Jakarta | Kabar duka menyelimuti keluarga besar Martha Tilaar Group. Martha Tilaar, tokoh penting dalam perkembangan industri kecantikan Indonesia, meninggal dunia pada usia 89 tahun, 14 Oktober 2026. Informasi tersebut diumumkan melalui akun Instagram resmi @sariayu_mt, disertai foto Martha serta ucapan belasungkawa dari keluarga besar perusahaan yang selama ini dibangunnya.
Dalam unggahan tersebut, keluarga menyampaikan penghormatan mendalam kepada sosok yang telah mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan kecantikan Indonesia. Martha dikenang bukan hanya sebagai pengusaha, melainkan juga sebagai pribadi yang konsisten mengangkat kekayaan budaya, bahan alami, dan warisan kecantikan Nusantara ke tingkat yang lebih luas. Gagasan itu menjadi salah satu landasan penting dalam perjalanan Sariayu dan berbagai karya yang lahir dari Martha Tilaar Group.
Jenazah Martha Tilaar disemayamkan di rumah keluarga di Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Rumah duka tersebut menjadi tempat keluarga, kerabat, sahabat, serta berbagai pihak yang mengenal kiprahnya menyampaikan penghormatan terakhir. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, terutama bagi mereka yang pernah bekerja bersama atau memperoleh inspirasi dari ketekunan dan kepeduliannya terhadap perkembangan perempuan Indonesia.
Lahir pada 4 September 1937, Martha menjalani perjalanan panjang yang membawanya dari dunia salon hingga membangun kelompok usaha dengan pengaruh besar di bidang kecantikan. Dalam kehidupan keluarga, ia meninggalkan empat anak, yaitu Bryan David Emil Tilaar, Pingkan Engelien Tilaar, Wulan Maharani Tilaar, dan Kilala Ezra Tilaar.
Bagi keluarga besar Martha Tilaar Group, warisan Martha tidak berhenti pada produk, perusahaan, atau pencapaian bisnis. Dedikasi, karya, semangat memajukan kecantikan dan warisan Nusantara, serta keteladanannya akan terus dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan Indonesia. Sosoknya menjadi contoh bahwa keberhasilan dapat dibangun bersamaan dengan komitmen untuk merawat identitas budaya dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Perjalanan pendidikan Martha Tilaar dimulai pada 1963 ketika ia menempuh pendidikan ilmu sejarah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta. Pendidikan tersebut menjadi bagian awal dari perjalanan akademiknya sebelum ia memperdalam bidang yang berkaitan langsung dengan kecantikan. Tahap ini menempatkan sejarah sebagai bidang studi yang pernah dipelajarinya dalam rangkaian pendidikan formal.
Pada 1968, Martha Tilaar melanjutkan pendidikan budaya kecantikan di Bloomington, Indiana, Amerika Serikat. Pendidikan ini memperluas pengetahuannya mengenai budaya kecantikan sekaligus menjadi bagian penting dalam pengembangan keahliannya. Setelah menempuh pendidikan tersebut, namanya dikenal sebagai pelopor Grup Martha Tilaar, kelompok usaha yang berkaitan dengan industri kecantikan dan kosmetik.
Hubungan pendidikan budaya kecantikan dan kiprah profesionalnya terlihat dalam keterlibatan Martha Tilaar membangun industri kosmetik berbasis kekayaan budaya Indonesia. Pengetahuan yang diperolehnya melalui pendidikan menjadi bagian dari perjalanan yang menghubungkan keahlian kecantikan dengan pengembangan produk serta usaha kecantikan yang mengangkat unsur budaya Indonesia.
Pada 1984, Martha Tilaar menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Tucson, Arizona, Amerika Serikat. Penghargaan akademik tersebut melengkapi rangkaian pendidikan dan pengakuan yang diterimanya. Selain dikenal sebagai pelopor Grup Martha Tilaar, ia juga menjabat sebagai komisaris PT Martina Berto Tbk (MBTO) sejak 2005. Jabatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya dalam industri kosmetik dan kecantikan.
Perjalanan Martha Tilaar dalam membangun bisnis kosmetik bermula dari usaha salon berskala kecil. Pada 1970, ia mendirikan Martha Tilaar Group dengan membuka Salon Kecantikan Martha di kediaman orangtuanya, Jalan Kusuma Atmaja Nomor 47, Menteng, Jakarta Pusat. Langkah ini menjadi pijakan penting karena mempertemukan keahlian Martha dalam perawatan kecantikan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan yang terus berkembang.
