Akses Air untuk Petani: Program Irigasi Pupuk Indonesia Menjangkau Lima Daerah

Akses Air untuk Petani: Program Irigasi Pupuk Indonesia Menjangkau Lima Daerah

Yogyakarta | PT Pupuk Indonesia (Persero) bersama Rabu Biru Foundation meresmikan Program Mata Air Indonesia di Kelurahan Mertelu, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, pada Sabtu, 24 Oktober. Program ini dirancang untuk membantu petani di wilayah yang mengandalkan lahan tadah hujan agar memiliki akses air yang lebih baik. Kehadiran inisiatif tersebut menjadi perhatian khusus bagi masyarakat pertanian setempat, sebab ketersediaan air dapat berubah menurut musim dan sangat terbatas ketika kemarau berlangsung. Melalui kerja sama ini, kedua pihak berupaya menghadirkan dukungan yang menjawab kebutuhan dasar petani, sekaligus memperkuat kondisi yang diperlukan agar kegiatan budidaya dapat berjalan lebih berkelanjutan.

Tujuan utama program adalah mendukung petani memperoleh pasokan air, terutama pada musim kemarau ketika hujan tidak dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan lahan. Akses air yang memadai dapat membantu petani menjaga aktivitas pertanian dan mengurangi ketergantungan pada pola cuaca yang tidak menentu. Bagi kawasan tadah hujan seperti Mertelu, ketersediaan sumber air juga berkaitan erat dengan kemampuan mengelola lahan secara konsisten. Program Mata Air Indonesia karena itu menempatkan kebutuhan petani sebagai salah satu fokus, dengan harapan dukungan terhadap akses air dapat memberi manfaat nyata bagi keberlangsungan usaha tani dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa air merupakan unsur penting bagi keberlanjutan pertanian. Menurutnya, penggunaan pupuk maupun potensi lahan tidak akan optimal apabila tidak didukung pasokan air yang memadai. Dengan demikian, upaya membantu petani mengakses air sejalan dengan kebutuhan untuk mendorong praktik pertanian yang lebih produktif dan berkesinambungan. Program ini juga mencerminkan penerapan prinsip penciptaan nilai bersama dalam tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Artinya, kegiatan perusahaan tidak hanya diarahkan untuk memberi dukungan kepada masyarakat, tetapi juga menghubungkan kontribusi sosial dengan kebutuhan nyata di wilayah operasi dan pertanian. Peresmian di Gunungkidul menjadi bagian dari pendekatan tersebut, melalui kolaborasi yang menempatkan akses air sebagai fondasi penting bagi petani dan keberlanjutan sektor pertanian.

Program irigasi Pupuk Indonesia menjangkau lima wilayah yang menghadapi tantangan ketersediaan air untuk pertanian: Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta, Grobogan di Jawa Tengah, Pacitan dan Sampang di Jawa Timur, serta Kupang di Nusa Tenggara Timur. Pemilihan lokasi tersebut mencerminkan kebutuhan petani di kawasan yang rentan mengalami kekeringan atau memiliki akses terbatas terhadap sumber air. Dukungan dirancang untuk membantu pengairan lahan sekaligus memperkuat kemampuan petani mengelola usaha tani secara lebih berkelanjutan.

Infrastruktur yang disediakan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan setiap daerah. Fasilitasnya dapat mencakup sumur bor sebagai sumber air, pompa untuk mengalirkannya, serta panel surya sebagai pendukung operasional pompa. Air kemudian dapat ditampung dalam tangki sebelum disalurkan melalui jaringan pipa menuju lahan pertanian. Rangkaian sarana ini membantu memperluas akses air, terutama ketika curah hujan rendah. Dengan ketersediaan sumber dan jalur distribusi yang lebih dekat ke lahan, petani diharapkan memiliki pilihan pengairan yang lebih terencana selama musim tanam.

Penyediaan infrastruktur disertai pendampingan agar sarana dapat dimanfaatkan secara efektif. Petani memperoleh pelatihan budidaya selama satu musim tanam, termasuk penerapan praktik yang sesuai dengan kondisi setempat. Pendampingan juga mencakup penggunaan varietas unggul yang adaptif terhadap kondisi kering, sehingga pemilihan benih dapat mempertimbangkan keterbatasan air. Selain itu, petani dibekali pengetahuan untuk merawat sumur bor dan menjaga fungsi fasilitas pendukungnya. Materi penanganan pascapanen turut diberikan agar hasil pertanian dapat dikelola dengan baik setelah dipanen.

Pupuk Indonesia bekerja sama dengan Rabu Biru Foundation dalam pelaksanaan program ini. Kolaborasi tersebut berangkat dari pemahaman bahwa pupuk dan air sama-sama penting bagi produktivitas pertanian. Pupuk membantu memenuhi kebutuhan hara tanaman, sementara air mendukung pertumbuhan serta pemanfaatan unsur hara. Karena itu, dukungan pertanian tidak cukup hanya menyediakan satu jenis kebutuhan. Kerja sama berbagai pihak memungkinkan infrastruktur, pengetahuan, dan pendampingan hadir secara saling melengkapi, sehingga petani di lima daerah dapat memperoleh manfaat yang lebih nyata dan mampu mengelola sumber daya secara lebih baik.

