Kabupaten Sidoarjo | Kementerian Pekerjaan Umum membangun kembali Pondok Pesantren Al-Khoziny yang berada di Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pembangunan ini dilakukan setelah gedung pesantren tiga lantai ambruk pada September 2025. Proyek tersebut ditujukan untuk memulihkan fasilitas pendidikan di lingkungan pesantren, sehingga kegiatan belajar dapat kembali didukung oleh sarana yang memadai. Kehadiran bangunan pendidikan yang layak menjadi bagian penting dari keberlangsungan proses pembelajaran dan aktivitas para santri. Pekerjaan pembangunan kembali ini ditargetkan rampung pada akhir 2026, sebagaimana sasaran waktu yang ditetapkan untuk proyek tersebut. Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum menangani pembangunan sebagai upaya menyediakan kembali fasilitas pendidikan di lokasi pesantren.
Pembangunan kembali Pondok Pesantren Al-Khoziny tidak hanya berkaitan dengan berdirinya bangunan, tetapi juga dengan tersedianya lingkungan yang dapat menunjang kegiatan pendidikan. Fasilitas yang memadai dibutuhkan agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan dukungan ruang dan sarana yang sesuai. Karena itu, pemulihan pesantren menjadi perhatian dalam pelaksanaan proyek. Target penyelesaian pada akhir 2026 menjadi acuan waktu bagi pembangunan yang sedang berjalan. Informasi mengenai proyek ini menegaskan peran pemerintah dalam mendukung ketersediaan infrastruktur pendidikan. Bagi lembaga pendidikan seperti pesantren, keberadaan fasilitas yang layak membantu kegiatan belajar dan pengembangan peserta didik. Pembangunan ini diharapkan menghadirkan kembali dukungan fisik bagi kegiatan pendidikan di Al-Khoziny.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyampaikan bahwa fasilitas pendidikan yang memadai berperan penting dalam mendukung pembelajaran dan pembentukan sumber daya manusia. Pernyataan tersebut menjelaskan alasan sarana pendidikan menjadi perhatian dalam pembangunan kembali pesantren. Lingkungan belajar yang didukung fasilitas layak dapat menunjang proses pendidikan, sementara pendidikan turut berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia. Dalam konteks Al-Khoziny, pembangunan kembali menyediakan kesempatan untuk memulihkan sarana yang dibutuhkan bagi kegiatan belajar di pesantren. Proyek di Kecamatan Buduran ini menjadi bagian dari upaya mendukung kebutuhan pendidikan melalui pembangunan fasilitas. Dengan target rampung pada akhir 2026, pembangunan kembali Al-Khoziny diarahkan untuk menghadirkan fasilitas pendidikan yang dapat mendukung pembelajaran dan pembentukan sumber daya manusia sesuai penekanan Menteri PU.
Pembangunan kembali Ponpes Al-Khoziny mencakup gedung asrama santri dan ruang pendidikan setinggi lima lantai, serta masjid empat lantai. Ketiga fasilitas tersebut dirancang sebagai bagian dari satu kawasan pesantren yang saling terhubung. Penataan ini mendukung kebutuhan penghuni dan kegiatan sehari-hari, sekaligus memberi ruang yang memadai bagi proses pendidikan. Dengan menggabungkan fungsi tempat tinggal, pembelajaran, dan ibadah dalam satu lingkungan, rancangan kawasan diharapkan menunjang aktivitas santri serta para pengajar secara lebih teratur.
Gedung asrama dan ruang pendidikan lima lantai menjadi fasilitas utama untuk menunjang kehidupan serta kegiatan akademik santri. Area hunian menyediakan tempat tinggal bagi para santri, sedangkan ruang pendidikan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Penempatan kedua fungsi dalam kawasan yang sama membantu menghubungkan rutinitas harian dengan kegiatan pendidikan, tanpa memisahkan kebutuhan tempat tinggal dari proses pembelajaran. Fasilitas ini disiapkan untuk mendukung kegiatan pesantren dalam skala besar dan melayani beragam jenjang pendidikan.
Masjid empat lantai melengkapi kawasan sebagai pusat kegiatan ibadah dan pembinaan spiritual. Keberadaannya bersama asrama dan ruang pendidikan mencerminkan rancangan yang mengintegrasikan dimensi kehidupan santri: tinggal, belajar, dan menjalankan kegiatan keagamaan. Dengan demikian, kawasan tidak hanya menyediakan bangunan untuk menampung penghuni, tetapi juga ruang bagi kegiatan bersama. Susunan fasilitas tersebut diarahkan untuk mendukung keseharian pesantren dalam satu lingkungan yang terpadu dan fungsional.
Secara keseluruhan, gedung pesantren dirancang untuk menampung hingga 929 orang, termasuk santri jenjang ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah, serta para ustaz. Sementara itu, ruang belajar disiapkan untuk menampung total 792 orang. Kapasitas tersebut menjadi pertimbangan penting dalam penyediaan fasilitas pendidikan dan pengaturan aktivitas di dalam kawasan. Perbedaan kebutuhan penghuni dan pengguna ruang belajar juga menunjukkan bahwa perencanaan memperhitungkan kegiatan belajar mengajar secara khusus, bukan hanya jumlah tempat tinggal yang tersedia.
