo Subianto serta Arif Satria. Informasi yang tersedia belum merinci hasil pembahasan, keputusan, atau tindak lanjut tertentu. Karena itu, keterangan mengenai pertemuan ini dapat disampaikan secara terbatas pada waktu, tempat, peserta, dan agenda yang telah disebutkan: Arif tiba sekitar pukul 14.03 WIB pada Selasa, 27 Oktober 2026, untuk membahas perkembangan riset prioritas bersama Presiden. Uraian tersebut menjaga cakupan laporan tetap sesuai dengan pokok informasi yang tersedia, tanpa mengaitkan rapat dengan bidang, program, atau kebijakan riset tertentu yang tidak dijelaskan.
Arif akan menyampaikan kepada Presiden Prabowo perkembangan berbagai riset prioritas yang selama ini menjadi penugasan Presiden. Laporan tersebut disusun untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kemajuan setiap kegiatan, termasuk hasil yang telah dicapai dan langkah yang masih diperlukan. Dengan pemaparan itu, pemerintah dapat melihat bagaimana riset bergerak dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan, sekaligus memahami tantangan yang dihadapi dalam prosesnya. Arif menjelaskan bahwa informasi yang disampaikan bukan sekadar daftar kegiatan, melainkan juga menunjukkan posisi masing-masing riset saat ini. Gambaran tersebut penting agar tindak lanjut dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan nyata di lapangan.
Salah satu bagian laporan mencakup riset yang hasilnya sudah diterapkan di lapangan. Penerapan itu memperlihatkan bahwa sejumlah kegiatan telah menghasilkan keluaran yang dapat dimanfaatkan, sekaligus memberi dasar untuk menilai manfaat dan keberlanjutannya. Laporan juga akan mencatat pekerjaan yang masih berlangsung. Beberapa riset memerlukan percepatan agar tahapan berikutnya dapat berjalan sesuai sasaran, baik dalam penyelesaian kegiatan maupun dalam pemanfaatan hasil. Dengan mencantumkan kemajuan dan hambatan secara bersamaan, Arif dapat menjelaskan bidang mana yang sudah menunjukkan hasil dan bagian mana yang masih membutuhkan perhatian. Pendekatan ini membantu membedakan kebutuhan setiap program, tanpa menganggap semua riset berada pada tahap yang sama.
Selain perkembangan kegiatan, Arif akan memaparkan kebutuhan infrastruktur riset yang diperlukan untuk mendukung pekerjaan tersebut. Kebutuhan ini dapat berkaitan dengan fasilitas, peralatan, maupun dukungan lain yang memungkinkan proses penelitian berlangsung lebih efektif. Laporan turut memuat kegiatan yang telah mencapai tahap hilirisasi, yakni upaya membawa hasil riset menuju pemanfaatan yang lebih luas. Melalui penyampaian tersebut, Presiden akan memperoleh gambaran tentang posisi setiap riset: mana yang telah diterapkan, mana yang masih dikerjakan, mana yang perlu dipercepat, dan mana yang membutuhkan dukungan infrastruktur atau tindak lanjut hilirisasi. Arif menekankan bahwa laporan itu sekaligus memperlihatkan kebutuhan masing-masing riset, sehingga dukungan pemerintah dapat diarahkan secara lebih tepat. Dengan demikian, pembahasan berfokus pada kondisi dan kebutuhan konkret, bukan hanya target umum atau capaian agregat seluruh program riset.
Dalam pembahasan bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Presiden Prabowo Subianto menyoroti perkembangan sejumlah riset yang diprioritaskan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Bidang yang ditugaskan mencakup pengelolaan air, kesehatan, kebencanaan, pengolahan sampah, serta teknologi satelit. Fokus tersebut mencerminkan kebutuhan yang beragam, mulai dari penyediaan sumber daya dan layanan dasar hingga peningkatan kesiapsiagaan menghadapi risiko. Riset di bidang-bidang ini diharapkan tidak berhenti pada pengembangan pengetahuan, tetapi juga menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata.
