Jakarta | Hingga kini, belum ada cara yang terbukti secara ilmiah untuk mengatur agar seorang anak lahir dengan jenis kelamin yang diinginkan. Hal tersebut disampaikan oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta, Muhammad Fadli. Dengan demikian, berbagai harapan atau pilihan pribadi orang tua perlu dibedakan dari bukti medis: keinginan untuk memiliki anak laki-laki atau perempuan tertentu tidak berarti jenis kelamin bayi dapat ditentukan melalui cara yang telah terbukti.
Sikap keluarga terhadap jenis kelamin anak dapat berbeda-beda. Sebagian orang tua menerima apa pun jenis kelamin anak yang akan lahir dan menantikan kehadiran bayi tanpa preferensi khusus. Sebagian lainnya mungkin memiliki harapan tertentu, misalnya ingin memiliki anak laki-laki atau perempuan. Harapan seperti ini dapat muncul dalam berbagai situasi keluarga, tetapi tetap merupakan keinginan, bukan jaminan bahwa hasil kehamilan dapat diatur.
Dalam konteks yang dibahas, keinginan tersebut kadang muncul setelah anak pertama lahir dengan jenis kelamin tertentu. Orang tua dapat berharap anak berikutnya memiliki jenis kelamin berbeda, misalnya agar keluarga mempunyai anak laki-laki sekaligus perempuan. Ada pula latar budaya yang membuat anak laki-laki diharapkan meneruskan garis keturunan. Pandangan semacam itu dapat memengaruhi harapan keluarga, meskipun tidak mengubah batas pengetahuan ilmiah mengenai penentuan jenis kelamin.
Penting untuk memahami bahwa harapan keluarga dan kemampuan medis adalah dua hal yang berbeda. Informasi mengenai kromosom maupun metode kehamilan sebaiknya dipahami berdasarkan penjelasan dokter dan bukti ilmiah, bukan klaim yang menjanjikan hasil tertentu. Sampai saat ini, menurut Fadli, belum terdapat cara yang dapat dipastikan secara ilmiah untuk memilih jenis kelamin anak. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menganggap suatu anjuran atau metode sebagai cara yang terbukti untuk memenuhi keinginan tersebut. Pemahaman ini membantu menjaga keputusan terkait kehamilan tetap berpijak pada informasi yang bertanggung jawab, serta menghindari harapan berlebihan atas hasil yang tidak dapat dipastikan.Menurut Fadli, jenis kelamin biologis anak berkaitan dengan kromosom yang bertemu ketika pembuahan terjadi. Sel telur perempuan membawa kromosom X. Sementara itu, sperma dapat membawa kromosom X atau kromosom Y. Perbedaan kromosom yang dibawa sperma inilah yang berperan dalam penentuan jenis kelamin kromosomal sejak awal perkembangan embrio. Dengan demikian, kontribusi kromosom dari kedua orang tua berlangsung melalui sel reproduksi masing-masing, bukan melalui pilihan sadar yang dapat dilakukan setelah pembuahan.
Dalam satu ejakulasi, sekitar 15 juta sel sperma dapat dilepaskan ke saluran reproduksi perempuan. Sel-sel tersebut bergerak menuju sel telur, tetapi hanya satu sperma yang pada akhirnya berhasil membuahi. Jika sperma yang mencapai sel telur membawa kromosom X, kombinasi kromosom pada umumnya adalah XX. Jika sperma tersebut membawa kromosom Y, kombinasi pada umumnya adalah XY. Sel telur selalu menyumbangkan kromosom X, sedangkan jenis kromosom yang dibawa sperma menjadi bagian yang berbeda dalam proses tersebut.
Fadli menjelaskan mekanisme ini untuk menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak dapat dipastikan melalui upaya sederhana yang dilakukan orang tua, seperti mengatur posisi saat berhubungan, memilih waktu tertentu, atau mengubah pola makan. Cara-cara tersebut tidak dapat mengendalikan sperma mana yang membuahi sel telur. Jutaan sperma memiliki peluang bergerak menuju sel telur, sementara keberhasilan pembuahan bergantung pada berbagai proses biologis. Karena itu, klaim bahwa metode rumahan dapat menjamin anak laki-laki atau perempuan tidak didukung oleh mekanisme kromosom yang dijelaskan tersebut. Jenis kelamin kromosomal ditentukan ketika sel sperma dan sel telur menyatu, bukan melalui tindakan sederhana yang memberi kepastian kepada pasangan. Penjelasan ini juga perlu dipahami sebagai gambaran umum: perkembangan biologis manusia dapat memiliki variasi, sehingga kromosom bukan satu-satunya aspek yang menggambarkan seluruh karakteristik biologis seseorang. Namun, untuk memahami dasar penentuan jenis kelamin saat pembuahan, peran kromosom X dari sel telur dan kromosom X atau Y dari sperma merupakan penjelasan utamanya. Inilah sebabnya orang tua tidak dapat memilih hasil tersebut secara pasti dengan cara alami yang sederhana.
