Jakarta | Di Semenanjung Mannar, Sri Lanka, keberadaan proyek turbin angin menjadi sumber keresahan bagi sebagian warga pesisir. Nelayan setempat memprotes pembangunan dan pengoperasian fasilitas tersebut karena mereka menilai perubahan di kawasan itu berjalan bersamaan dengan menyusutnya hasil tangkapan ikan dan meningkatnya risiko banjir saat musim hujan. Keluhan ini mencerminkan kekhawatiran masyarakat yang bergantung pada laut, meski penyebab perubahan hasil tangkapan belum dipastikan secara ilmiah.
Sejumlah nelayan mengatakan tangkapan mereka mulai berkurang sejak turbin angin beroperasi pada 2020. Venkatasamy Kalimuththu, nelayan berusia 65 tahun, termasuk warga yang merasakan perubahan itu. Ia menyebut hasil tangkapannya sekarang jauh lebih sedikit dibandingkan sebelum turbin dipasang. Menurut pengalamannya, kondisi tersebut membuat pekerjaan melaut semakin sulit dan menambah ketidakpastian bagi keluarga yang mengandalkan penghasilan dari perikanan.
Kalimuththu menduga bayangan baling-baling turbin yang terus berputar mungkin membuat ikan menjauh dari perairan dangkal. Ia menyampaikan dugaan itu berdasarkan apa yang ia amati dan alami, tetapi mengakui tidak mempunyai bukti untuk memastikan bahwa turbin menyebabkan ikan berpindah atau hasil tangkapan menurun. Karena itu, keterkaitan operasi turbin dan berkurangnya ikan masih merupakan kekhawatiran warga, bukan hubungan sebab-akibat yang telah terbukti.
Keluhan nelayan juga muncul dalam konteks perubahan lingkungan yang lebih luas di Mannar. Warga menyoroti banjir pada musim hujan serta dampak yang mereka khawatirkan dari pembangunan di sekitar kawasan pesisir. Untuk memahami persoalan tersebut, diperlukan penilaian yang menguji kondisi perikanan dari waktu ke waktu, membandingkan data tangkapan, dan menelaah faktor lain yang dapat memengaruhi jumlah ikan, seperti cuaca, perubahan habitat, serta tekanan penangkapan.
Bagi masyarakat setempat, pengalaman sehari-hari di laut menjadi alasan penting untuk meminta perhatian dan penjelasan. Namun, pengamatan nelayan perlu dipertimbangkan bersama penelitian independen agar keputusan mengenai proyek dan perlindungan mata pencaharian didasarkan pada bukti yang memadai. Dialog dengan warga, pemantauan transparan, dan penyelidikan dampak lingkungan dapat membantu menjawab apakah turbin berperan, atau apakah penurunan tangkapan berkaitan dengan faktor lain yang terjadi bersamaan.
Keluhan mengenai hasil tangkapan tidak hanya disampaikan oleh satu kelompok nelayan. Sejumlah nelayan lain di sekitar Mannar juga menggambarkan pengalaman serupa: mereka merasa jumlah ikan yang diperoleh saat melaut telah berkurang. Bagi keluarga yang menggantungkan penghasilan pada penangkapan ikan, perubahan hasil tersebut dapat menambah ketidakpastian pendapatan dan menyulitkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Namun, penurunan tangkapan ini merupakan pengalaman dan penilaian yang disampaikan warga; informasi yang tersedia tidak memastikan penyebabnya secara independen maupun menetapkan hubungan langsung dengan turbin angin.
Nelayan juga menyebut persaingan dengan kapal pukat asal India sebagai tekanan tambahan. Menurut mereka, aktivitas kapal-kapal tersebut turut memengaruhi kesempatan memperoleh hasil di wilayah penangkapan yang menjadi tumpuan masyarakat setempat. Dengan demikian, keluhan tentang mata pencaharian muncul dalam konteks beragam tekanan yang dirasakan nelayan, bukan semata-mata persoalan keberadaan proyek energi. Kesaksian warga menggambarkan kekhawatiran mereka, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan skala atau penyebab perubahan hasil tangkapan.
Di darat, warga menyampaikan keberatan terhadap infrastruktur yang dibangun di jalan akses menuju turbin. Mereka menuding fondasi beton dan parit di sepanjang akses tersebut menghambat aliran air hujan menuju laut. Menurut keterangan warga, ketika hujan turun pada musim penghujan, air tertahan dan rumah-rumah mereka kerap terendam. Keluhan ini berkaitan dengan dampak yang mereka rasakan di sekitar permukiman, sementara belum ada konfirmasi independen dalam bahan yang tersedia mengenai fungsi drainase ataupun penyebab banjir.
