Kabupaten Manokwari | REMAJA di kawasan transmigrasi Prafi, di Kabupaten Manokwari, Papua Barat kini punya tempat bercerita saat menghadapi masalah, yaitu teman sekolahnya sendiri. Tim 4 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) melatih siswa di tiga sekolah Distrik Prafi untuk menjadi konselor sebaya, yaitu siswa yang dibekali kemampuan mengenali masalah temannya dan menjadi jembatan sebelum masalah itu sampai ke guru atau puskesmas.
Data lain dalam laporan menunjukkan Manfaat itu dirasakan langsung oleh Sadiqah Adzana Islami, siswa kelas 9C SMP Negeri 8 Prafi yang kini jadi kader konselor sebaya di sekolahnya. Festival Transmigrasi Rempang Bakal Digelar Berkala "Saya mendapatkan banyak materi dari kakak-kakaknya, tentang mengenali emosi, terus berpikir sebelum bertindak," ujar Sadiqah Senin (5/10/2026) lalu. Saya akan menyusun program, mungkin bersama teman-teman saya," ujar Sadiqah Guru SMP Negeri 8 Prafi, Riyanto, menilai pelatihan ini menjawab tantangan pergaulan remaja yang menurutnya sudah melebihi batas wajar. Kementrans dan UI Dokumentasikan 5 Sub-Suku Dayak demi Pengakuan Masyarakat Adat "Kami bersyukur teman-teman dari Tim Patriot boleh berkunjung ke sekolah kami untuk lebih memfasilitasi, bagaimana proses selanjutnya terkait pergaulan yang dihadapi oleh remaja sekarang," katanya. Program ini sangat bermanfaat untuk sekolah kami, khususnya bagi siswa-siswa kami, karena sangat membantu untuk hal-hal yang positif, bagaimana kita membina anak-anak ke depan," tambahnya pada Senin (05/10/2026).
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak telah mencapai puluhan ribu. Satu pertanyaan diketik, jawaban muncul. Jika belum paham, siswa dapat meminta penjelasan lebih sederhana, contoh berbeda, bahkan sudut pandang lain. Pelatihan ini menyasar remaja karena lingkungan transmigrasi membuat banyak dari mereka mudah kurang percaya diri, padahal ke depan merekalah yang diharapkan jadi penggerak daerahnya sendiri. Ia mengaku sudah merasa siap menjalankan perannya.
Ia juga menambahkan harapannya agar teman-teman remaja di Prafi bisa mengendalikan emosi dan berpikir dulu sebelum bertindak. Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair), Prof. Endang Retno Surjaningrum, menjelaskan, pelatihan ini berangkat dari temuan di lapangan bahwa remaja di kawasan transmigrasi gampang memiliki rasa percaya diri yang rendah. Siswa diajarkan mengenali tanda-tanda teman yang butuh bantuan, cara mendekati mereka, hingga keterampilan membangun rasa percaya diri dan berpikir kritis. Kami harapkan generasi muda ini nanti yang akan mempunyai daya kreatif untuk membangun wilayahnya," ujarnya Jumat (30/09/2026). Kegiatan dirancang dengan bahasa yang positif, bukan berupa larangan. Dengan begitu siswa diharapkan berubah karena sadar sendiri, bukan karena takut dimarahi. Setelah pelatihan, ketiga sekolah kini sudah membentuk organisasi konselor sebaya sendiri, lengkap dengan guru pendamping, dan mulai melatih siswa lain yang belum sempat ikut. Pekan depan, program berlanjut dengan sosialisasi untuk orang tua agar dukungan di rumah dan di sekolah berjalan beriringan. Langkah ini sejalan dengan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap penguatan karakter dan mental anak-anak Indonesia. Yang penting hatimu teguh, hati kita baik. Kalau kita diejek, kita balas dengan sopan santun, semakin dihina, semakin kau teguh, semakin berani, semakin sopan," kata Presiden Prabowo saat meninjau Sekolah Rakyat di Tabanan, Bali, Minggu (7/06/2026) lalu. Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan generasi muda adalah kunci pembangunan ke depan. Generasi muda terutama, yang diharapkan berada di depan karena Indonesia membutuhkan tenaga dan pemikiran terbaik kita," kata Menko AHY dalam Patriot Move 2026 di Jakarta, Minggu (17/05/2026) lalu. Iftitah Sulaiman Suryanagara turut berpesan agar latar belakang tidak menghalangi anak muda untuk percaya diri. Jangan pernah merasa minder karena berasal dari keluarga sederhana. Yang menentukan adalah kerja keras, karakter, dan kemauan untuk terus belajar," ujar Menteri Iftitah, Jakarta, Rabu (1/07/2026) lalu.
Baca juga: Tantangan Pendidikan di Riung Barat: Memanfaatkan Bahasa Ibu dalam Belajar