Perkembangan setiap program berada pada tahap yang berbeda. Sebagian penelitian telah diselesaikan, sementara sebagian lainnya masih dikembangkan agar teknologinya siap diproduksi dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Proses tersebut dapat mencakup penyempurnaan rancangan, pengujian, serta penyiapan jalur produksi dan penerapan. Dengan demikian, penyelesaian riset bukan selalu akhir dari pekerjaan; hasil penelitian perlu melewati tahapan lanjutan supaya dapat digunakan secara luas dan sesuai kebutuhan. BRIN berperan dalam mengembangkan inovasi, sedangkan kolaborasi dengan mitra menjadi salah satu cara untuk mendorong hasilnya menuju pemanfaatan.
Salah satu contoh yang disampaikan ialah teknologi genteng. Riset untuk teknologi ini telah selesai dan kini memasuki tahap produksi melalui kerja sama dengan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Peralihan dari penelitian ke produksi menunjukkan upaya membawa hasil riset keluar dari laboratorium dan mendekatkannya kepada pengguna. Kerja sama tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan pengembangan teknologi, meskipun pemanfaatannya tetap bergantung pada kesiapan produksi dan kebutuhan masyarakat. Contoh ini juga menggambarkan arah yang dituju bagi riset prioritas lainnya: menghasilkan inovasi yang dapat dikembangkan lebih lanjut, memiliki jalur penerapan yang jelas, serta memberi manfaat praktis. Kemajuan pada pengelolaan air, kesehatan, kebencanaan, pengolahan sampah, dan satelit akan dinilai bukan hanya dari capaian penelitian, tetapi juga dari peluang penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.Dalam mendorong pemanfaatan hasil penelitian, BRIN menjajaki kemitraan dengan berbagai pihak agar pengembangan teknologi dapat berlangsung lebih cepat dan menjangkau kebutuhan nyata. Kolaborasi ini penting karena riset tidak berhenti pada temuan atau prototipe di laboratorium. Teknologi yang telah dikembangkan perlu diuji, disesuaikan dengan kondisi pengguna, dan disiapkan agar dapat diterapkan secara lebih luas. Pihak yang memiliki kapasitas dan kebutuhan terkait dapat berperan dalam tahapan tersebut, termasuk menyediakan pengalaman lapangan, fasilitas, maupun dukungan untuk penerapan. Dengan pola kerja bersama, BRIN berharap proses dari riset menuju pemanfaatan bisa berjalan lebih efektif.
Sejumlah bidang yang menjadi perhatian dalam penjajakan kemitraan mencakup teknologi pengolahan air, pengolahan sampah, serta pengembangan obat-obatan herbal. Ketiganya berkaitan dengan persoalan yang dirasakan masyarakat dan membutuhkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan setempat. Pengolahan air, misalnya, dapat mendukung ketersediaan air yang lebih layak, sementara teknologi pengolahan sampah berpotensi membantu penanganan limbah secara lebih baik. Di bidang herbal, riset dapat memperkuat dasar ilmiah bagi pemanfaatan bahan alam. Kemitraan memungkinkan hasil pengembangan tersebut dibawa lebih dekat kepada pengguna dan calon penerap, sekaligus membuka ruang untuk perbaikan berdasarkan masukan praktis.
Arif menjelaskan bahwa mandat BRIN berfokus pada riset dan pengembangan teknologi, bukan pada produksi massal. Karena itu, produksi dan penyediaan produk dalam skala besar dilakukan oleh pihak terkait yang memiliki kapasitas untuk menjalankannya. Perbedaan peran ini menempatkan BRIN sebagai penghasil pengetahuan, teknologi, dan hasil riset yang dapat menjadi dasar bagi pengembangan lebih lanjut, sedangkan mitra dapat mengambil bagian dalam penerapan maupun produksi. BRIN berupaya memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai laporan, tetapi segera memasuki proses hilirisasi melalui kerja sama yang sesuai.
Baca juga: Forum Lintas Suku OAP Ajak Seluruh Elemen Masyarakat Bersama Jaga Kamtibmas di Sorong Papua Barat Daya | Meriahkan HUT ke- 81 TNI, Kodim Bojonegoro bersama ORADO Gelar Turnamen Domino 101 Piala Panglima TNI | Latihan Bersama TNI-AU dan Angkatan Udara Prancis: Misi Pégase 2026






