Pasar Smartphone 2026 Berubah: Ponsel Lipat Diproyeksikan Tumbuh Saat Perangkat Konvensional Menurun

Pasar Smartphone 2026 Berubah: Ponsel Lipat Diproyeksikan Tumbuh Saat Perangkat Konvensional Menurun

Jakarta | Industri smartphone global memasuki 2026 dengan prospek yang lebih menantang. Kenaikan harga komponen, termasuk cip, memori, dan sejumlah material pendukung, berpotensi meningkatkan biaya produksi bagi para produsen. Pada saat yang sama, permintaan konsumen diperkirakan melemah karena tekanan ekonomi dan pertimbangan yang semakin matang sebelum membeli perangkat baru. Kombinasi kedua faktor tersebut dapat mengubah dinamika pasar, terutama bagi merek yang mengandalkan penjualan volume besar.

Konsumen diperkirakan menjadi lebih selektif dalam menentukan ponsel pengganti. Perangkat yang ditawarkan dengan harga lebih tinggi akan menghadapi tuntutan nilai yang lebih kuat, baik melalui peningkatan kamera, daya tahan baterai, performa, maupun fitur berbasis kecerdasan buatan. Jika pembaruan yang tersedia dinilai tidak menghadirkan inovasi signifikan dibandingkan model sebelumnya, banyak pengguna kemungkinan memilih mempertahankan perangkat yang sudah dimiliki. Keputusan tersebut dapat menunda pembelian baru dan memperbesar tekanan terhadap penjualan ritel.

Proyeksi pesimistis dari International Data Corporation (IDC) bahkan menyebut pasar smartphone global dapat menyusut hingga 5 persen sepanjang 2026. Kontraksi ini diperkirakan berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga jual rata-rata perangkat, sehingga nilai transaksi belum tentu turun sebesar volume unit yang dikirimkan. Namun, harga yang lebih tinggi juga dapat mempersempit akses konsumen terhadap model baru dan mendorong mereka mencari perangkat kelas menengah atau alternatif dengan masa pakai lebih panjang.

Siklus penggantian ponsel yang semakin panjang menjadi indikator penting dalam membaca arah industri. Pengguna kini cenderung mengganti perangkat ketika baterai, dukungan perangkat lunak, atau kinerja benar-benar tidak lagi memadai, bukan semata-mata karena hadirnya model terbaru. Bagi produsen, kondisi ini menuntut strategi yang lebih cermat dalam menetapkan harga, merancang pembaruan produk, dan meyakinkan konsumen bahwa peningkatan yang ditawarkan memiliki manfaat nyata. Tekanan tersebut juga dapat memperkuat persaingan antarsegmen serta mendorong inovasi yang lebih terukur.

Perkembangan pasar smartphone pada 2026 diperkirakan bergerak dalam dua arah yang berbeda. Berdasarkan proyeksi International Data Corporation (IDC), pengiriman ponsel dengan layar yang tidak dapat dilipat, atau perangkat konvensional, diperkirakan turun 1,4 persen dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan kondisi pasar yang mulai matang, ketika sebagian besar konsumen telah memiliki perangkat dengan kemampuan dasar yang memadai dan tidak lagi merasa perlu mengganti ponsel dalam waktu singkat.

Di sisi lain, pengiriman ponsel lipat diproyeksikan melonjak 29,7 persen pada 2026. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kategori ini masih memiliki ruang ekspansi yang lebih besar dibandingkan segmen ponsel layar konvensional. Produsen berupaya memanfaatkan desain layar yang dapat dilipat untuk menawarkan pengalaman berbeda, seperti bidang tampilan yang lebih luas dalam bentuk perangkat yang tetap ringkas. Perkembangan teknologi engsel, ketahanan layar, serta peningkatan perangkat lunak juga dapat memperkuat daya tarik produk bagi konsumen dan pengguna profesional.

Dalam situasi ketika pasar smartphone menghadapi kejenuhan, ponsel lipat dipandang sebagai salah satu kategori penting bagi industri. Produk tersebut memberi peluang bagi produsen untuk menciptakan pembaruan yang lebih terlihat, sekaligus mendorong konsumen kelas atas melakukan peningkatan perangkat. Meski harga, daya tahan, dan ketersediaan aplikasi masih menjadi pertimbangan, pertumbuhan yang tinggi menandakan meningkatnya penerimaan terhadap faktor bentuk baru ini.

Nabila Popal menyatakan bahwa pertumbuhan tahunan kategori ponsel lipat pada 2026 diproyeksikan mendekati 30 persen. Angka itu meningkat signifikan dari patokan 6 persen yang digunakan dalam proyeksi sebelumnya. Revisi tersebut memperlihatkan bahwa prospek segmen ini dinilai lebih kuat daripada perkiraan awal. Namun, laju pertumbuhan tetap akan dipengaruhi oleh kemampuan produsen menekan biaya, memperluas distribusi, dan membuktikan bahwa ponsel lipat mampu memberikan manfaat praktis, bukan sekadar menawarkan desain yang berbeda.

