JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026, Timnas Indonesia menutup perjalanan di FIFA ASEAN Cup 2026 dengan pencapaian tertinggi. Skuad Garuda berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Thailand pada pertandingan final yang berlangsung sengit. Kemenangan tersebut menjadi penegasan atas konsistensi Indonesia sepanjang turnamen, sekaligus menghadirkan trofi penting bagi sepak bola nasional. Para pemain, staf pelatih, dan pendukung pun merayakan keberhasilan itu setelah perjuangan panjang dari fase awal hingga laga penentuan.
Namun, di balik keberhasilan mengangkat trofi, terdapat sisi lain dari perjalanan skuad Indonesia yang menarik perhatian. Empat pemain tidak memperoleh kesempatan tampil sama sekali selama turnamen berlangsung. Mereka memang tetap tercantum dalam daftar pemain dan berada di bangku cadangan, tetapi tidak pernah masuk lapangan, baik sebagai starter maupun pemain pengganti. Dengan demikian, keempatnya menuntaskan FIFA ASEAN Cup 2026 tanpa mengoleksi satu menit bermain.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari keputusan John Herdman yang cenderung mempertahankan susunan pemain utama. Pelatih Timnas Indonesia itu jarang melakukan rotasi, terutama ketika pertandingan menuntut hasil maksimal atau menghadapi lawan dengan kualitas seimbang. Pilihan tersebut membantu menjaga stabilitas permainan, tetapi pada saat yang sama membuat sejumlah pemain pelapis harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan peluang.
Persaingan di setiap lini juga berlangsung ketat. Pemain yang tampil sejak awal mampu menjalankan peran sesuai rencana, sedangkan para pengganti harus bersaing dengan rekan yang memiliki performa konsisten. Situasi ini membuat empat pemain tersebut belum dapat memberikan kontribusi langsung di atas lapangan, meskipun mereka tetap menjadi bagian dari rombongan juara.
Tidak mendapatkan menit bermain tentu menjadi pengalaman yang berbeda bagi masing-masing pemain. Meski demikian, keberadaan mereka tetap penting untuk menjaga kedalaman skuad, menghadirkan persaingan dalam latihan, dan mendukung rekan-rekannya selama turnamen. Keberhasilan Indonesia menjuarai kompetisi ini menunjukkan hasil kolektif seluruh tim, termasuk para pemain yang tidak tampil dalam pertandingan.
Persaingan di posisi penjaga gawang menjadi salah satu alasan Nadeo Argawinata tidak memperoleh menit bermain pada FIFA ASEAN Cup 2026. Kiper Persija Jakarta tersebut harus menerima keputusan untuk memulai turnamen dari bangku cadangan karena pelatih John Herdman lebih mempercayakan Maarten Paes sebagai pilihan utama dalam dua pertandingan pertama. Situasi ini membuat Nadeo belum memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya di lapangan, meskipun ia tetap menjadi bagian penting dari skuad Timnas Indonesia.
Maarten Paes tampil dalam pertandingan menghadapi Singapura dan Malaysia. Keputusan Herdman terbukti berjalan baik dari sisi hasil pertahanan, sebab Indonesia mampu mencatatkan clean sheet pada kedua laga tersebut. Skuad Garuda mengalahkan Singapura dengan skor 2-0, kemudian bermain imbang tanpa gol, 0-0, saat melawan Malaysia. Catatan tersebut membuat posisi Paes terlihat semakin kuat sekaligus memperkecil peluang Nadeo untuk masuk menggantikan rekannya di tengah rangkaian pertandingan.
Memasuki dua pertandingan berikutnya, Herdman kembali melakukan perubahan dengan memberikan kepercayaan kepada Emil Audero. Namun, pergantian tersebut tidak serta-merta membuka ruang bagi Nadeo. Audero tetap dipercaya mengawal gawang Indonesia, termasuk ketika tim melanjutkan perjuangan hingga pertandingan final. Dengan demikian, tiga penjaga gawang memiliki peran yang berbeda dalam turnamen, tetapi Nadeo menjadi pemain yang tidak mendapatkan kesempatan tampil sama sekali.
Bagi Nadeo, keputusan tersebut tentu menjadi pengalaman yang tidak mudah, terutama karena ia datang sebagai kiper berpengalaman yang sebelumnya kerap menjadi pilihan Timnas Indonesia. Meski demikian, persaingan sehat di bawah mistar menunjukkan bahwa Herdman memiliki beberapa opsi berkualitas. Nadeo tetap dituntut menjaga kesiapan, sebab peluang bermain dapat muncul sewaktu-waktu pada agenda internasional berikutnya. Tidak tampil di turnamen ini bukan berarti perannya berkurang, melainkan mencerminkan ketatnya kompetisi untuk mendapatkan posisi utama.
