Kabut Asap Karhutla Menebal di Sumsel, Aktivitas Warga Terganggu

Kabut Asap Karhutla Menebal di Sumsel, Aktivitas Warga Terganggu

Palembang | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan semakin tebal di sejumlah wilayah Sumatera Selatan pada Kamis pagi, 22 Oktober. Asap menyelimuti jalan-jalan perkotaan sehingga kondisi di sekitar ruas jalan tampak tertutup dan jarak pandang menjadi sangat terbatas. Peristiwa ini terlihat sejak pagi, ketika lapisan asap mengurangi kejelasan pandangan di kawasan yang dilalui warga. Situasi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu sejak awal hari. Tebalnya kabut asap menjadi kondisi utama yang dirasakan di sejumlah wilayah, dengan jalan perkotaan dan keterbatasan jarak pandang sebagai dampak yang langsung tampak.

Di tengah kondisi itu, warga menghadapi gangguan saat menjalankan kegiatan pagi. Jalan yang tertutup asap menyulitkan pandangan terhadap keadaan di sekitar, sementara jarak pandang yang sangat terbatas membuat perjalanan dan aktivitas di luar rumah tidak berlangsung seperti biasanya. Gangguan ini dirasakan sejak pagi, seiring asap yang semakin menebal. Dampak tersebut menunjukkan bahwa kabut asap bukan hanya terlihat di langit atau di kejauhan, tetapi juga memengaruhi penggunaan jalan perkotaan dan rutinitas masyarakat. Sejumlah wilayah di Sumatera Selatan mengalami kondisi tersebut pada waktu yang sama, meski rincian lokasi tidak disebutkan.

Peristiwa pada Kamis pagi itu memperlihatkan dampak langsung kebakaran hutan dan lahan terhadap kehidupan warga melalui asap yang menyebar dan membatasi pandangan. Jalan-jalan perkotaan yang tertutup asap menjadi gambaran nyata kondisi di lapangan, sedangkan terbatasnya jarak pandang menambah gangguan bagi masyarakat yang beraktivitas. Hingga pagi, aktivitas warga di wilayah terdampak masih terganggu oleh kabut yang menebal. Kondisi ini menjadikan kabut asap sebagai persoalan yang dirasakan dalam keseharian, terutama saat warga menggunakan jalan dan menjalankan berbagai keperluan pagi. Informasi yang tersedia menegaskan adanya gangguan tersebut tanpa merinci wilayah tertentu ataupun dampak lain.

Pantauan di lapangan menunjukkan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan semakin menebal dari hari ke hari. Asap yang sebelumnya tampak tipis kini terlihat lebih pekat dan menyelimuti lingkungan, sehingga jarak pandang terasa berkurang. Kondisi tersebut juga berjalan seiring dengan kualitas udara yang semakin tidak sehat. Warga yang beraktivitas di luar rumah pun merasakan langsung dampaknya, sementara suasana sehari-hari berubah karena udara dipenuhi asap.

Keluhan kesehatan yang disampaikan warga lain mata terasa perih, sesak napas, batuk, dan flu. Gejala-gejala itu dirasakan ketika mereka menjalani kegiatan seperti biasa di tengah kabut asap. Bagi sebagian warga, keadaan ini menimbulkan ketidaknyamanan dan membuat aktivitas sehari-hari terganggu. Udara yang tidak sehat menjadi perhatian karena warga tetap perlu beraktivitas, tetapi kondisi lingkungan yang tertutup asap menyulitkan mereka untuk merasa nyaman.

Hendra Basirin, warga Palembang, mengatakan asap mengganggu kegiatan sehari-hari. Ia menggambarkan keadaan yang dirasakan seolah-olah berada di atas awan. Pernyataan tersebut mencerminkan betapa pekatnya kabut asap yang terlihat di sekitar warga, hingga suasana lingkungan terasa berbeda dari biasanya. Hendra menyampaikan gambaran itu untuk menjelaskan kondisi yang ia alami, tanpa menambahkan keluhan lain.

Ketebalan asap yang terus meningkat membuat dampak terhadap warga semakin nyata. Selain pandangan yang tertutup, kualitas udara yang memburuk dan berbagai keluhan kesehatan menambah gangguan saat beraktivitas. Pengamatan di lapangan dan cerita warga menunjukkan bahwa kabut asap bukan hanya perubahan pada kondisi lingkungan, melainkan juga persoalan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Selama asap masih menyelimuti wilayah, warga menghadapi udara yang tidak sehat serta ketidaknyamanan yang muncul ketika menjalankan kegiatan rutin. Keluhan mata perih, sesak napas, batuk, dan flu menjadi gambaran gangguan yang mereka sebutkan di tengah kondisi tersebut.

