Tujuh Rumah Petak di Tambora Terbakar, Seluruh Penghuni Berhasil Menyelamatkan Diri

Tujuh Rumah Petak di Tambora Terbakar, Seluruh Penghuni Berhasil Menyelamatkan Diri

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Kebakaran melanda kawasan permukiman padat penduduk di Gang Sawah Lio II, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, pada Jumat siang sekitar pukul 11.15 WIB. Peristiwa tersebut terjadi di lingkungan yang dipenuhi bangunan rumah tinggal dengan jarak berdekatan, sehingga api dengan cepat menyebar dan membesar di hunian warga. Kepadatan permukiman turut membuat kobaran terlihat meluas dalam waktu singkat.

Api menghanguskan sekitar tujuh rumah warga yang berbentuk bangunan petakan semi-permanen. Bangunan-bangunan tersebut menjadi bagian dari deretan hunian di kawasan Gang Sawah Lio II. Material semi-permanen pada rumah diduga membuat api lebih mudah merambat dari satu bagian ke bagian lain, sementara posisi bangunan yang saling berdempetan mempercepat perluasan kebakaran.

Peristiwa ini merupakan kebakaran bangunan rumah tinggal yang berlangsung cepat di tengah kawasan permukiman. Kepulan asap dan kobaran api tampak memenuhi area hunian, memicu kepanikan di warga sekitar. Meski api membesar dan melanda sejumlah rumah petak, seluruh penghuni berhasil menyelamatkan diri dari bangunan yang terbakar. Tidak ada laporan mengenai warga yang terjebak di dalam rumah ketika kebakaran terjadi.

Warga berupaya menjauh dari lokasi untuk menghindari risiko, sementara penanganan kebakaran dilakukan setelah peristiwa diketahui. Kondisi lingkungan yang padat menjadi tantangan tersendiri dalam menghadapi kebakaran, karena akses menuju rumah-rumah warga terbatas dan bangunan berada dalam satu area yang berdekatan. Hingga kejadian tersebut, fokus utama berada pada pengamanan penghuni serta penanganan kobaran agar tidak merambat lebih jauh ke rumah lain di sekitar Gang Sawah Lio II.

Penanganan kebakaran yang melanda tujuh rumah petak di Tambora dilakukan dengan mengerahkan kekuatan besar dari Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Barat. Kepala Seksi Operasi Sudin Gulkarmat Jakarta Barat, Syaiful Kahfi, menyampaikan bahwa petugas mengirimkan 21 unit armada ke lokasi kejadian. Pengerahan tersebut dilakukan untuk mempercepat proses pemadaman sekaligus mencegah api menjalar ke bangunan lain di sekitar area permukiman.

Syaiful menjelaskan, objek yang terbakar merupakan bangunan rumah tinggal. Sebanyak 105 personel diterjunkan untuk menangani kebakaran tersebut. Para petugas bekerja melalui beberapa tahapan, mulai dari penanganan sumber api, pengendalian bara, hingga pemeriksaan terhadap bagian bangunan yang berpotensi masih menyimpan panas. Jumlah armada dan personel yang dikerahkan disesuaikan dengan kondisi lokasi serta kebutuhan operasi di lapangan.

Upaya pemadaman dilakukan secara terkoordinasi agar api dapat segera dikendalikan. Petugas juga memastikan area terdampak dapat diperiksa secara menyeluruh setelah kobaran api berhasil dipadamkan. Langkah ini penting karena bangunan rumah tinggal yang terbakar dapat menyisakan material panas, terutama pada bagian yang tertutup atau sulit dijangkau secara langsung.

Meski api telah berhasil dipadamkan, proses penanganan belum langsung dihentikan. Hingga pukul 14.00 WIB, petugas masih melakukan pendinginan intensif di lokasi. Pendinginan dilakukan untuk memastikan tidak ada material tersisa yang dapat memicu munculnya titik api baru. Pemeriksaan lanjutan tersebut menjadi bagian penting dalam operasi pemadaman, sekaligus memastikan kondisi lokasi benar-benar aman sebelum seluruh armada dan personel meninggalkan area kejadian.