Dua tahun kemudian, pada 1972, Martha memperluas usahanya melalui pembukaan Martha Griya Salon di kawasan Menteng. Di tempat tersebut, ia mulai menerapkan perawatan kecantikan tradisional yang memanfaatkan tanaman herbal. Pendekatan ini tidak hanya menegaskan identitas usaha, tetapi juga memperkenalkan kekayaan pengetahuan perawatan alami Indonesia dalam bentuk layanan yang lebih modern dan terorganisasi. Pengalaman yang diperoleh dari salon menjadi dasar untuk mengembangkan produk kecantikan yang dapat digunakan secara lebih luas.
Perkembangan berikutnya berlangsung pada 1977, ketika Martha bersama Bernard Pranata (alm.) dan Theresia Harsini Setiady mendirikan PT Martina Berto. Pada tahun yang sama, perusahaan bekerja sama dengan Theresia Harsini Setiady, yang merupakan pendiri Kalbe Group, untuk meluncurkan Sariayu sebagai merek produk kecantikan dan jamu modern. Kehadiran Sariayu menjadi salah satu tonggak awal pengembangan bisnis kosmetik perusahaan. Merek tersebut membawa gagasan untuk mengolah bahan-bahan tradisional, termasuk tanaman herbal dan kekayaan budaya Nusantara, ke dalam produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini.
Seiring meningkatnya permintaan, kegiatan produksi perlu ditopang oleh fasilitas industri yang lebih memadai. Karena itu, pada 1981 dibangun pabrik PT Martina Berto di kawasan industri Pulogadung, Jakarta. Pembangunan fasilitas ini memperkuat kapasitas produksi dan membantu perusahaan mengembangkan kegiatan usahanya secara lebih terstruktur. Dua tahun kemudian, pada 1983, PT Martina Berto kembali membangun pabrik kedua di kawasan industri yang sama. Penambahan fasilitas tersebut menandai peralihan usaha dari fondasi salon dan produksi awal menuju bisnis kosmetik dengan skala operasional yang semakin besar.
Sepanjang kiprahnya sebagai pengusaha, pendidik, dan pelestari budaya, Martha Tilaar menerima berbagai penghargaan yang mencerminkan luasnya kontribusi bagi Indonesia. Pada 2008, ia meraih Women Entrepreneur of the Year dari Asia Pacific Entrepreneurship Awards. Penghargaan tersebut menegaskan keberhasilannya membangun usaha yang berakar pada kekayaan alam dan budaya Indonesia, sekaligus membuka ruang bagi perempuan untuk berkembang sebagai pelaku ekonomi. Pada 2012, ia menerima penghargaan Perekayasa Utama Kehormatan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta Ganesa Widya Jasa Utama dari Institut Teknologi Bandung.
Pengakuan lain datang dari Pemerintah Republik Indonesia melalui Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma pada 2016. Penghargaan ini berkaitan dengan dedikasinya terhadap pengembangan dan pemajuan kebudayaan. Sebelumnya, pada 2010, United Nations Global Compact memberikan The Outstanding Contribution 2000–2010 atas komitmennya mendukung dan menerapkan prinsip-prinsip Global Compact. Ia juga menerima SDG Pioneer 2018 dari organisasi yang sama sebagai pengakuan atas kiprahnya dalam mendorong keberlanjutan melalui keterlibatan masyarakat.
Perhatian Martha Tilaar tidak terbatas pada pengembangan bisnis kecantikan. Ia turut mendorong pelestarian budaya, terutama melalui pengenalan kembali pengetahuan tradisional dan praktik perawatan berbasis bahan alam. Pengembangan pengetahuan herbal Indonesia menjadi salah satu bidang penting dalam kiprahnya, karena menghubungkan warisan leluhur dengan penelitian, inovasi, dan kebutuhan masyarakat modern. Ia juga memberi perhatian besar pada pendidikan sebagai sarana memperluas kesempatan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pemberdayaan perempuan menjadi bagian penting dari warisan tersebut. Melalui perusahaan, yayasan, karya tulis, dan berbagai kegiatan sosial, Martha Tilaar berupaya mewariskan pengetahuan, membangun kepercayaan diri, serta menciptakan peluang bagi generasi penerus. Teladannya mendorong, terutama perempuan Indonesia, untuk berkarya, mengembangkan potensi, dan berkontribusi bagi bangsa tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi sumber kekuatan.


