Jakarta, Minggu, 19 Juli 2026 ā Peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli kembali menjadi ruang refleksi bagi kalangan jurnalis, akademisi, dan pegiat demokrasi. Bertempat di Kedai Tempo, Komunitas Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur, diskusi bertajuk “Media dan Demokrasi 30 Tahun Kudatuli dalam Catatan Wartawan: Refleksi Perjuangan Wartawan, Merekam Kebenaran, dan Menjaga Independensi” berlangsung sejak siang hingga sore dengan diikuti sekitar 40 peserta. Kegiatan diawali registrasi, pemutaran film dokumenter mengenai peristiwa 1996, kemudian dilanjutkan dengan forum diskusi dan sesi tanya jawab.
Sejumlah jurnalis senior dan pegiat pers hadir sebagai pembicara, di antaranya Widiarsih Agustina, Willy Pramudya, Wahyu Dhiyatmika, serta dipandu moderator Ari Junaedi dan Sukidi Mulyadi. Diskusi menyoroti perjalanan kebebasan pers selama tiga dekade terakhir sekaligus mengevaluasi tantangan yang masih dihadapi dunia jurnalistik dalam menjaga independensi di tengah dinamika politik dan kekuasaan.
Dalam pemaparannya, para narasumber mengulas pengalaman peliputan pada masa menjelang dan saat terjadinya Kudatuli 27 Juli 1996. Mereka menceritakan bagaimana ruang gerak media ketika itu berada di bawah pengawasan ketat, mulai dari pembatasan peliputan, pemeriksaan hasil pemberitaan, hingga tekanan terhadap redaksi. Pengalaman tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan kebebasan pers di Indonesia.
Selain membahas situasi masa lalu, forum juga mengangkat kondisi kebebasan pers pada era sekarang. Beberapa pembicara menilai bentuk tekanan terhadap media telah berubah mengikuti perkembangan teknologi. Ancaman intimidasi, serangan digital terhadap media daring, hingga berbagai bentuk intervensi terhadap pemberitaan disebut menjadi tantangan baru yang harus dihadapi insan pers dalam menjalankan fungsi kontrol sosial.
Diskusi juga menekankan pentingnya penerapan etika jurnalistik sebagai landasan utama profesi wartawan. Para pembicara mengingatkan bahwa akurasi, independensi, dan keberanian menyampaikan fakta harus tetap dijaga meskipun menghadapi tekanan dari berbagai pihak. Menurut mereka, kredibilitas media hanya dapat dipertahankan apabila proses peliputan dilakukan secara profesional sesuai prinsip-prinsip jurnalistik.
Pada sesi berikutnya, Sukidi Mulyadi mengajak peserta melihat Kudatuli sebagai pelajaran berharga dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Ia menilai berbagai bentuk pembungkaman terhadap suara kritis tidak boleh diabaikan karena dapat mengancam kehidupan demokrasi. Peserta yang hadir kemudian memanfaatkan sesi tanya jawab untuk mendiskusikan berbagai aspek sejarah Kudatuli, perkembangan kebebasan pers, hingga tantangan demokrasi di Indonesia saat ini.
Kegiatan berakhir sekitar pukul 16.15 WIB dalam suasana tertib dan kondusif. Secara umum, diskusi tersebut menjadi momentum refleksi atas peristiwa Kudatuli 1996 sekaligus membuka ruang dialog mengenai kondisi kebebasan pers masa kini. Para peserta berharap semangat menjaga independensi media dan keberanian menyampaikan kebenaran tetap menjadi fondasi utama dalam kehidupan demokrasi Indonesia.
Pewarta: Abdul Latif
- Ketua Dewan Pembina IMI Pusat Bamsoet Apresiasi Java Drag Record Series 2026 di D.I Yogyakarta, Dorong Perbanyak Kejuaraan Balap Daerah dan Nasional
- DKI Jakarta Juara Umum Asah Keterampilan PERIKHSA ke-5 Tahun 2026, Bamsoet Harap Perkuat Profesionalisme dan Semangat Bela Negara
- Runtuhkan Sekat: Silaturahmi Hangat Satgas TMMD 129 Bojonegoro Sukses Bangun Kedekatan Dengan Masyarakat





Respon (4)