Kasus ISPA akibat Karhutla Sumsel Tetap Tinggi, Balita Paling Rentan

Kasus ISPA akibat Karhutla Sumsel Tetap Tinggi, Balita Paling Rentan

PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan masih tercatat tinggi sepanjang September 2026. Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah penderita ISPA mencapai 40.455 orang. Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumsel, Ira Primadesa, menyebutkan angka yang sedikit berbeda, yakni 40.555 kasus.

Kedua angka tersebut menunjukkan bahwa gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla masih menjadi perhatian di wilayah Sumatra Selatan. Asap dari kebakaran hutan dan lahan dapat membawa partikel halus serta zat pencemar yang mengiritasi saluran pernapasan. Kondisi ini berpotensi memicu keluhan, seperti batuk, pilek, sesak napas, dan nyeri tenggorokan, terutama pada masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di area terdampak.

Jumlah kasus pada September memang lebih rendah dibandingkan dengan Agustus 2026, ketika tercatat sebanyak 46.020 kasus. Namun, penurunan tersebut dinilai tidak signifikan karena selisihnya masih belum mengubah gambaran umum situasi kesehatan masyarakat. Dengan puluhan ribu kasus yang dilaporkan dalam satu bulan, ISPA tetap berada pada level yang sangat tinggi dan memerlukan pemantauan berkelanjutan.

Perbedaan pencatatan angka data 40.455 kasus dan keterangan 40.555 kasus tetap menjadi bagian dari informasi yang disampaikan mengenai kondisi ISPA di Sumsel. Terlepas dari perbedaan tersebut, jumlah kasus pada September memperlihatkan bahwa dampak karhutla terhadap kesehatan belum sepenuhnya mereda. Upaya pengendalian kebakaran, pemantauan kualitas udara, serta penyampaian informasi perlindungan kesehatan kepada warga menjadi langkah penting selama risiko paparan asap masih berlangsung.

Catatan Dinas Kesehatan Sumatera Selatan menunjukkan bahwa kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla tersebar di sejumlah daerah dengan jumlah yang berbeda. Palembang mencatat jumlah tertinggi, yakni 10.965 kasus. Angka tersebut menjadi catatan utama dalam sebaran kasus yang dihimpun oleh Dinas Kesehatan Sumsel.

Setelah Palembang, Musi Banyuasin tercatat memiliki 5.617 kasus. Selanjutnya, Muara Enim mencatat 3.350 kasus, sedangkan Lahat mencapai 2.420 kasus. Data tersebut menunjukkan adanya catatan kasus di beberapa wilayah Sumatera Selatan, sebagaimana tercantum dalam rekapitulasi Dinas Kesehatan Sumsel.

Daerah lain yang turut tercatat ialah Banyuasin dengan 2.125 kasus. Prabumulih memiliki 1.876 kasus, sementara Lubuklinggau mencatat 1.844 kasus. Ogan Ilir juga tercatat dengan 1.829 kasus. Seluruh angka itu merupakan data kasus yang dihimpun dan dicatat oleh Dinas Kesehatan Sumatera Selatan dalam laporan terkait dampak karhutla.

Selain itu, Ogan Komering Ilir tercatat memiliki 1.844 kasus dan Musi Rawas sebanyak 1.370 kasus. Data tersebut memperlihatkan sebaran kasus ISPA di sejumlah daerah yang masuk dalam catatan Dinas Kesehatan Sumsel. Palembang menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, sedangkan daerah lainnya memiliki angka sebagaimana tercantum dalam sumber data, mulai dari Musi Banyuasin, Muara Enim, Lahat, Banyuasin, Prabumulih, Lubuklinggau, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, hingga Musi Rawas.

Ira Primadesa menyampaikan bahwa balita menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada anak berusia di bawah lima tahun tercatat mencapai 9.671 kasus. Angka tersebut menunjukkan bahwa gangguan pernapasan masih banyak dialami kelompok usia yang membutuhkan perhatian khusus ketika kualitas udara menurun.

Balita memiliki kerentanan lebih tinggi saat terpapar asap, demikian pula warga lanjut usia. Karena itu, perlindungan terhadap kedua kelompok tersebut perlu menjadi perhatian keluarga dan masyarakat. Anak-anak, khususnya yang masih berusia dini, diimbau tidak bermain di luar rumah ketika asap karhutla menyelimuti lingkungan. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi untuk mengurangi paparan yang tidak diperlukan.

Imbauan serupa juga ditujukan kepada perempuan hamil dan kelompok rentan lainnya. Mereka diminta tidak beraktivitas di luar rumah selama kondisi udara masih dipengaruhi asap. Keluarga dapat membantu dengan mengawasi kegiatan anak-anak serta memastikan mereka tetap berada di lingkungan yang lebih terlindungi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko gangguan pernapasan selama kabut asap berlangsung.

Ira juga mengingatkan bahwa penderita asma termasuk kelompok yang sangat rentan ketika terpapar asap. Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan diminta segera memeriksakan diri ke dokter. Pemeriksaan diperlukan agar keluhan yang muncul dapat memperoleh perhatian sesuai kondisi masing-masing. Imbauan ini berlaku terutama bagi balita, anak-anak, perempuan hamil, lanjut usia, penderita asma, serta warga lain yang merasakan gangguan setelah terpapar asap karhutla.

Warga Palembang diimbau membatasi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih memburuk akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kegiatan yang tidak mendesak, termasuk olahraga, bermain, atau berkumpul di ruang terbuka, sebaiknya ditunda. Imbauan ini terutama berlaku pada pagi hingga sore hari, ketika konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat berada di atas 400 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut termasuk kategori berbahaya dan dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, khususnya pada balita, anak-anak, lansia, serta warga dengan asma atau penyakit paru.

Apabila harus berkendara atau menjalankan aktivitas di luar rumah, masyarakat perlu menggunakan masker yang mampu menyaring partikulat halus, seperti masker respirator yang terpasang rapat. Masker biasa dapat memberikan perlindungan terbatas dan perlu digunakan sesuai petunjuk. Warga juga disarankan segera kembali ke dalam rumah setelah urusan selesai, menghindari area dengan asap yang tampak pekat, serta tidak membakar sampah atau menambah sumber polusi lainnya.

Selama berada di rumah, pintu dan jendela sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya asap. Celah yang memungkinkan udara luar masuk dapat diminimalkan, sementara ventilasi dan penyaring udara digunakan secara tepat apabila tersedia. Meski demikian, kewaspadaan tidak boleh berkurang pada malam hari karena kabut asap dilaporkan semakin pekat. Keluhan seperti batuk, sesak napas, nyeri dada, mata perih, atau napas berbunyi perlu segera ditangani di fasilitas kesehatan.

Data stasiun pemantauan Talang Betutu, Palembang, pada Minggu, 4 Oktober 2026, mencatat kadar PM2.5 dalam rentang 160,2 hingga 694,4 mikrogram per meter kubik. Peningkatan partikulat terpantau pada pukul 04.00–09.00 WIB berdasarkan pengukuran dengan metode beta attenuation monitoring. Data tersebut menunjukkan kualitas udara Palembang belum membaik dan masih berada pada level sangat tidak sehat hingga berbahaya.