KOTA MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) membuka ruang bagi mahasiswa dan generasi muda untuk mengembangkan gagasan bisnis berbasis komoditas perkebunan Indonesia melalui The Plantationpreneurs Festival 2026. Program ini dirancang sebagai wadah untuk mempertemukan ide, inovasi, serta potensi usaha yang dapat menjawab kebutuhan industri sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Mahasiswa didorong tidak hanya memahami perkebunan sebagai sektor produksi, tetapi juga melihat peluang usaha yang luas dari pengolahan hingga pemasaran produk.
Penyelenggaraan festival tersebut menjadi bagian dari upaya BPDP memperkuat ekosistem kewirausahaan di sektor perkebunan. Dukungan terhadap calon pelaku usaha muda diperlukan agar muncul lebih banyak inovasi yang mampu menghubungkan potensi komoditas dengan perkembangan pasar, teknologi, dan kebutuhan konsumen. Melalui ruang pembelajaran, pertukaran gagasan, serta pengembangan jejaring, peserta diharapkan dapat mengubah ide awal menjadi model bisnis yang memiliki prospek dan dampak nyata.
Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, Pangihutan Siagian, menyampaikan bahwa fokus pengembangan dalam program ini mencakup komoditas kelapa sawit, kelapa, dan kakao. Ketiga komoditas tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi, sehingga tidak berhenti pada penjualan bahan mentah. Pengolahan lanjutan dapat menghasilkan beragam produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi, membuka pasar baru, serta memperluas kesempatan kerja dan kemitraan di sepanjang rantai pasok.
Selain hilirisasi, peluang tersebut dapat diperkuat melalui inovasi produk, pemanfaatan teknologi, dan penerapan model bisnis kreatif. Mahasiswa memiliki posisi strategis karena mampu membawa perspektif baru, memahami perkembangan digital, serta merancang pendekatan yang lebih adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen. Keterlibatan mereka dipandang penting untuk membangun masa depan sektor perkebunan yang inovatif dan berkelanjutan. Dengan dukungan ekosistem yang tepat, generasi muda dapat berperan sebagai penggerak transformasi, baik melalui usaha rintisan, pengembangan produk lokal, maupun solusi teknologi bagi pelaku perkebunan.
Program yang diselenggarakan BPDP tidak ditempatkan semata-mata sebagai ajang perlombaan untuk menentukan pemenang. Berdasarkan penjelasan Pangihutan, kegiatan ini dirancang sebagai rangkaian pembinaan yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan gagasan secara bertahap. Peserta dapat menggali potensi produk turunan dari komoditas perkebunan, kemudian mengolah gagasan tersebut agar memiliki arah pengembangan yang lebih jelas. Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya dituntut menyampaikan ide, tetapi juga diajak memahami proses yang diperlukan untuk menjadikannya relevan dan berpeluang dikembangkan.
Rangkaian pembinaan tersebut juga mendorong peserta menyesuaikan gagasan dengan kebutuhan pasar. Masukan yang diperoleh selama program dapat membantu mahasiswa menilai kembali keunggulan, kelayakan, serta potensi pengembangan ide yang mereka ajukan. Proses ini memberi ruang untuk memperbaiki konsep berdasarkan tanggapan yang diterima, sekaligus menguji sejauh mana gagasan tersebut dapat menjawab kebutuhan dan memiliki prospek sebagai usaha. Dengan demikian, festival berfungsi sebagai sarana belajar yang mempertemukan kreativitas mahasiswa dengan pertimbangan bisnis secara lebih terarah.
Selain memperkuat gagasan, program ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk membangun jejaring dengan pihak-pihak yang dapat mendukung pengembangan usaha. Interaksi dan pertukaran pandangan selama kegiatan menjadi bagian penting dalam memperluas wawasan serta memahami tantangan pengembangan komoditas perkebunan. Harapannya, mahasiswa mampu melihat komoditas tersebut tidak hanya sebagai bahan dasar, melainkan juga sebagai sumber nilai tambah dan peluang usaha. Festival ini pada akhirnya diharapkan menjadi proses pengembangan kapasitas, tempat peserta belajar, menerima masukan, membangun koneksi, dan menguji potensi bisnis, bukan sekadar berkompetisi untuk memperoleh penghargaan.