Taufik, warga yang tinggal di wilayah RT 09, menuturkan bahwa api pertama kali terlihat membesar dari arah RT 08. Menurut kesaksiannya, sumber kebakaran berada di sebuah bangunan kontrakan. Saat itu, ia melihat kobaran api berkembang dengan cepat dan mulai menjalar ke bagian bangunan lain di sekitarnya. Kondisi tersebut membuat warga menyadari bahwa kebakaran tidak dapat segera dikendalikan dengan upaya sederhana.

Ketika keluar dari rumah, Taufik melihat asap hitam dan kobaran api sudah membumbung tinggi. Pemandangan itu menunjukkan bahwa api telah membesar sebelum warga sempat melakukan tindakan lebih lanjut. Di tengah situasi tersebut, Taufik juga sempat mendengar satu kali suara ledakan dari arah lokasi kebakaran. Suara itu menambah kepanikan warga, terlebih karena belum diketahui benda atau bagian bangunan apa yang mungkin memicu ledakan tersebut.

Kesaksian lain disampaikan Rizki, yang menggambarkan situasi warga sekitar pukul 11.00 WIB. Ia mengatakan, teriakan yang memperingatkan adanya api besar membuat warga panik. Mendengar peringatan itu, masyarakat segera bergegas keluar dari rumah dan menyelamatkan diri masing-masing. Sebagian warga berupaya menjauh dari titik kebakaran untuk menghindari asap serta kemungkinan meluasnya kobaran api ke bangunan lain. Kepanikan berlangsung ketika warga berusaha memastikan keselamatan anggota keluarga dan mengamankan diri dari area terdampak. Meskipun suasana sempat kacau, para penghuni rumah di sekitar lokasi berhasil menyelamatkan diri. Informasi dari Taufik dan Rizki memberikan gambaran mengenai cepatnya api membesar serta reaksi warga ketika kebakaran mulai diketahui.

Meski kebakaran menghanguskan tujuh rumah petak di Tambora, insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka. Seluruh penghuni yang berada di dalam bangunan berhasil menyelamatkan diri sebelum api membesar dan menjalar ke bagian lain. Mereka dapat keluar tepat waktu sehingga tidak ada warga yang harus menjalani perawatan akibat kejadian ini.

Keselamatan seluruh penghuni menjadi dampak paling penting dalam peristiwa tersebut. Saat mengetahui adanya kebakaran, warga segera meninggalkan rumah masing-masing dan berupaya menjauh dari bangunan yang terbakar. Langkah cepat itu membuat tidak ada orang yang terjebak di dalam petakan, meskipun api berkembang dengan cepat dan mengancam bangunan di sekitarnya.

Namun, keberhasilan warga menyelamatkan diri tidak diikuti dengan terselamatkannya sebagian besar harta benda mereka. Barang-barang yang berada di dalam rumah tidak sempat dibawa keluar karena penghuni harus segera mengutamakan keselamatan. Perabotan, pakaian, dokumen, serta berbagai kebutuhan rumah tangga diduga ikut hangus bersama bangunan yang terbakar.

Kebakaran itu menimbulkan kerugian material bagi para penghuni tujuh rumah petak tersebut. Mereka kehilangan tempat tinggal sekaligus banyak barang pribadi dalam waktu singkat. Setelah api berhasil dikendalikan, perhatian warga dan pihak terkait beralih pada pendataan penghuni, penanganan kebutuhan mendesak, serta upaya membantu keluarga yang terdampak. Walaupun tidak terdapat korban meninggal dunia atau luka-luka, dampak kehilangan tempat tinggal dan harta benda tetap menjadi beban besar bagi para penghuni.