Berbagai saran mengenai cara mendapatkan anak dengan jenis kelamin tertentu sering beredar, mulai dari mengonsumsi makanan khusus hingga mengatur waktu berhubungan badan. Namun, Fadli menyatakan bahwa cara-cara tersebut tidak terbukti dapat menentukan apakah anak yang dikandung akan berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Keterangan itu disampaikan saat dihubungi pada Kamis (29/10), sesuai informasi dalam sumber. Dengan demikian, pasangan sebaiknya tidak menganggap perubahan pola makan atau pemilihan waktu tertentu sebagai metode yang dapat menjamin jenis kelamin anak.
Fadli juga menjelaskan bahwa urutan ejakulasi tidak terbukti berpengaruh dalam menentukan jenis kelamin. Anggapan bahwa ejakulasi pertama atau berikutnya memiliki peluang berbeda untuk menghasilkan anak laki-laki maupun perempuan tidak didukung oleh bukti yang disampaikan. Sejumlah klaim populer mungkin terdengar meyakinkan karena mengaitkan kebiasaan pasangan dengan peluang kehamilan, tetapi hal itu tidak sama dengan kemampuan untuk memilih jenis kelamin. Perlu dibedakan saran yang beredar dan metode yang terbukti secara ilmiah. Tanpa bukti yang memadai, makanan, waktu berhubungan, maupun urutan ejakulasi tidak dapat dijadikan dasar untuk merencanakan jenis kelamin anak.
Metode inseminasi swim up pernah diteliti dalam kaitannya dengan pemilihan sperma. Fadli menerangkan bahwa metode tersebut memungkinkan pemilihan sperma berkualitas untuk membuahi sel telur. Akan tetapi, hal itu tidak berarti swim up terbukti dapat menghasilkan anak dengan jenis kelamin sesuai keinginan. Pemilihan sperma berdasarkan kualitas dan penentuan jenis kelamin merupakan hal yang berbeda; keterangan tentang kemampuan memilih sperma tidak dapat disamakan dengan jaminan memilih anak laki-laki atau perempuan. Karena itu, metode tersebut tidak sepatutnya dipahami sebagai cara yang sudah terbukti untuk mengatur jenis kelamin kehamilan. Penjelasan Fadli menegaskan batas informasi yang tersedia: metode ini berkaitan dengan pemilihan sperma berkualitas, tetapi tidak terbukti memenuhi keinginan pasangan mengenai jenis kelamin anak. Pasangan yang mempertimbangkan pilihan kehamilan dapat membicarakan informasi medis yang relevan dengan tenaga kesehatan, tanpa mengandalkan klaim yang belum terbukti.Fadli menjelaskan bahwa pada program fertilisasi in vitro (IVF), atau bayi tabung, pembuahan terjadi di luar rahim. Sel telur diambil dari tubuh pasien dan dipertemukan dengan sperma di laboratorium. Sebagai ilustrasi, jika tersedia lima sel telur dan lima sperma berkualitas baik, sel-sel tersebut dapat diproses hingga terbentuk embrio. Jumlah embrio yang dihasilkan tidak selalu sama dengan jumlah sel telur awal, sebab tidak setiap sel berhasil dibuahi atau berkembang. Setelah terbentuk, embrio dinilai sebelum dipertimbangkan untuk ditanamkan ke rahim. Proses ini membuka kesempatan pemeriksaan, tetapi bukan sarana untuk mengubah susunan kromosom yang sudah dimiliki embrio.
Sebelum embrio ditanamkan, dokter dapat menawarkan pemeriksaan genetik praimplantasi, atau preimplantation genetic testing (PGT), untuk mengenali kromosom pada masing-masing embrio. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan apakah embrio memiliki kromosom XX atau XY, bersama informasi genetik tertentu yang diperiksa sesuai indikasi medis. PGT membaca karakteristik yang ada; pemeriksaan ini tidak mengedit atau mengganti kromosom setelah pembuahan. Maka, dari lima embrio yang terbentuk, hasilnya bisa seluruhnya menunjukkan kromosom XX, seluruhnya XY, atau berupa campuran keduanya. Komposisi itu bergantung pada embrio yang terbentuk dan tidak dapat ditentukan sesudahnya. Pemeriksaan dapat memberi informasi untuk membantu keputusan klinis, bukan menjamin tersedianya embrio dengan jenis kelamin tertentu.
Pemilihan.
Baca juga: Keributan di Pasar Buah Surabaya: Penjelasan Saksi Sidang






