Jakarta | Di Facebook beredar unggahan yang mengatasnamakan Presiden Prabowo Subianto dan menyatakan bahwa ia meminta masyarakat Indonesia memboikot Facebook, Threads, Instagram, serta TikTok. Ajakan tersebut dikaitkan dengan alasan menjaga nama baik negara. Narasi itu juga menuduh bahwa pembatasan penggunaan platform media sosial akan membuat pemerintah lebih leluasa bertindak tanpa mendapat sorotan dari negara lain. Dengan demikian, unggahan itu tidak sekadar menyampaikan ajakan boikot, tetapi turut membangun dugaan mengenai motif pemerintah di baliknya.
Unggahan yang diperiksa berasal dari akun “danijhoya dani” dan dipublikasikan pada 20 Oktober 2026. Kontennya menggunakan foto Prabowo Subianto yang disertai tulisan berupa ajakan untuk memboikot sejumlah platform media sosial. Di dalam unggahan tersebut juga terdapat potongan gambar bertanda Pojokjabar. Kehadiran foto presiden dan potongan gambar itu dapat membuat pesan tampak seperti pernyataan yang memiliki sumber berita, meskipun keduanya saja tidak membuktikan bahwa Prabowo benar-benar mengeluarkan permintaan tersebut. Narasi tentang alasan menjaga nama baik negara maupun tuduhan mengenai tindakan pemerintah disampaikan oleh pengunggah.
Sampai pemeriksaan dilakukan pada 22 Oktober 2026, unggahan akun “danijhoya dani” telah memperoleh 98 tanda suka dan 71 komentar, serta dibagikan empat kali. Artinya, klaim itu telah memperoleh tanggapan dan beredar di luar akun asal, walaupun angka interaksi tersebut tidak dapat dipakai sebagai bukti kebenaran isi. Narasi serupa juga ditemukan pada akun Facebook “genting rimba babaung”, “cliper encep”, “ismarhatin us”, dan “defisiani saragih”. Kemunculan klaim di beberapa akun menunjukkan bahwa pesan yang sama beredar melalui lebih dari satu unggahan. Namun, pengulangan suatu klaim di media sosial tidak dengan sendirinya memastikan bahwa permintaan boikot benar-benar berasal dari Presiden Prabowo. Pembaca perlu membedakan tulisan yang dibuat oleh pemilik akun dan pernyataan resmi yang dapat diverifikasi melalui sumber tepercaya.
Pemeriksaan terhadap klaim bahwa Prabowo meminta masyarakat memboikot media sosial dilakukan dengan menelusuri informasi yang beredar serta memeriksa sumber gambar pada unggahan. Pencarian gambar terbalik menggunakan Google tidak menemukan pemberitaan valid atau sumber tepercaya yang mengonfirmasi adanya seruan tersebut. Penelusuran juga tidak menemukan pernyataan resmi Prabowo yang meminta rakyat melakukan boikot media sosial. Dengan demikian, klaim dalam unggahan itu tidak didukung bukti yang dapat diverifikasi. Ketiadaan hasil pencarian saja bukan satu-satunya dasar penilaian; konteks dan sumber foto turut ditelusuri untuk memastikan apakah gambar yang dipakai sesuai dengan narasi yang disebarkan.
Langkah berikutnya adalah mencari asal foto yang ditampilkan dalam unggahan. Melalui pencarian gambar terbalik, ditemukan foto identik pada akun Instagram resmi Pojokjabar, dengan nama pengguna @pojok_jabar. Foto tersebut dimuat dalam unggahan bertanggal 14 Oktober 2026. Kecocokan gambar ini membantu mengidentifikasi sumber awal materi visual, sekaligus menyediakan konteks yang dapat dibandingkan dengan klaim boikot. Penelusuran pada unggahan asli menunjukkan bahwa foto itu memang berkaitan dengan Prabowo, tetapi isi dan pokok pembahasannya berbeda dari narasi yang beredar. Karena itu, penggunaan foto yang sama tidak serta-merta membenarkan keterangan yang ditambahkan oleh pengunggah lain.
Unggahan asli Pojokjabar tidak membahas ajakan memboikot media sosial. Isinya melaporkan tanggapan Prabowo mengenai penanganan kebakaran hutan dan lahan, atau karhutla. Perbedaan konteks tersebut penting: foto yang autentik dapat digunakan kembali bersama teks yang tidak sesuai, sehingga pembaca memperoleh kesan keliru tentang apa yang sebenarnya disampaikan seseorang. Berdasarkan hasil penelusuran, tidak ditemukan bukti valid bahwa Prabowo meminta rakyat memboikot media sosial, sedangkan sumber foto justru mengarah pada laporan mengenai penanganan karhutla. Maka, klaim tersebut menyesatkan karena mengaitkan gambar dan sosok yang benar dengan pernyataan yang tidak terdapat dalam unggahan asli. Sebelum membagikan klaim serupa, pembaca sebaiknya memeriksa sumber foto dan mencari pernyataan melalui kanal resmi atau pemberitaan tepercaya.
