Kabupaten Lampung Barat. BMKG Lampung | Hujan es terjadi di sejumlah wilayah Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat, pada Minggu (1/11) sore. Peristiwa itu berlangsung sekitar pukul 15.21 WIB, saat cuaca ekstrem melanda kawasan tersebut. Butiran es berukuran sebesar kelereng turun bersamaan dengan hujan deras, disertai angin kencang dan petir. Kejadian ini menjadi perhatian karena hujan es turun di tengah kondisi cuaca yang tidak biasa.
Dalam peristiwa tersebut, hujan deras dan butiran es turun pada waktu yang sama. Ukurannya disebut menyerupai kelereng, sementara angin kencang dan petir turut menyertai hujan. Perpaduan kondisi itu menggambarkan cuaca ekstrem yang terjadi di Balik Bukit pada sore hari. Informasi mengenai kejadian menyebut sejumlah wilayah di kecamatan tersebut terdampak hujan es, meski rincian lokasi secara spesifik tidak disebutkan.
Waktu kejadian, yakni pukul 15.21 WIB, menunjukkan hujan es berlangsung pada sore hari Minggu. Kondisi cuaca saat itu tidak hanya berupa hujan deras, tetapi juga diiringi hembusan angin kuat dan petir. Butiran es yang turun berukuran sebesar kelereng, sebagaimana dilaporkan dalam keterangan mengenai peristiwa tersebut. Unsur-unsur cuaca itu terjadi bersamaan di sejumlah wilayah Kecamatan Balik Bukit.
Belum ada keterangan dalam informasi yang tersedia mengenai kerusakan maupun korban akibat kejadian tersebut. Karena itu, laporan awal ini berfokus pada waktu dan kondisi saat hujan es berlangsung, tanpa menyimpulkan adanya dampak tertentu. Peristiwa di Lampung Barat tersebut dicatat sebagai hujan es yang terjadi bersama hujan deras, angin kencang, dan petir. Rincian wilayah terdampak maupun perkembangan setelah kejadian belum disampaikan dalam keterangan yang menjadi dasar pemberitaan ini.
Dandim 0422/Lampung Barat Letkol Inf Rizky Kurniawan menyampaikan bahwa sedikitnya enam wilayah di Lampung Barat terdampak hujan es yang mengguyur kawasan Balik Bukit. Wilayah yang disebut meliputi Pekon Watas, Gunungsugih, Padang Dalom, Padang Hanakau, Kelurahan Waymengaku, dan Kelurahan Pasar Liwa. Keterangan tersebut menggambarkan sebaran kejadian yang mencakup sejumlah pekon dan kelurahan, bukan hanya satu titik permukiman.
Hujan es dilaporkan berlangsung sekitar 10–15 menit. Dalam rentang waktu itu, butiran es berjatuhan di halaman rumah dan di jalanan. Kehadiran butiran tersebut menjadi pemandangan yang tidak biasa bagi warga, terutama karena hujan es jarang mereka saksikan secara langsung. Peristiwa terjadi di tengah hujan yang mengguyur wilayah tersebut, sehingga warga dapat melihat butiran es turun dan terkumpul di permukaan terbuka.
Sejumlah warga mengaku terkejut ketika mengetahui hujan yang turun disertai butiran es. Sebagian orang kemudian keluar dari rumah untuk menyaksikan fenomena itu dari dekat. Mereka melihat butiran jatuh di sekitar halaman maupun badan jalan selama hujan es berlangsung. Meski durasinya relatif singkat, kejadian tersebut cukup menarik perhatian warga di lokasi terdampak dan menjadi bahan perbincangan di lingkungan setempat.
Daftar wilayah yang disampaikan Dandim membantu menunjukkan cakupan kejadian di Balik Bukit. Pekon Watas, Gunungsugih, Padang Dalom, serta Padang Hanakau disebut bersama Kelurahan Waymengaku dan Kelurahan Pasar Liwa sebagai lokasi yang terdampak. Dengan demikian, laporan tersebut mencakup enam wilayah yang berbeda. Hujan es yang berlangsung sekitar 10–15 menit itu menyisakan pengalaman tidak biasa bagi warga, yang menyaksikan butiran es berjatuhan di halaman dan jalanan sebelum fenomena tersebut berakhir.
