Sport  

Jawa Timur Mendominasi Identifikasi Korban Kapal Virgo Transport 8

Jawa Timur Mendominasi Identifikasi Korban Kapal Virgo Transport 8

BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan mencatat perkembangan terbaru dalam proses pengenalan korban meninggal dunia dari kapal Virgo Transport 8. Sebanyak 63 jenazah telah berhasil diidentifikasi oleh tim tersebut. Informasi ini disampaikan Kepala Bidang Dokkes Polda Kalimantan Selatan, Kombes Pol dr Much Sofwan, di Banjarmasin pada Minggu.

Dalam keterangan tersebut, Jawa Timur menjadi daerah asal dengan jumlah korban teridentifikasi terbanyak. Data itu menunjukkan bahwa korban asal Jawa Timur mendominasi hasil identifikasi yang telah dilakukan Tim DVI Polda Kalimantan Selatan. Pengenalan terhadap para jenazah menjadi bagian penting dalam perkembangan penanganan korban kapal Virgo Transport 8.

Kombes Pol dr Much Sofwan menyampaikan informasi mengenai jumlah korban yang telah dikenali berdasarkan daerah asalnya, termasuk korban dari Jawa Timur. Hingga perkembangan terakhir yang disampaikan pada Minggu, total jenazah yang berhasil diidentifikasi mencapai 63 orang. Di daerah asal yang tercatat, Jawa Timur memiliki jumlah korban teridentifikasi paling banyak.

Perkembangan identifikasi tersebut menjadi informasi utama dalam penanganan korban meninggal kapal Virgo Transport 8. Tim DVI Polda Kalimantan Selatan terus menjadi pihak yang menyampaikan hasil pengenalan jenazah, sementara keterangan dari Kabid Dokkes Polda Kalimantan Selatan menegaskan posisi Jawa Timur sebagai daerah asal dengan jumlah korban yang telah dikenali terbanyak. Dengan demikian, dari total 63 jenazah yang sudah diidentifikasi, korban asal Jawa Timur merupakan kelompok yang paling dominan berdasarkan daerah asal.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) telah mengenali 63 jenazah korban kapal Virgo Transport 8. Berdasarkan daerah asal yang tercatat, Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban teridentifikasi paling banyak. Sebanyak 28 jenazah diketahui berasal dari provinsi tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari dua perlima korban yang telah dikenali memiliki keterkaitan dengan Jawa Timur.

Urutan berikutnya ditempati Jawa Tengah dengan 16 korban. Jika digabungkan dengan jumlah dari Jawa Timur, kedua provinsi di Pulau Jawa itu menyumbang 44 dari total 63 jenazah yang sudah diidentifikasi. Sebaran tersebut memperlihatkan dominasi wilayah Jawa dalam data asal korban yang berhasil dihimpun oleh tim DVI.

Kalimantan Selatan berada di posisi selanjutnya dengan delapan korban. Jumlah ini menambah catatan asal korban yang berasal dari luar Pulau Jawa, sekaligus menjadi daerah dengan kontribusi terbesar di wilayah luar Jawa yang tercantum dalam pendataan tersebut. Setelah itu, Jawa Barat tercatat menyumbang enam korban teridentifikasi.

Dengan demikian, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat mencakup 58 dari 63 jenazah yang telah dikenali. Sementara itu, terdapat lima jenazah lainnya yang termasuk dalam total 63 korban, tetapi daerah asalnya belum dirinci dalam data yang disampaikan. Rincian berdasarkan daerah asal ini menjadi bagian penting dalam proses pendataan, karena dapat membantu menghubungkan korban dengan keluarga serta mendukung pemulangan jenazah secara tepat.

Data tersebut juga menggambarkan bahwa proses identifikasi tidak hanya menghasilkan jumlah korban, tetapi turut memberikan informasi mengenai latar geografis mereka. Penyajian secara berurutan berdasarkan jumlah membantu memperjelas wilayah yang paling banyak terwakili, tanpa mengubah total keseluruhan jenazah yang telah dikenali oleh tim DVI.

Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin telah menerima 80 jenazah korban kapal Virgo Transport 8 untuk menjalani proses identifikasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 63 jenazah berhasil dikenali dan telah melalui tahapan pencocokan data dengan laporan keluarga korban. Dengan demikian, masih terdapat 17 jenazah yang belum teridentifikasi hingga proses penanganan berlangsung.

Belasan jenazah tersebut masih berada dalam penanganan tim Disaster Victim Identification (DVI) dan petugas terkait. Proses pengenalan dilakukan secara bertahap dengan memeriksa berbagai data, termasuk informasi antemortem dari keluarga serta data postmortem yang diperoleh dari jenazah. Tahapan itu diperlukan agar identitas setiap korban dapat dipastikan secara akurat dan tidak menimbulkan kekeliruan dalam penyampaian kepada pihak keluarga.

Untuk mendukung proses tersebut, sampel DNA dari jenazah maupun keluarga yang diperlukan telah dikirimkan ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri di Jakarta. Pemeriksaan di laboratorium pusat menjadi bagian penting dalam pencocokan profil genetik, terutama apabila kondisi jenazah atau keterbatasan data lain membuat identifikasi melalui metode berbeda belum dapat memberikan hasil yang meyakinkan. Hasil pemeriksaan akan digunakan oleh tim sebagai dasar untuk menetapkan identitas korban.

Proses identifikasi masih berjalan dan membutuhkan waktu, khususnya karena seluruh data harus diperiksa melalui prosedur yang cermat. Sofwan mengimbau keluarga korban agar bersabar menunggu penyelesaian tahapan tersebut. Ia menyampaikan bahwa petugas terus berupaya memperoleh kepastian mengenai identitas 17 jenazah yang masih belum dikenali. Keluarga juga diharapkan tetap memberikan data atau informasi yang dibutuhkan tim, sehingga pencocokan dapat dilakukan secara lebih lengkap dan proses penyerahan jenazah dapat dilaksanakan sesuai ketentuan.

Proses identifikasi korban kapal Virgo Transport 8 dimulai pada Senin, 14 September. Sejak saat itu, tim Disaster Victim Identification (DVI) melakukan pemeriksaan secara bertahap terhadap jenazah yang ditemukan dan telah dievakuasi. Setiap jenazah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin untuk menjalani pemeriksaan medis, pencatatan ciri-ciri fisik, pengambilan sampel, serta pencocokan berbagai data pendukung. Langkah tersebut diperlukan agar penetapan identitas dilakukan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Jenazah pertama yang berhasil dikenali adalah Reyner Fausta Yosilianto, seorang laki-laki berusia 22 tahun yang tercatat sebagai warga Malang, Jawa Timur. Identifikasi terhadap Reyner dilakukan melalui catatan sidik jari. Data tersebut dicocokkan dengan informasi ante mortem yang tersedia, sehingga tim dapat memastikan kesesuaian data korban sebelum meninggal dan hasil pemeriksaan jenazah. Keberhasilan ini menjadi bagian penting dalam proses pengenalan korban lainnya yang masih berlangsung.

Di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin, tim DVI terus memeriksa jenazah korban berdasarkan prosedur yang berlaku. Kegiatan tidak dihentikan pada hari libur, termasuk Sabtu dan Minggu, karena proses identifikasi perlu dilakukan secara berkesinambungan. Tim juga terus berkoordinasi dengan keluarga korban untuk mengumpulkan dan memverifikasi data ante mortem, seperti rekam medis, catatan gigi, sidik jari, ciri khusus, serta informasi lain yang relevan. Seluruh data tersebut kemudian dicocokkan dengan data post mortem dari jenazah yang ditemukan. Pencocokan secara teliti diharapkan dapat memastikan identitas korban yang belum teridentifikasi dan membantu keluarga memperoleh kepastian.