Di Mertelu, Gunungkidul, lahan pertanian penerima manfaat menghadapi kondisi alam yang menantang. Sebagian besar merupakan lahan tadah hujan dengan tanah kering, sementara lokasinya berada di kawasan karst yang berbatu. Karakteristik tersebut membatasi ketersediaan air untuk budidaya, terutama saat kemarau berlangsung panjang. Ketika hujan jarang turun, petani dapat kesulitan memenuhi kebutuhan air tanaman dan menjaga kegiatan pertanian tetap berjalan. Karena itu, akses terhadap sumber air yang lebih teratur menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat setempat.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Pupuk Indonesia membangun fasilitas irigasi yang mencakup sumur bor sedalam 103 meter, tandon air beton berkapasitas 20.000 liter, serta jaringan pipa irigasi. Sistem ini dirancang untuk mengairi lahan seluas 28 hektare dan memberi manfaat kepada 93 petani penerima pupuk bersubsidi. Kehadiran sarana tersebut diharapkan memperluas akses petani terhadap air, khususnya pada periode ketika curah hujan tidak mencukupi. Pembangunan infrastruktur air ini juga menjadi bagian dari dukungan bagi kegiatan budidaya di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air.

Secara umum, air dari sumur bor dialirkan menggunakan pompa yang didukung panel surya menuju tangki penampung. Dari tandon, jaringan pipa membantu menyalurkan air ke lahan pertanian sesuai kebutuhan. Dukungan tenaga surya dimanfaatkan untuk menunjang pengoperasian pompa, sedangkan kapasitas tandon berfungsi menampung air sebelum didistribusikan. Melalui susunan fasilitas tersebut, pengelolaan dan penyaluran air diharapkan dapat berlangsung lebih terencana bagi petani penerima manfaat.

Perusahaan berharap fasilitas irigasi di Mertelu dapat membantu menjaga kegiatan budidaya, meningkatkan produktivitas panen, serta mengurangi risiko pertanian akibat keterbatasan air. Harapan tersebut menjadi penting karena kondisi lahan tadah hujan dan kemarau berkepanjangan dapat memengaruhi keberlangsungan penanaman. Dampak fasilitas akan bergantung pada pemanfaatan dan pengelolaan bersama oleh para petani. Dengan akses air yang lebih memadai, petani diharapkan memiliki dukungan tambahan untuk mengatur kebutuhan tanaman dan mempertahankan aktivitas pertanian di lahannya.

Rahmad berharap masyarakat bersama kelompok tani dapat menjaga dan merawat fasilitas yang telah dibangun, mulai dari sumur bor dan pompanisasi hingga jaringan irigasi. Menurutnya, pemeliharaan secara bersama penting agar sarana tersebut tetap berfungsi dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Keterlibatan warga juga diperlukan untuk memastikan fasilitas digunakan secara tertib, dijaga kebersihannya, serta segera dilaporkan apabila mengalami kerusakan. Dengan demikian, akses air tidak hanya membantu petani pada saat ini, tetapi terus mendukung kegiatan pertanian dan kesejahteraan masyarakat di kemudian hari.

Harapan serupa disampaikan Siti Hediati Soeharto, Ketua Komisi IV DPR RI sekaligus Ketua Dewan Pembina Rabu Biru Foundation. Ia berharap bantuan irigasi dapat berguna bagi petani, khususnya ketika menghadapi musim kemarau dan ketersediaan air menjadi terbatas. Fasilitas tersebut diharapkan membantu menjaga keberlangsungan kegiatan tanam, sekaligus mengurangi risiko lahan pertanian kekurangan pasokan air. Siti juga berharap program serupa dapat dihadirkan di daerah lain yang membutuhkan, sehingga semakin banyak kelompok tani memperoleh dukungan untuk menghadapi tantangan pengairan dan menjaga produktivitas pertanian.

Suyoto, salah seorang petani penerima manfaat, menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Ia menilai sumur bor dan sarana pendukungnya menjadi solusi atas kendala kekurangan air yang selama ini dirasakan petani, terutama ketika kemarau berlangsung. Dengan tersedianya akses air yang lebih memadai, petani memiliki peluang lebih baik untuk merawat tanaman dan mengelola lahan.

Baca juga: Peluncuran Program Manasik Haji Nasional 2027 di Madiun | Pemantauan Program Makan Bergizi di Palu | Babinsa Koramil Bakung Bersama Siswa Siswi SMKN 1 Blitar Tanam Pohon Di Monumen Trisula Melalui Program “Bersatu Dengan Alam”