Keberhasilan program yang diluncurkan pada 28 September 2026 membutuhkan kolaborasi yang kuat BPDP dan perguruan tinggi. Kampus memiliki posisi strategis untuk menjadi mitra kelembagaan dalam membuka ruang bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan bisnis berbasis komoditas perkebunan. Melalui lingkungan akademik, mahasiswa dapat memperoleh dukungan untuk mengolah gagasan, mengenali peluang, serta mengembangkan pendekatan yang kreatif dan inovatif terhadap potensi komoditas perkebunan.
Keterlibatan perguruan tinggi juga penting untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan mahasiswa secara lebih terarah. Kampus dapat berperan dalam menyediakan ekosistem pembelajaran, pendampingan, serta akses terhadap pengetahuan yang relevan dengan pengembangan usaha. Dukungan tersebut diharapkan membantu mahasiswa mengeksplorasi ide bisnis berdasarkan kebutuhan pasar, potensi daerah, dan pemanfaatan komoditas perkebunan secara berkelanjutan. Dengan demikian, partisipasi mahasiswa dalam program dapat didukung melalui proses akademik dan kelembagaan yang sesuai.
Pangihutan berharap dosen, pembimbing, serta pengelola kegiatan kewirausahaan di masing-masing perguruan tinggi mendorong mahasiswa untuk mengikuti program secara aktif. Para pendamping juga diharapkan memberikan arahan selama mahasiswa mengembangkan ide dan menggali potensi yang dimiliki. Peran tersebut mencakup penguatan gagasan, pemberian masukan, serta pendampingan yang diperlukan agar mahasiswa dapat menyusun rencana usaha dengan lebih matang. Dukungan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam menciptakan ruang tumbuh bagi kreativitas, inovasi, dan inisiatif kewirausahaan mahasiswa melalui program BPDP.
Program yang disiapkan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) membuka tahapan awal melalui penjaringan proposal usaha. Menurut Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, proposal tersebut ditujukan kepada mahasiswa yang memiliki gagasan bisnis berbasis komoditas perkebunan. Penjaringan akan menyasar mahasiswa dari 30 perguruan tinggi yang berada di Makassar, Medan, dan Jakarta. Langkah ini diharapkan dapat menemukan ide usaha potensial sejak lingkungan akademik.
Setelah seluruh proposal terkumpul, peserta akan mengikuti proses seleksi atau penjaringan untuk menentukan gagasan yang paling relevan dan memiliki peluang dikembangkan. Peserta yang terpilih kemudian memperoleh kesempatan mengikuti inkubasi serta pendalaman bisnis. Tahap tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk memperkuat konsep usaha, memahami kebutuhan pasar, menyusun strategi pengembangan, dan meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam mengelola bisnis berbasis komoditas perkebunan secara berkelanjutan.
Pada tahap puncak, BPDP akan menyelenggarakan festival yang menghadirkan peserta terpilih beserta produk yang telah dihasilkan selama program. Festival itu berfungsi sebagai sarana promosi sekaligus ruang untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat dan calon mitra. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman memasarkan produk, membangun jejaring, serta mengembangkan usahanya secara lebih luas pada masa mendatang. Produk perkebunan diharapkan tidak berhenti sebagai hasil produksi primer.
Helmi menegaskan bahwa sektor perkebunan memiliki ruang pengembangan yang besar bagi anak muda. Tantangannya bukan hanya menghasilkan komoditas, melainkan menciptakan nilai tambah melalui kreativitas, pemanfaatan teknologi, penguatan branding, dan penerapan model bisnis yang inovatif. Karena itu, BPDP berharap program ini dapat melahirkan wirausahawan muda Indonesia yang mampu melihat peluang, mengolah potensi perkebunan, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan usaha dan ekonomi nasional.