Sejumlah warga di Sumatera Selatan mempertanyakan hasil penyemaian dry ice yang dilakukan pemerintah beberapa hari sebelumnya untuk menangani kabut asap. Mereka menilai kondisi udara sempat terasa lebih baik setelah upaya tersebut, tetapi perubahan itu tidak berlangsung lama. Pertanyaan warga muncul kembali ketika kabut terlihat menebal dan aktivitas sehari-hari kembali terganggu. Bagi mereka, langkah penanganan perlu dinilai dari perubahan yang dirasakan di lingkungan tempat tinggal, bukan hanya dari pelaksanaan kegiatan penyemaian. Mereka juga ingin mengetahui apakah upaya serupa akan dilakukan lagi dan bagaimana pemerintah menjelaskan kondisi kabut yang kembali muncul.

Menurut keluhan warga, dampak penyemaian itu hanya bertahan sekitar satu hingga dua hari. Setelahnya, kabut asap kembali terlihat, sehingga sebagian warga merasa belum memperoleh kelegaan yang berkelanjutan. Penilaian tersebut merupakan pengalaman dan pandangan warga mengenai perubahan kondisi udara di sekitar mereka. Mereka mengaitkan membaiknya keadaan untuk sementara dengan kegiatan yang telah dilakukan, lalu mempertanyakan mengapa kabut kembali muncul dalam waktu singkat. Warga berharap pemerintah memberikan penjelasan mengenai tujuan penyemaian, hasil yang diharapkan, serta alasan kondisi dapat berubah lagi. Pertanyaan itu disampaikan di tengah kekhawatiran terhadap gangguan aktivitas akibat kabut.

Selain mempertanyakan lamanya dampak yang mereka rasakan, warga juga mengeluhkan biaya yang digunakan untuk penanganan tersebut. Mereka meminta agar penggunaan anggaran diperhatikan, terutama jika hasil yang dirasakan hanya berlangsung singkat sebelum kabut kembali menyelimuti kawasan. Keluhan mengenai biaya itu mencerminkan tuntutan agar pemerintah terbuka tentang pengeluaran dan dasar pelaksanaan kegiatan, bukan bukti tersendiri mengenai keberhasilan atau kegagalan teknologi dry ice. Warga ingin mengetahui berapa biaya yang dikeluarkan, bagaimana dampaknya dipantau, dan langkah apa yang disiapkan jika kabut kembali menebal. Dengan demikian, pertanyaan mereka berpusat pada pengalaman selama satu hingga dua hari, kemunculan kembali kabut, serta penjelasan yang mereka harapkan dari pemerintah.

Pada 19 Oktober, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan upaya modifikasi cuaca untuk membantu mengurangi kabut asap di Sumatera Selatan. Dalam kegiatan tersebut, tim menyemai 1.600 kilogram dry ice dan 800 kilogram garam. Penyemaian dilakukan sebagai bagian dari langkah untuk memecah kabut asap sekaligus mendorong terbentuknya hujan buatan di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Upaya ini diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi udara yang memburuk dan mengganggu kegiatan sehari-hari warga. Namun, modifikasi cuaca bukan satu-satunya langkah yang dibutuhkan untuk menangani dampak karhutla. Penanganan sumber kebakaran tetap menjadi perhatian penting, sementara warga menantikan langkah yang lebih serius untuk mengatasi persoalan yang telah berlangsung cukup lama.

Sejumlah warga meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan lebih serius dan bertanggung jawab dalam menangani karhutla. Mereka menilai kebakaran dan kabut asap telah berlangsung selama dua bulan, tetapi masalahnya belum teratasi. Permintaan tersebut mencerminkan harapan agar pemerintah daerah memperkuat respons, memastikan upaya penanganan berjalan berkelanjutan, serta memberi perhatian pada gangguan yang dirasakan masyarakat selama kabut asap menyelimuti wilayah mereka.

BNPB menjelaskan bahwa penyemaian dry ice merupakan bagian dari teknologi modifikasi cuaca. Efektivitas metode ini bergantung pada kondisi awan dan kecepatan angin, sehingga hasilnya tidak dapat dilepaskan dari keadaan atmosfer saat kegiatan dilaksanakan. Pada 19 Oktober, kecepatan angin tercatat masih stagnan pada kisaran 5–10 kilometer per jam. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai peluang keberhasilan penyemaian dan terbentuknya hujan. Karena itu, langkah modifikasi cuaca perlu dipahami sebagai bagian dari respons terhadap kabut asap, sementara warga tetap mengharapkan penanganan karhutla yang lebih menyeluruh dari pemerintah daerah.

Baca juga: Cegah Karhutla, Mabes TNI  Gandeng Tokoh Masyarakat Palaran | Update Terkini: Aktivitas Demonstrasi di Jakarta Hari Ini | Kualitas Udara Jambi Diprediksi Sangat Buruk Akibat Karhutla