Lini belakang Timnas Indonesia tampil dengan skema tiga bek sejajar yang nyaris tidak mengalami perubahan sepanjang FIFA ASEAN Cup 2026. Pelatih mempercayakan Kevin Diks, Elkan Baggott, dan Justin Hubner untuk mengisi barisan pertahanan dalam seluruh pertandingan. Ketiganya selalu menjadi starter pada empat laga yang dijalani skuad Garuda di turnamen tersebut. Konsistensi susunan ini menunjukkan bahwa trio bek utama memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan permainan, baik ketika Indonesia membangun serangan dari belakang maupun saat menghadapi tekanan lawan.
Stabilnya komposisi itu berdampak langsung terhadap peluang Jordi Amat. Bek yang juga memperkuat Persija Jakarta tersebut harus menerima kenyataan tidak memperoleh menit bermain sama sekali selama turnamen. Pengalamannya memang menjadi salah satu modal penting di sektor pertahanan, tetapi persaingan di posisi bek tengah berlangsung ketat. Karena Diks, Baggott, dan Hubner terus dipilih sebagai starter, ruang bagi Jordi untuk tampil tidak kunjung terbuka hingga pertandingan terakhir. Situasi tersebut menjadikannya salah satu pemain senior yang tidak mendapatkan kesempatan merumput bersama Timnas Indonesia pada FIFA ASEAN Cup 2026.
Nasib serupa dialami Dion Markx, meskipun situasinya turut dipengaruhi status dan pengalaman internasionalnya. Bek muda Persita Tangerang itu berstatus pemain pinjaman dari Persib Bandung dan menjadi bek termuda yang dipanggil ke skuad Garuda. Pada pemanggilan pertamanya untuk timnas senior di turnamen ini, Dion hanya menghuni bangku cadangan. Ia belum menjalani debut bersama timnas senior karena stabilnya trio bek utama membuat pergantian di lini belakang berlangsung terbatas. Bagi Dion, pemanggilan tersebut tetap menjadi pengalaman berharga untuk memahami tuntutan level internasional. Kesempatan mengamati langsung pola permainan dan persaingan internal dapat menjadi bekal penting untuk perkembangan kariernya, sekaligus membuka peluang tampil pada agenda Timnas Indonesia berikutnya.
Rizky Eka Pratama menjadi pemain keempat Timnas Indonesia yang menutup FIFA ASEAN Cup 2026 tanpa mencatatkan menit bermain. Winger PSM Makassar tersebut harus menerima kenyataan bahwa persaingan di sektor sayap berlangsung sangat ketat sepanjang turnamen. Meski masuk dalam rombongan skuad, Rizky belum mampu mendapatkan kepercayaan untuk tampil dalam pertandingan resmi yang dijalani Indonesia.
Pelatih John Herdman lebih sering mengandalkan Ragnar Oratmangoen, Ole Romeny, dan Luke Vickery sebagai pilihan utama di area sayap. Ketiganya dinilai mampu memenuhi kebutuhan permainan tim, baik melalui kecepatan, kemampuan membawa bola, maupun kontribusi dalam membangun serangan. Pola pilihan tersebut membuat peluang Rizky untuk masuk ke lapangan semakin terbatas, terutama ketika para pemain utama tetap dianggap mampu menjalankan instruksi pelatih dengan baik.
Situasi serupa juga terlihat ketika Herdman melakukan pergantian pemain. Pelatih asal Inggris itu cenderung kembali memilih nama-nama yang sudah menjadi bagian dari rencana utamanya, sehingga ruang bagi pemain lain semakin kecil. Egy Maulana Vikri dan Rayhan Hannan turut menjadi opsi pengganti di sektor depan, meski keduanya juga hanya memperoleh menit bermain yang minim. Kehadiran beberapa pemain dengan pengalaman serta peran yang lebih jelas dalam skema tim membuat Rizky harus menunggu kesempatan yang tidak kunjung datang.
Bagi Rizky, turnamen ini menjadi pengalaman penting untuk mengevaluasi posisinya dalam persaingan skuad nasional. Ia perlu meningkatkan konsistensi performa di level klub sekaligus menunjukkan kualitas yang dapat menarik perhatian staf pelatih. Persaingan ketat di sektor sayap dan minimnya rotasi membuat Rizky Eka Pratama menjadi salah satu dari empat pemain Indonesia yang tidak diturunkan sepanjang FIFA ASEAN Cup 2026.