Gambar yang beredar dalam unggahan dengan klaim bahwa Prabowo meminta warga memboikot media sosial tidak menggambarkan pernyataan tersebut. Konteks foto itu berkaitan dengan rapat terbatas mengenai penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Keterangan pada unggahan aslinya menyebut Prabowo tampak terkejut setelah menerima informasi mengenai luas area karhutla yang masih dalam proses pemadaman.
Dalam rapat tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa area yang tersisa untuk ditangani mencapai sekitar 639 hektare. Informasi itu disampaikan dalam rapat terbatas yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, pada 12 Oktober 2026. Dengan demikian, ekspresi Prabowo dalam gambar berkaitan dengan paparan mengenai perkembangan penanganan karhutla, bukan dengan ajakan untuk memboikot platform media sosial.
Foto tersebut bersumber dari dokumentasi video yang diunggah di kanal YouTube resmi Sekretariat Presiden. Video itu berjudul “Presiden Prabowo Pimpin Ratas Perkembangan Penanganan Karhutla, Istana Merdeka, 12 Oktober 2026”. Rekaman kegiatan resmi ini memuat suasana rapat dan pembahasan terkait perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan. Sumber video tersebut dapat digunakan untuk memeriksa konteks gambar yang beredar, termasuk kaitannya dengan agenda rapat.
Namun, foto yang digunakan dalam unggahan berisi klaim boikot telah disunting. Gambar kegiatan resmi itu diberi tulisan yang tidak berkaitan dengan isi dokumentasi aslinya, sehingga berpotensi membuat pembaca menghubungkan foto dengan pesan yang keliru. Perubahan teks pada gambar tidak mengubah konteks rekaman sumbernya: foto tersebut berasal dari rapat penanganan karhutla. Karena itu, gambar ini tidak dapat dijadikan bukti bahwa Prabowo menyampaikan ajakan boikot media sosial. Pemeriksaan terhadap sumber asli dan keterangan mengenai agenda rapat membantu membedakan dokumentasi autentik dari narasi tambahan yang ditempelkan pada gambar.Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa klaim Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat memboikot Facebook, Threads, Instagram, dan TikTok demi menjaga nama baik negara adalah salah dan menyesatkan. Tidak ditemukan pernyataan resmi yang memuat ajakan tersebut. Karena itu, unggahan yang menyatakan Prabowo meminta warga menghentikan penggunaan platform-platform tersebut tidak memiliki dukungan bukti yang memadai. Klaim itu juga tidak dapat diperlakukan sebagai kebijakan atau imbauan pemerintah hanya berdasarkan narasi yang beredar bersama sebuah foto. Pemeriksaan perlu membedakan isi pernyataan yang benar-benar disampaikan dari keterangan tambahan yang ditempelkan pada gambar. Dalam kasus ini, tidak ada bukti resmi yang mengonfirmasi pesan boikot sebagaimana disebutkan dalam klaim.
Foto yang digunakan dalam unggahan tersebut bukan dokumentasi Prabowo menyampaikan seruan untuk memboikot media sosial. Gambar itu berasal dari dokumentasi rapat terbatas mengenai penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Dengan demikian, foto tersebut memiliki konteks awal yang berbeda dari konteks yang kemudian dilekatkan padanya. Penggunaan gambar rapat karhutla untuk mendukung narasi tentang boikot dapat membuat pembaca mengira bahwa foto itu merekam atau berkaitan dengan pernyataan tersebut, padahal bukti yang tersedia tidak menunjukkan hubungan demikian. Perbedaan konteks ini penting dalam menilai keandalan unggahan, sebab sebuah foto tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa narasi yang menyertainya benar.
Kesimpulannya, klaim bahwa Prabowo meminta masyarakat memboikot Facebook, Threads, Instagram, dan TikTok demi menjaga nama baik negara bersifat salah dan menyesatkan. Tidak terdapat pernyataan resmi tentang ajakan boikot, sedangkan foto yang disertakan berasal dari rapat terbatas penanganan karhutla dan telah digunakan dengan narasi berbeda. Oleh sebab itu, gambar tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa Prabowo menyampaikan imbauan untuk meninggalkan platform media sosial. Pembaca sebaiknya memeriksa sumber dan konteks foto serta mencari konfirmasi dari pernyataan resmi sebelum mempercayai atau membagikan klaim serupa.
Baca juga: Semarak HUT ke-81 TNI, Bakti Sosial di Nawaripi Disambut Antusias Warga