Integrasi fasilitas diharapkan membuat kegiatan pendidikan, kehidupan asrama, dan pembinaan spiritual dapat berlangsung berdampingan. Santri dapat menjalani rutinitas belajar dan beribadah dalam kawasan yang sama, sementara para ustaz turut menjadi bagian dari komunitas pesantren. Rancangan ini menempatkan fasilitas fisik sebagai penunjang kegiatan utama pondok, dengan kapasitas yang disesuaikan untuk kebutuhan penghuni dan proses pendidikan. Asrama, ruang belajar, serta masjid menjadi unsur penting dalam pembangunan kembali Ponpes Al-Khoziny.
Masjid yang menjadi bagian dari pembangunan kembali Pondok Pesantren Al-Khoziny dirancang sebagai bangunan empat lantai dengan kapasitas total 1.160 jamaah. Perencanaan tersebut membagi daya tampung secara terukur di setiap lantai, sehingga ruang ibadah dapat digunakan untuk menampung kegiatan berjamaah dalam skala besar. Lantai pertama dirancang menampung 302 orang, sedangkan lantai kedua, ketiga, dan keempat masing-masing memiliki kapasitas 286 orang.
Pembagian kapasitas itu menjadi salah satu dasar dalam menata fungsi masjid sebagai ruang ibadah sekaligus bagian dari lingkungan pendidikan pesantren. Dengan daya tampung yang direncanakan, bangunan diharapkan dapat mendukung pelaksanaan salat berjamaah dan kegiatan keagamaan yang melibatkan santri maupun warga pesantren lainnya. Penataan ruang pada empat lantai juga perlu diselaraskan dengan kebutuhan pengguna serta rancangan bangunan secara keseluruhan.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Jawa Timur, Gusti Agung Ari Wibowo, menjelaskan bahwa kapasitas masjid tersebut diharapkan menunjang ibadah dan pembinaan keagamaan warga pesantren. Dengan demikian, perencanaan tidak hanya berfokus pada jumlah orang yang dapat ditampung, tetapi juga pada dukungan fasilitas bagi aktivitas keagamaan di pesantren. Masjid dirancang menjadi salah satu sarana yang dapat digunakan untuk menunjang kehidupan beribadah dan proses pembinaan warga pesantren.
Keandalan bangunan direncanakan melalui dokumen detail engineering design (DED) yang mencakup sejumlah aspek teknis. Pada bagian fondasi, perencanaan meliputi tiang pancang dan pile cap sebagai elemen dasar bangunan. DED juga mengatur struktur atas dan rancangan arsitektur, sehingga kebutuhan konstruksi dan tata ruang dapat dipertimbangkan secara terpadu. Selain itu, dokumen tersebut mencakup sistem mekanikal, elektrikal, dan perpipaan. Cakupan ini membantu memastikan berbagai komponen bangunan direncanakan sebagai satu kesatuan, mulai dari fondasi hingga sistem pendukung operasional. Perincian teknis tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan masjid empat lantai yang dapat mendukung fungsi ibadah dan kegiatan pesantren sesuai kapasitas yang telah direncanakan.
Pembangunan kembali Ponpes Al-Khoziny mencakup rangkaian pekerjaan konstruksi dari tahap persiapan hingga pemeriksaan akhir. Proyek ini berlangsung di atas lahan seluas 4.100 meter persegi dan dimulai pada Desember 2025. Pada tahap awal, pekerjaan meliputi penyiapan lahan, pengaturan area kerja, serta persiapan teknis untuk mendukung pelaksanaan konstruksi. Setelah itu, pekerja memasang tiang pancang sebagai elemen penopang bangunan. Tahapan berikutnya mencakup pengecoran fondasi dan pile cap, yang berfungsi menghubungkan fondasi dengan struktur di atasnya. Pelaksanaan setiap tahap perlu mengikuti urutan kerja dan persyaratan teknis agar pembangunan dapat berjalan aman, terukur, dan mendukung fungsi fasilitas pesantren.
Setelah fondasi selesai, pekerjaan berlanjut pada pembangunan struktur atas, termasuk elemen bangunan yang membentuk kerangka utama. Tahap ini diikuti pekerjaan arsitektur untuk membentuk ruang dan menyelesaikan bagian bangunan sesuai kebutuhan penggunaannya. Lingkup proyek juga mencakup pemasangan sistem mekanikal, elektrikal, dan perpipaan atau MEP. Sistem tersebut meliputi berbagai instalasi pendukung yang diperlukan agar bangunan dapat beroperasi, seperti jaringan listrik, perangkat mekanikal, serta saluran air dan perpipaan.
Baca juga: Respons Dampak Kemarau, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Salurkan Air Bersih untuk Warga | Duel Ganda Putra Asian Games 2026: Menanti Hasil Akhir Leo/Daniel