Warga turut mengeluhkan kondisi sumur yang, menurut pengalaman mereka, tidak lagi menyediakan air minum yang layak. Kekhawatiran mengenai air bersih menambah beban bagi rumah tangga, terutama apabila mereka harus mencari sumber lain untuk memenuhi kebutuhan minum. Seperti halnya dugaan mengenai banjir dan penurunan tangkapan, pernyataan tentang kualitas air sumur perlu dipahami sebagai keluhan warga, bukan hasil pengujian yang telah dipastikan secara independen. Pencatatan pengalaman masyarakat penting, tetapi penilaian sebab-akibat memerlukan pemeriksaan tersendiri atas kondisi lingkungan dan infrastruktur.
Di desa tetangga Pesalai, keluhan mengenai kondisi penghidupan nelayan juga muncul di tengah pembahasan proyek turbin angin di Mannar. Para nelayan setempat menghadapi penurunan pendapatan, yang menurut A Stanislas Peries, kepala koperasi nelayan di desa tersebut, terlihat jelas dari perubahan penghasilan harian mereka. Peries menyebut pendapatan yang sebelumnya dapat mencapai 5.000 rupee sehari kini hampir tidak lebih dari 1.000 rupee. Angka itu menggambarkan besarnya penurunan yang dirasakan para nelayan Pesalai.
Keterangan Peries menunjukkan bahwa persoalan pendapatan tidak hanya menjadi perhatian nelayan di satu desa. Di Pesalai, selisih penghasilan harian sebelumnya dan kondisi saat ini menjadi dasar kekhawatiran warga yang bergantung pada kegiatan menangkap ikan. Pendapatan yang kini hampir tidak melampaui 1.000 rupee sehari jauh lebih rendah dibandingkan angka 5.000 rupee yang pernah mereka capai. Peries menyampaikan angka tersebut dalam kapasitasnya sebagai kepala koperasi nelayan setempat.
Menanggapi keluhan warga, Menteri Energi Sri Lanka Anura Karunathilaka mengatakan bahwa pemerintah sedang melakukan studi kelayakan untuk mengurangi banjir. Ia juga menyatakan telah mendengar keluhan masyarakat. Tanggapan tersebut disampaikan ketika kekhawatiran warga mencakup persoalan banjir dan dampaknya terhadap kehidupan setempat. Pemerintah, menurut Karunathilaka, tengah mengkaji langkah yang berkaitan dengan pengurangan banjir, sementara keluhan warga telah sampai kepadanya.
Karunathilaka turut menegaskan bahwa pemerintah berjanji hanya akan melaksanakan proyek-proyek yang sudah disetujui. Pernyataan itu menjadi bagian dari tanggapan pemerintah terhadap keresahan warga, tanpa mengubah komitmen yang disampaikan mengenai pelaksanaan proyek. Dengan demikian, dua hal yang dinyatakan menteri adalah studi kelayakan untuk mengurangi banjir dan janji bahwa hanya proyek yang telah mendapat persetujuan yang akan dilaksanakan. Sementara itu, keterangan Peries mencatat penurunan pendapatan nelayan Pesalai dari sekitar 5.000 rupee menjadi hampir tidak lebih dari 1.000 rupee per hari.
Pemerintah Sri Lanka membekukan sementara proyek turbin angin baru di Mannar sebagai upaya meredakan penolakan warga. Langkah ini muncul setelah masyarakat setempat menyuarakan kekhawatiran mengenai dampak pembangunan terhadap kehidupan sehari-hari, termasuk mata pencaharian nelayan dan lingkungan tempat tinggal. Namun, penghentian sementara proyek baru tidak berarti pemerintah meninggalkan agenda energi bersihnya. Pemerintah tetap mempertahankan sasaran agar 70 persen kebutuhan listrik nasional dipenuhi dari sumber energi terbarukan pada 2030. Dengan demikian, keputusan di Mannar mencerminkan upaya menyeimbangkan target nasional dengan tuntutan masyarakat yang terdampak proyek.
Penangguhan tersebut belum membuat warga merasa persoalan mereka telah ditangani. Pastor S Marcus, kepala Mannar Citizens’ Committee, menilai pemerintah berulang kali menjanjikan langkah mitigasi, tetapi janji itu belum diwujudkan. Bagi warga, komitmen untuk mengurangi dampak tidak cukup apabila belum disertai tindakan nyata dan perlindungan yang dapat dirasakan di lapangan. Mereka masih mempertanyakan bagaimana kekhawatiran terhadap penghidupan serta lingkungan akan dijawab sebelum pembangunan berlanjut. Warga juga telah mengajukan dua pengaduan ke pengadilan, menandakan bahwa keberatan terhadap proyek tidak hanya disampaikan melalui protes, tetapi turut ditempuh lewat jalur hukum.
Situasi ini menempatkan Mannar sebagai tantangan penting bagi ambisi energi bersih Sri Lanka. Pemerintah berupaya memperluas pemanfaatan energi terbarukan, sementara kenaikan biaya bahan bakar dan listrik akibat konflik di Timur Tengah menambah tekanan untuk mencari pasokan energi yang lebih berkelanjutan.