Forecaster on Duty BMKG Lampung, Iqbal Arief Pangestu, menjelaskan bahwa hujan es yang terjadi dipicu oleh pertumbuhan awan cumulonimbus atau CB yang intens. Awan tersebut menjadi tempat berlangsungnya proses yang membuat butiran air membeku sebelum akhirnya jatuh ke permukaan. Dengan demikian, pembentukan hujan es dalam peristiwa ini berkaitan dengan perkembangan awan CB dan proses yang berlangsung di dalamnya. Keterangan BMKG tersebut menerangkan rangkaian terbentuknya butiran es, mulai dari pertumbuhan awan hingga butiran yang telah membeku turun sebagai hujan es.
Di dalam awan cumulonimbus, terdapat arus udara naik yang disebut updraft. Menurut Iqbal, arus naik yang kuat membawa butiran air ke lapisan atmosfer yang suhunya berada di bawah titik beku. Pergerakan butiran air ke lapisan tersebut merupakan bagian penting dari proses yang dijelaskan BMKG. Saat berada di lingkungan bersuhu di bawah titik beku, butiran air mengalami pembekuan. Jadi, prosesnya tidak hanya berupa jatuhnya air dari awan, tetapi mencakup terbawanya butiran air ke lapisan yang memungkinkan butiran tersebut membeku.
Setelah membeku, butiran itu mengalami proses di dalam awan sebelum jatuh ke permukaan. Iqbal menjelaskan bahwa hasil dari rangkaian tersebut adalah butiran es yang turun sebagai hujan es. Penjelasan ini menghubungkan pertumbuhan awan CB yang intens, updraft kuat, terbawanya butiran air ke lapisan bersuhu di bawah titik beku, serta pembekuan dan proses lanjutan di dalam awan. Rangkaian itulah yang menjadi pemicu peristiwa hujan es, menurut keterangan Forecaster on Duty BMKG Lampung. Dengan demikian, hujan es terbentuk melalui proses di dalam awan sebelum butirannya mencapai permukaan.Selain gambaran cuaca yang disampaikan BMKG, beberapa kondisi atmosfer dapat menunjang terbentuknya awan konvektif dengan intensitas kuat. Iqbal menjelaskan bahwa atmosfer yang tidak stabil, ketersediaan uap air, dan faktor lokal merupakan unsur yang dapat mendukung pertumbuhan awan semacam itu. Dalam keadaan atmosfer tidak stabil, udara hangat dan lembap di dekat permukaan berpeluang naik ke lapisan yang lebih tinggi. Jika proses pengangkatan berlangsung dan kondisi lingkungan mendukung, awan dapat berkembang secara vertikal. Namun, faktor-faktor tersebut perlu dipahami sebagai kondisi yang menunjang, bukan sebagai kepastian bahwa masing-masing secara langsung menjadi penyebab kejadian hujan es di Balik Bukit.
Ketersediaan uap air turut berperan dalam pembentukan awan dan hujan. Udara yang mengandung cukup kelembapan dapat memasok bahan bagi pertumbuhan awan, sementara dinamika atmosfer menentukan bagaimana udara bergerak dan berkembang. Bila kelembapan bertemu dengan kondisi yang mendukung pengangkatan udara, proses pembentukan awan konvektif dapat berlangsung lebih aktif. Awan konvektif yang tumbuh kuat berpotensi menghasilkan cuaca signifikan, tetapi karakter dan dampak yang muncul tetap bergantung pada berbagai keadaan saat itu. Karena itu, informasi mengenai kelembapan dan ketidakstabilan atmosfer memberi konteks untuk memahami lingkungan cuaca, bukan penetapan tunggal atas pemicu hujan es.
Faktor lokal, termasuk topografi Lampung Barat, juga dapat memengaruhi pergerakan udara di suatu wilayah. Bentuk permukaan dan ketinggian wilayah dapat berinteraksi dengan aliran udara, sehingga membantu proses pengangkatan pada kondisi tertentu. Interaksi semacam ini dapat menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung perkembangan awan, tetapi pengaruhnya tidak otomatis sama di setiap tempat atau waktu. Dalam konteks peristiwa di Balik Bukit, penjelasan Iqbal menempatkan atmosfer yang tidak stabil, pasokan uap air, serta kondisi lokal sebagai faktor pendukung pertumbuhan awan konvektif berintensitas kuat. Rincian tersebut melengkapi penjelasan BMKG mengenai kondisi yang menunjang kejadian, tanpa menyatakan adanya kepastian sebab tambahan di luar keterangan sumber.
Baca juga: BMKG Perkirakan Awal Musim Hujan 2026/2027 Mundur di Mayoritas Wilayah | Dampak Kebakaran TPA Jatibarang Terhadap Wilayah Sekitar | TNI Salurkan 368.000 Liter Air Bersih untuk Masyarakat Terdampak Karhutla di Kalbar
338 kunjungan