Pertumbuhan ponsel lipat pada 2026 diperkirakan didorong oleh semakin beragamnya produk, peningkatan pengalaman penggunaan, serta masuknya pemain besar ke pasar global. Samsung disebut akan mengawali tahun dengan Galaxy Z Trifold, perangkat yang membawa konsep layar lipat tiga menuju konsumen arus utama. Kehadiran desain ini dapat memperluas pemahaman publik mengenai fungsi ponsel lipat, dari sekadar perangkat berlayar lebih besar menjadi alat yang menawarkan fleksibilitas penggunaan untuk produktivitas dan hiburan.

Galaxy Z Trifold juga berpotensi melanjutkan momentum yang dibangun Galaxy Z Fold7 pada 2025. Konsistensi peluncuran produk premium memberi Samsung kesempatan memperkuat ekosistem, menyempurnakan teknologi engsel, dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap daya tahan perangkat. Jika harga, ketebalan, serta ketersediaan produk dapat dikelola dengan baik, inovasi tersebut berpeluang mendorong pertumbuhan permintaan di luar basis pengguna awal.

Huawei turut diproyeksikan memainkan peran penting, terutama melalui perangkat lipat yang menggunakan sistem operasi HarmonyOS Next. Pengapalan ponsel lipat Huawei diperkirakan hampir berlipat ganda, didukung posisi kuat perusahaan di China dan pengembangan ekosistem perangkat lunaknya sendiri. Pertumbuhan ini dapat meningkatkan tekanan kompetitif terhadap Samsung sekaligus mempercepat inovasi pada desain, kamera, baterai, dan integrasi antardevice.

Faktor paling menentukan mungkin muncul pada akhir 2026, ketika Apple diperkirakan memasuki kategori ini melalui ponsel lipat pertamanya. Menurut Francisco Jeronimo, Apple dapat menjadi katalis adopsi produk baru di pasar mainstream karena perusahaan memiliki basis pengguna besar dan kemampuan membentuk tren konsumen. Walaupun ponsel lipat kemungkinan tetap menjadi segmen khusus dari sisi volume, nilainya bagi vendor dapat jauh lebih besar. Harga jual rata-rata perangkat ini diperkirakan mencapai sekitar tiga kali ponsel standar, sehingga kategori tersebut berpotensi menjadi sumber pertumbuhan pendapatan dan margin ketika pasar konvensional mengalami penurunan.

Prospek pasar ponsel lipat hingga 2029 terlihat lebih kuat dibandingkan perangkat konvensional. IDC memperkirakan kategori ini mencatat tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 17 persen sampai 2029, sedangkan ponsel konvensional diproyeksikan tumbuh kurang dari 1 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perangkat lipat masih memiliki ruang ekspansi, terutama karena teknologi, desain, dan pengalaman pengguna terus berkembang. Meski demikian, angka itu merupakan proyeksi, bukan hasil yang sudah pasti tercapai. Perubahan harga, ketersediaan komponen, strategi produsen, serta kondisi ekonomi global dapat memengaruhi realisasi pertumbuhan.

Perubahan perilaku konsumen akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah pasar. Pengguna kini cenderung mempertahankan smartphone lebih lama sebelum menggantinya, khususnya ketika perangkat yang dimiliki masih mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Situasi tersebut dapat memperpanjang siklus pembelian dan meningkatkan tekanan terhadap produsen. Agar konsumen bersedia membeli perangkat baru, perusahaan perlu menawarkan inovasi yang cukup kuat dan relevan, seperti daya tahan engsel yang lebih baik, baterai yang lebih awet, kamera yang kompetitif, perangkat lunak adaptif, serta manfaat produktivitas yang tidak mudah ditemukan pada ponsel biasa.

Dari sisi sistem operasi, Android diproyeksikan memimpin pasar ponsel lipat pada 2026 dengan pangsa 61 persen. Apple diperkirakan menyusul dengan 22 persen, sementara HarmonyOS Next berpotensi menguasai 17 persen. Peta tersebut memperlihatkan persaingan yang semakin beragam, dengan keunggulan masing-masing platform bergantung pada ekosistem aplikasi, integrasi perangkat, dukungan pengembang, dan jangkauan pasar. Namun, seluruh proyeksi pertumbuhan maupun pangsa sistem operasi masih dapat berubah seiring perkembangan industri, kebijakan perusahaan, penerimaan konsumen, serta kondisi pasar global. Karena itu, kinerja aktual ponsel lipat perlu dinilai secara berkala berdasarkan data penjualan dan perubahan perilaku pengguna.